Tradisi Bersih Makam Langgengkan Kebersamaan

54431 medium post 60567 8d83e405 0d00 40e6 9a73 c18ef31e6802 2019 03 19t11 42 43.055 07 00 54432 medium post 60567 5e940ee9 d38d 43ad 9fbd 54ec00134392 2019 03 19t11 44 55.797 07 00
MENJELANG Ramadan, atau pada bulan Rajab masyarakat yang tinggal di Yogyakarta khususnya wilayah Kulon Progo tak lupa akan pergi ke makam leluhur mereka untuk membersihkan makam/mencabuti rumput liar di sekitar batu nisan atau kijing (bahasa jawa). Tradisi ini disebut dengan Bebersih Kuburan.
Tradisi membersihkan makam leluhur ini biasanya dllaksanakan antara tanggal 15, 20, dan 23 bulan Rajab.
Dalam bebersih kubur, atau makam biasanya dilakukan pada pagi hari. Kemudian masyarakat atau warga Dusun (kaum laki-laki) akan menggelar Genduri Bersama. Mereka akan membawa makanan. Makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti apem, ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, perkedel, tempe dan tahu bacem, dan lain sebagainya.
Lalu dibawa kerumah kepala adat. Selanjutnya dari makanan yang telah dikumpulkan itu akan di doakan oleh Tetua Adat. Usai berdoa, makanan akan disantap bersama sebagai wujud kebersamaan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia keselamatan dan keberkahan yang mereka terima selama satu tahun.
Tanpa memandang perbedaan apapun.
Sebagai puncak acara tradisi Bersih Makam akan diadakan Bersih Dusun. Dan pada malam harinya akan digelar pentas seni Wayang Kulit semalam suntuk oleh seniman-seniwati desa sebagai ungkapan kegembiraan mereka.
Salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi ini adalah Dusun Prangkokan Desa Purwosari Kecamatan Girimulyo Kabupaten Kulon Progo.
Di sini, Bersih Dusun dan Bebersih Makam dilangsungkan dengan meriah. Semua masyarakat tanpa terkecuali menyelenggarakan semacam open house dan menjamu siapapun yang bertandang ke rumahnya. Mereka yang hadir tidak hanya datang dari desa setempat.
Beberapa diantaranya bahkan ada yang datang dari luar desa karena undangan khusus. Penulis juga pernah merasakan jamuan tersebut karena kebetulan ada saudara di sana.
Bak pesta besar, pada malam pagelaran wayang kulit itu warga laki-laki, perempuan maupun anak-anak dari dusun dan desa tetangga akan diundang untuk menyaksikan pagelaran seni tersebut. serta sebagai ajang silahturahmi dengan keluarga dari wilayah lain. #Prangkokan
Sudah dilihat 74 kali

Komentar