SAVE OUR CHILD

32348 medium fb img 15349214774459255
Kata seorang sahabat yang sering menasehatiku tentang aspek rohani, anak adalah "deposito" bagi orang tua. Satu catatan penting yang mengiringi nasehat itu adalah jika anak diajari dan dibekali dengan ilmu yang baik dan manfaat selama hidup. Bekal ilmu yang positif itu dapat diperoleh dari siapa saja, di mana saja dengan melalui berbagai cara pada beraneka ragam kondisi. Itu lah ilmu, tidak terbatas pada ruang dan waktu tetapi ia juga tidak bebas nilai. Dengan bekal ilmu, banyak hal yang dapat diharapkan dari anak termasuk kemampuan anak agar tetap survive dan bermanfaat bagi sesama.

Seorang teman yang konsen dalam pendidikan menyampaikan bahwa anak adalah asset bangsa. Ia adalah generasi penerus para generasi "afkir" yang ada saat ini. Idealnya, generasi penerus harus lebih berkualitas dari generasi sebelumnya. Terlebih saat ini, dimana dunia sedang dihadapkan pada terbukanya gerbang era industri 4.0 yang menuntut maksimalnya kompetensi dan kapasitas yang harus dimiliki generasi dalam kompleksnya ruang kehidupan. Alhasil, stagnan-nya perkembangan kualitas generasi pada satu masa jelas akan membuat negeri itu mengalami fenomena lost generation. Jangan sampai Indonesia mengalaminya.

Senada dengan itu, pada suatu diskusi seorang jiran yg berprofesi sebagai psikolog pernah saya dengar menyampaikan bahwa anak adalah representasi dari pola asuh yang diterapkan oleh keluarga. Ia adalah kertas putih. Tergantung orang tua mau menulisnya dengan tinta hitam atau putih. Mau menulisnya dengan rangkaian diksi yang indah atau hanya coretan tak beraturan. Apa yang dilakukan orang tua diyakini akan tercermin pada perilaku anak.Yaaa...saya pikir ada benarnya juga. Bukankah external environment of education berpengaruh dalam pembentukan karakter anak, tidak ubahnya dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh internal environment-nya.

Aaah...jadi bengong sendiri. Pada pundak kecil seorang anak ternyata tertata dengan manis sekian beban berat yang akan terus dituntut pemenuhannya oleh para orang dewasa. Tuntutan ini akan terus "dipaksakan" dengan berbagai dalih, tak jarang mereka menjadi abai pada kondisi kesiapan anak baik secara fisik maupun psykologis.

Jika benar anak adalah deposito orang tua, anak adalah asset bangsa dan kita akui bahwa anak adalah representasi orang tua. Tidak keliru kiranya agar sejak dini anak dibimbing dan ditemani untuk memahami dunia yang sesungguhnya. Dunia di mana mereka akan jejakkan kaki sepanjang hidup. Satu yang tidak boleh dilupakan adalah masukilah dunia mereka. Tidak mungkin kita dapat membimbing mereka tanpa memasuki dunianya.

MARI JAGA GENERASI

Berubah bersama AtmaGo
Wujudkan upaya "warga membantu warga"
Sudah dilihat 81 kali

Komentar

  • 10240 new thumb pt2018 07 03 21 36 23

    Kembali saya torehkan dengan semangat rangkaian diksi indah sang maestro puisi pendidikan Dorothy Law Nolthe. Bahwa....Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan....
    Mari bimbing mereka dengan hati
    Insya Allah kau akan dapatkan hatinya
    Bukankah pendidik itu profesi yang dijalani karena pilihan hati ?!?! ....

  • 11211 new thumb user 11211 8027d6e9 04a1 4572 9027 279abe430f4a 2018 09 23t16 57 24.781 08 00

    Selamat datang di duniaku...
    Yah...itulah kalimat yang terbaca dari tatap polos mata si buah hati,
    Dunianya...ya...dunia mereka, bukan dunia kita, tentu sangat jauh berbeda antara dunia mereka dan dunia kita, jadi jangan paksakan anak NYAMAN berada didunia kita, karenan jelas mereka bukan miniatur org dewasa...
    Mari masuki dunia mereka, dunia penuh cinta yang jauh dari kepura-puraan, mari bawa segudang cinta untuk mereka, sebagaimana kita ingin dibawakan cinta, kelak ketika kita sudah renta, atau mungkin berada di bawah tanah...