ROLE MODEL

20 December 2018, 13:29 WIB
4 0 100
Gambar untuk ROLE MODEL
Role model bisa kita artikan sebagai seseorang yang patut kita jadikan contoh atau bisa disebut panutan. Patutnya itu karena ia memiliki kelebihan atau kesuksesan yang kita juga inginkan. Sejatinya seorang Role Model itu penting ada di lingkungan kita, karena ia bisa menjadi motivator ataupun mentor meski tidak secara langsung.

Lalu bagaimana dengan Role Model di hadapan anak usia dini? Tentu itu menjadi sesuatu yang sangat sensitif, mengingat anak usia dini belum mampu untuk memilih dan memilah siapa yang patut ia jadikan Role Model dalam kehidupannya. Semua orang dewasa yang berada di lingkungannya, punya peluang besar untuk menjadi Role Model bagi si anak, terutama jika orang dewasa tersebut adalah orang yang memiliki waktu berinteraksi terlama dengan si anak. Maka bisa dikatakan bahwa anak adalah miniatur orang-orang dewasa di sekitarnya.

Kaitannya dengan Role Model bagi anak usia dini, pengalamanku sebagai pendidik PAUD cukup menjadi bukti bahwa kita memang harus ekstra hati-hati dalam berinteraksi dengan anak, karena ucapan dan tingkah laku kita bisa saja ia jadikan sebagai referensi, bahkan cerita-cerita kita tentang suatu hal yang mengagumkan dihadapan anak, bisa menjadi sebuah harapan dan cita-cita masa depan bagi anak, tanpa mereka telaah terlebih dahulu.

Seperti kisahku kali ini,
Irang (bukan nama sebenarnya), nama lengkapnya Wirangtake Wijaye. Nama ini menggambarkan sosok anak lelaki hebat yang berasal dari keluarga yang masih kental adat istiadat suku sasaknya

Hari itu pemebelajaran tematik di kelas, tentang Pekerjaan dengan sub tema Macam-macam Pekerjaan. Pada kegiatan mengamati dan mengkomunikasikan, kusuguhkan gambar macam-macam profesi dan video kartun tentang beraneka profesi. Pada waktu transisi, aku meminta anak-anak satu persatu maju kedepan kelas untuk menceritakan tentang profesi apa yang dicita-citakannya jika sudah dewasa kelak.

Woww…mereka berebutan untuk maju lebih dulu, seakan akan cita-citanyalah yang paling hebat di antara yang lainnya.
“ Aku mau jadi dokter bu guru, kalau ada yang sakit bisa berobat ketempatku, kalau tidak punya uang untuk bayar, boleh gratis kok”. (Wah baik sekali kau nak).
“Aku mau jadi guru, nanti aku ajari teman-teman biar jadi pintar, kalau ada yang belum pintar, aku ajari lagi, tetap sabar biar disayang oleh semua”. (Wah sepertinya ini hasil observasimu pada kami, cerdas kau nak).
“aku mau jadi polisi saja bu guru, nanti kalau bu guru pulang sekolah, terus ramai di perempatan depan itu, bu guru bisa telfon aku, biar bisa bantu nyebrangin”. (Aduh kamu tau darimana kalau ibu memang paling penakut di jalan raya).

Luar baisa, hampir semua profesi yang sudah diamati, menjadi inspirasi mereka pada ceritanya hari ini. Mereka sangat senang ketika aku memberikan apresiasi untuk mewujudkan cita-cita mereka. Wow…memang kalian adalah rihlah indah bagiku.

Aduh…rupanya ada salah satu anak yang dari tadi kelihatan ingin sekali maju ke depan untuk bercerita, tetapi selalu didahalului teman yang lain. Aku persilahkan Irang untuk maju.
“Kalau aku sudah besar nanti, aku mau jadi maling”,
Aah…aku benar-benar kaget, apa apaan kamu nak, tapi kubiarkan dia terus melanjutkan ceritanya tentang “profesi hitam” yang menjadi cita-citanya. Teman-temannya ribut mengomentari, karena apersepsi mereka tentang “maling” itu serba tidak baik.

Begitu selesai cerita singkatnya, irang kupersilahkan kembali ketempat duduknya, aku menghela napas, menenangkan gemuruh di dada, berdo’a supaya Allah berikan kekuatan.

Aku mencoba membangun komunikasi dengan anak-anak termasuk irang, aku memilih metode bercerita. Aku mulai menanamkan nilai-nilai lewat cerita tentang sosok “maling”, tentang ajaran agama yang tidak membenarkannya, tentang hukum sosial yang menentangnya dan terakhir tentang kisah hidup “maling” yang yang harus berakhir di dalam penjara atau bisa juga mati tertembak di tangan aparat.

Di akahir cerita, kuajukan pertanyaan, “ hayooo…ada yang mau seperti itu ?”
“ aku ndak mau bu guru”, kompak mereka berteriak menjawab.
Lalu bagaimana dengan anakku yang satu itu “irang”,
“ irang tadi salah ngomong ya nak, tadi cerita cita-citanya mau jadi maling, karena tadi irang belum paham, maling itu apa”. Aku berharap dia merespon kata-kataku, berharap dia mengoreksi ceritanya tadi, setelah aku memberikan pemahaman tentang “maling”. Dia masih diam, sama seperti tadi waktu aku bercerita panjang lebar tentang “maling”, dan di sambut respon teman-temannya yang sedikit gaduh.

Kuulangi lagi pertanyaanku dengan lebih lembut, “irang besok mau jadi apa? Jadi petani hebat aja irang ya, yang hasil panennya melimpah, karena petaninya pintar, atau irang jadi pembuat alat-alat pertanian modern saja, seperti yang kita lihat di video tadi itu”, masih diam.

Bel makan siang menghentikan monologku dengan irang, aku berpikir perlu pendekatan yang lebih intensif untuk anakku yang satu ini. Anak yang menurutku punya tingkat kecerdasan yang cukup tinggi. Buktinya kalau sehari-hari aku menyuguhkan alat main pada kegiatan inti, dia selalu punya ide baru untuk memainkannya. Dia sering memainkannya dengan cara yang berbeda dengan yang dicontohkan. Kemampuan bahasanya juga tergolong baik, terlihat sekali ketika dia menceritakan tentang gambar yang dia buat sendiri. Tapi ceritanya tentang “profesi hitam” yang diinginkannya kelak setelah dewasa, cukup membuat dadaku sesak.

Pada jam bermain diluar kelas, aku lihat irang sedang sibuk sendiri dengan mainan kuda-kudaan kesukaanya. Tak kusia-siakan kesempatan ini. Aku dekati dia, ku sapa hangat, ku mulai mengajaknya ngobrol santai tentang mainan kesukaanya. Alhamdulillah dia meresponnya dengan baik, obrolan kami sampai ke topik lingkungan keluarga, aku memancingnya dengan pertanyaan tentang orang-orang dilingkungan keluarganya. Aku berharap dari sini aku bisa mendapat jawaban tentang alasan kenapa Irang punya cita-cita menjadi maling.

Hasil bincang-bincangku dengan irang siang ini sungguh membuatku terkejut, irang bercerita tentang kakeknya yang setiap malam menceritakan tentang sosok maling yang “hebat”, yang keberadaanya tidak pernah bisa tercium oleh aparat, sehebat apapun tim buru sergap (buser) mencarinya. Juga tentang ilmu kekebalan tubuh yang menjadikannya “sakti”, walaupun di pukul dengan benda tajam ketika tertangkap basah melakukan aksi dan akhirnya berhasil meloloskan diri dari kejaran massa.

Ku coba meredakan gemuruh didada, mencoba tetap tersenyum padanya dan kembali ku tanamkan nilai-nilai agama dengan kalimat-kalimat yang kurangkai semampuku, dengan kesabaran yang berusaha kulipat gandakan, dengan untaian do’a di dalam hati, agar Tuhan menolongku pada saat-saat yang kurasa sulit ini.

Akhir dialog kami, hasilnya masih sama, aku mencoba merubah pola pikirnya, tapi sepertinya aku mencoba memperbaiki sebuah lukisan yang hampir selesai, lukisan dengan warna gelap, hitam. Lalu bagaimana aku akan merubah warnanya agar menjadi cerah, sedangkan aku tidak punya alat yang cukup bagus, toh kalau aku bisa menuangkan tinta yang berbeda yang warnanya terang, bekas tinta hitam akan tetap ada.

Tiga hari setelah kegiatan bercerita tentang cita-cita didepan kelas, aku termangu memandang anak-anakku yang bermain di taman depan kelas, berlari-larian, tertawa-tawa, diselingi tangis dan berantem, inilah pemandangan rutin tetapi tetap membuatku merasa berarti.

Irang, kulihat dia berada ditengah-tengah mereka, aku teringat cerita temanku, sengaja aku mencari informasi tentang latar belakang keluarga irang dari beliau, karena beliau tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah Irang, masih satu kampung.

Irang adalah cucu kesayangan kakeknya, Irang sangat dekat dengan kakek karena Irang memang dibesarkan oleh sang kakek. Bapaknya yang bekerja menjadi TKI di Malaysia tidak bisa mengasuh anaknya sejak masih bayi, ibunya tidak punya waktu yang cukup untuk Irang, karena Irang keburu punya adek lagi. Jadilah Irang dilukis, diwarnai oleh kakeknya, yang menurut temanku itu mempunyai masa lalu yang tidak bisa dibilang baik.

Kebiasaan kakeknya keluar malam (istilah untuk orang yang mengerjakan hal-hal yang negatif, seperti mencuri, mabok-mabokan), dia hentikan setelah tua renta dan tidak punya tenaga yang cukup lagi.

Lalu, bagaimana Ibu bisa merubah pola pikirmu nak, ibu hanya punya waktu tiga jam dalam sehari, bertemu di sekolah saja, sedangkan kakekmu bisa duapuluh satu jam menemanimu, melukismu dengan gambar-gambar kesukaannya, menghapus coretan-coretan terang ibu yang tiga jam susah payah ibu rangkai.

Tidak ada yang bisa Ibu lakukan lagi, selain terus berusaha melukismu dengan warna terang di atas warna gelap yang hampir menutupimu, dan tak lupa Ibu memohon pertolongan dari Allah yang Maha Hebat untuk menguatkan tangan Ibu, dan melapangkan dada Ibu.

Akhir kata, wahai para orang tua, juga orang-orang dewasa yang berada di lingkungan anak-anak, perdengarkan dan perlihatkan hal-hal yang baik pada anak-anak kita. Salah satu dari kita akan mereka pilih untuk menjadi Role Model bagi mereka dan apapun yang dia dengar dan dia lihat akan berpengaruh besar pada pembentukan pola pikir dan perilakunya kelak.

  Komentar untuk ROLE MODEL

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!