Review Buku: Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa, Melihat Desa Lebih Dekat

20 March 2019, 16:11
6 0 133
Gambar untuk Review Buku: Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa, Melihat Desa Lebih Dekat
Judul Buku: Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa, Melihat Desa dari Dekat
Pengarang: Nurhady Sirimorok
Penerbit: EA Books
Tahun Terbit: 2018
Tebal Buku: 168 halaman
ISBN: 978-602-51695-4-0

Penulis buku ini adalah pemuda cetakan Orde Baru sehingga perjalanan sekaligus penelitiannya dibayang-bayangi oleh kebijakan Orde Baru tersebut. Saya belajar, dan sedikit banyak mengetahui seperti apa 'peninggalan' Orde Baru itu lewat buku ini, dan tidak menutup kemungkinan pembaca lain yang satu generasi dengan saya pun akan mendapatkan hal yang sama.

Menurut saya, buku ini perlu dibaca orang kota dan orang desa. Semuanya, karena sekarang kota dan desa tidak terpaut jauh perbedaannya. Jika boleh saya katakan, buku ini dapat memperbarui cara masyarakat keduanya 'bagaimana melihat dan menilai satu sama lain' selain sebagai sebuah perenungan (terutama untuk masyarakat desa). Peran pemerintah terhadap desa juga dikritisi dengan menawarkan solusi, bukan dihakimi.

Ya, buku ini adalah sebuah catatan perjalanan. Sebuah catatan perjalanan penulis di desa-desa di Sulawesi. Masalah-masalah desa yang diceritakan bukan semata-mata terbatasi karena lingkup geografisnya sehingga tidak bisa dijadikan penelaahan untuk desa di luar Sulawesi. Suatu fenomena di suatu daerah selalu dapat menjelaskan fenomena lain di daerah lain. Meskipun berbeda detail masalahnya, secara garis besarnya selalu ada kemiripan.

Seorang petani bahkan pernah mengeluh dalam bahasa daerah yang kira-kira terjemahan bebasnya adalah: "Orang kota itu selalu memandang kami kotor karena selalu terlihat berlumpur. Padahal mereka tidak menyadari bahwa makanan yang mereka makan itu ada karena kami berkubang dengan tanah." (hal. 56)

Seorang ibu, misalnya, menghela napas kesal melihat anak gadisnya tak becus melakukan tugas sederhana seperti menebas daun pisang di kebun dekat rumahnya. (hal. 71)

Urbanisasi, rupanya, tak mesti mengalirnya orang dari desa ke kota-kota. Namun, bisa juga berupa mengalirnya gagasan, informasi dan barang-barang pabrikan dari kota ke desa-desa. Orang desa tidak harus ke kota untuk mengkonsumsi semua yang datang dari kota. (hal. 68)

Desa mawa cara, negara mawa tata.

4,5 * untuk buku ini.

  Komentar untuk Review Buku: Catatan Perjalanan tentang Satu Bahasa, Melihat Desa Lebih Dekat

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!