Refleksi Merti Desa Kebonharjo 2019

57261 medium post 63235 70cb02ec e778 4cd1 8d31 2aca690bd7cc 2019 04 06t21 35 45.651 07 00 57305 medium post 63235 a636ef5b 4e64 481e bbe3 eb6ad07fd6e2 2019 04 07t08 31 31.661 07 00
Anglaras ilining bayu angeli anaing tan keli

Amerti bumi, anglaras hangabehi

Rinengkuh pujaning leluhur kasembadan berkahing pangeran

Bebrayan mbagun deso

Merupakan runtutan tema budaya dalam kegiatan Merti Desa atau Bersih Desa yang diselenggarakan Pemerintah Desa Kebonharjo, Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulon Progo sejak tahun 2016 - 2019. Momentum upacara adat menjadi media budi dan daya manusia (kebudayaan) untuk menggelorakan kebijakan desa.

Pada tahun 2015-2016 Pemerintah Desa dan warga masyarakat melakukan musyawarah menyusun rancangan desa sebagai pijakan arah 6 tahun mendatang, yang dikenal sebagai RPJM Desa (Rencana Pembangunan Jangka Menengah). Dokumen yang memerlukan analisa data desa dan informasi yang komprenhensif guna menyelaraskan visi misi kepala desa, usulan dari hasil rembug warga dan perencanaan dari pemerintah kabupaten ataupun daerah, terutama pada perubahan tata ruang di Kabupaten Kulon Progo dengan Pembangunan Bandara New Yogyakarta Internasional Air Port (NYIA) dan Bedah Menoreh sebagai jalur penghubung dengan Candi Bobodur yang beririsan dengan wilayah desa. Memerlukan pemikiran yang mendalam agar perubahan tersebut mampu menjadikan warga sebagai pelaku utama. Anglaras ilining banyu, angeli ananing tan keli adalah pepatah jawa yang telah membumi di warga jawa, diangkat menjadi tema gerakan budaya pada tahun 2016. Dengan harapan mampu Menyesuaikan diri dengan mengalirnya air tetapi tidak terbawa arus begitulah artinya, merupakan sikap antisipatif dan inovasi dalam menghadapi perkembangan dunia seperti yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga. (Kompasiana)

Pada tahun kedua semakin meneguhkan kebijakan mendasar dalam wujud konsep konservasi kawasan. Amerti Bumi, anglaras anghabehi, artinya senantiasa menjaga bumi untuk membentuk harmony alam, konsensus spiritual menempatkan bumi dan segala yang ada didalamnya dan diatasnya harus dimemerti atau dijaga (konservasi). Desa Kebonharjo menjadi bagian dari perbukitan Menoreh merupakan pegunungan vulkanik dan krast yang subur, yang mampu menjadi penahan air secara natural sebagai pendukung kawasan lainnya. Merupakan ruang dimana vegetasi dan satwa exist berkembang, juga budaya pertanian, arsitektur, filosofi, spiritual, nilai kehidupan, pengetahuan politik, seni, hukum dan semangat nusantara masih terjaga. Kesemuanya merupakan aset yang tak terkira nilanya untuk dikembangkan dalam berbagai produk dan bisnis pariwisata. Perkembangan teknologi bukan lagi menjadi pemusnah akan tetapi menjadi instrumen meng-global-kan budaya menoreh, menjadi bagian dari peradaban dunia dalam gerakan pembangunan yang berkelanjutan (sustain development). Kebudayaan Menoreh tidak terpungkiri sebagai kebudayaan yang matang dalam rentang sejarah waktu cukup yang lama. Semenjak Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kolonial Belanda dan Jepang, Kemerdekaan RI, Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi, tetap menjadikan desa sebagai sebuah kesatuan wilayah yang kokoh dan mandiri karena kemampuan adaptasinya.

Di tahun ketiga, rencana-rencana desa mulai terwujudkan, tumbuhnya berbagai kegiatan seni budaya, pengembangan usaha pertanian dan infrastruktur pendukungnya, peningkatan kualitas hunian warga (rumah sehat dan Jambanisasi), pembangunan jalur bedah menoreh, pembangunan jalan desa pendukung ekonomi warga, kesiapsiagaan bencana, tata kelola pemerintahan yang baik, unit usaha desa yang berkembang dan lain lain.
Terwujudnya rencana tersebut tidak lepas dari gagasan dan ide dari para pendahulu desa yang dilanjutkan pada pemerintahan saat ini. Keyakinan kami, menempatkan arah pembangunan dalam rel yang berkelanjutan dari para pendahulu. Mereka dalam budaya desa adalah sosok yang dihormati sepanjang masa, agar mereka senatiasa hidup bersama kami dalam wujud ide ide bijaknya dan agar kami bangga atas leluhur dan jatidiri. Tema budaya pada tahun 2018 adalah Rinengkuh pujaning leluhur, kasembadan berkahing Pangeran atau dijaga oleh harapan leluhur dan terwujudkan atas karunia dari Tuhan.

Pembanguan desa yang telah dilaksanakan telah menghasilkan ribuan meter jalan, ratusan kegiatan kemasyarakatan ratusan rumah dan lain lain. Hasil tersebut bukan sekedar dana sebagai penentunya, akan tetapi didukung oleh nilai dan rasa persaudaraan atau bebrayan yang masih berkembang di wilayah Desa Kebonharjo. Ikatan persaudaraan yang selalu dipupuk dalam berbagai bentuk seperti upacara adat, takziah, kegiatan keagamaan, gotong royong/sambatan, nyumbang (menghadiri pesta pernikahan) dan lain-lain. Kesemuanya telah membentuk modal sosial untuk mecapai pembangunan yang maksimal. Seperti yang diungkapkan
Bourdieu (1986) mendefinisikan modal sosial sebagai sumber daya yang dimiliki seseorang ataupun sekelompok orang dengan memanfaatkan jaringan, atau hubungan yang terlembaga dan ada saling mengakui antar anggota yang terlibat di dalamnya.(alisadikinwear.wordpress.com)
Pesatnya pembangunan yang berlangsung tidak lepas dari partisipasi warga, lembaga masyarakat dan pamong desa yang bekerja maksimal. Inilah yang melatarbelakangi tema kebudyaan peringatan Merti Desa yang dilaksankan pada Hari Selasa Pahing tanggal 2 April 2019, Bebrayan mbangun desa yang artinya persaudaraan dalam membangun desa. Dengan harapan tercapainya Kebonharjo Baru yang maju dan makmur menjadi lebih nyata dihadapan kita bersama dengan bertumpu pada budaya kita sendiri.

Ditulis oleh:
Rohmad Ahmadi
Kepala Desa Kebonharjo

Diterbitkan di berbagai portal berita on line dan media sosial

Referensi:
http://thr.kompasiana.com/aamirdarwis/5b090dadab12ae25d90c9912/mengenal-dakwah-sunan-kalijaga-anglaras-ilining-banyu-angeli-nanging-ora-keli

Bourdieu (1986) dalam://www.google.com/amp/s/alisadikinwear.wordpress.com/2012/05/20/modal-sosial-dan-pembangunan-ekonomi-regional/amp/
Sudah dilihat 66 kali

Komentar