Puluhan Warga Gelar Aksi Damai Tuntut Pembongkaran Bangunan Villa yang Gunakan Bantaran Sungai dan Diduga Tidak Berizin

23459 medium demo imb villa 1 23460 medium demo imb villa 2 23461 medium demo imb villa 3
AtmaGo, Tuntang -- Puluhan warga RW 5 Dusun Karang Nongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang gelar aksi damai meminta Pemerintah Kabupaten Semarang membongkar bangunan Villa Intara yang diduga tidak mempunyai Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan didirikan diatas bantaran sungai Kali Kerok, Jumat (30/3).

Pada saat melakukan aksi damai, sebagian warga RW 5 membawa poster yang bertuliskan "Bongkar!! Bangunan tidak berijin dan menyalahi aturan", serta poster lain bertuliskan "Warga RW 5 Menolak Keras Pembangunan yang Tidak Ramah Lingkungan".

Kades Gedangan, Daroji menyampaikan bahwa awal mula protes warga bermula dari pendirian bangunan oleh pengembang Villa Intara tidak mengindahkan permohonan warga untuk tidak menggunakan bantaran sungai Kali Kerok sebagai prasyarat warga menyetujui izin pembangunan Villa Intara.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Daroji, saat ini warga berharap Pemerintah Kabupaten Semarang menertibkan bangunan perumahan Villa Intara yang menggunakan bantaran sungai. Warga tidak menghalangi pembangunan bila hak sungai dikembalikan seperti sedia kala.

Pada saat bersamaan pengembang/pemilik lahan dan bangunan Villa Intara, Azis warga Cabean Kota Salatiga, datang dan menjelaskan tentang status kepemilikan dan luas lahan miliknya serta menyatakan bahwa dirinya telah memperoleh izin untuk lahannya dijadikan pemukiman oleh Pemerintah Kabupaten Semarang.

Salah seorang warga yang enggan disebut namanya dan telah berdomisili di sekitar Villa Intara, menyatakan bahwa dengan adanya pembangunan Villa Intara yang menjorok ke sungai, membuat arus air saat penghujan berubah arah ke tanah di sebrang bangunan dan menggerus tepi tanah warga tersebut. Dia juga menyampaikan sejak masih kecil sungai sudah ada dan dulu dialiri air secara terus menerus dan oleh warga disebut Kali Kerok, dan bukan buatan manusia.

Warga tersebut juga mengatakan bahwa pengembang/pemilik lahan telah diingatkan namun tidak pernah mengindahkan sehingga warga akhirnya bungkam.

Secara terpisah seorang warga RT 02 RW 5 Widodo (55) yang kebetulan memiliki lahan satu blok dengan lahan Vila Intara, mempertanyakan status sertifikat tanah jika memang benar bisa dijadikan kawasan pemukiman kepada Pemerintah Kabupaten Semarang. Menurutnya dirinya sama - sama pernah mengurus perubahan status dari kawasan pertanian ke pemukiman tapi tidak berhasil.

"Kalau ada permainan saya tidak tau, karena saya yang sama - sama mempunyai lahan di area ini tidak berhasil merubah status tanah untuk area pemukiman, kalau ini bisa saya justru mempertanyakan Pemerintah Kabupaten Semarang?" ujar Widodo.
Sudah dilihat 62 kali

Komentar