Potret Penjual Garam Talise : Asa Tak Pernah Padam

62144 medium post 67489 f99d452f 8d18 4485 87f5 97ebb25d4d63 2019 05 25t21 35 07.463 08 00 62145 medium post 67489 2d3246a5 6a72 4500 a811 5beb7406dce6 2019 05 25t21 35 08.921 08 00 62147 medium post 67489 c7062526 1e35 4d05 91d8 c29813382dda 2019 05 25t21 35 11.932 08 00 62146 medium post 67489 53d4bcf3 e7cd 4d31 99f0 2da24f3b9a2c 2019 05 25t21 35 10.421 08 00
Banyak petani tambak garam yang mengalami langsung sedihnya dihempas tsunami tahun 2018. Sekitar 18 hektar tambak rusak dan sebagian petani tercatat sebagai korban jiwa.

Kini garam yang dijual, dijajakan depan lapangan abadi, kel. Mantikulore dengan harga 15 ribu/gayung ukuran besar, dan 10 ribu untuk gayung ukuran sedang.

Ditengah massifnya garam impor dan domestik, asa garam lokal Talise terus dipertahankan, mungkin saja karena hanya itu pekerjaan dan rutinitas, tapi lebih dari pandangan orang, mereka sesungguhnya sedang mempertahankan kearifan lokal yang sudah turun temurun terus dipelihara sebagai petani tambak.
Sudah dilihat 50 kali

Komentar