POLEMIK BIL NTB: PERANG AKSI

32360 medium fb img 15362805311909483
Hari Jum'at kemarin (tanggal 7 September 2018) pagi-pagi saya harus berangkat ke bandara yang selama ini akrab kami sebut BIL (Bandara Internasional Lombok) untuk menjemput pimpinan program kami, bapak Fakhrulsyah Mega. Menjelang sampai lokasi, terlihat masyarakat tumpah ruah sampai jalanan dengan beberan begitu banyak spanduk bertajuk Menolak Penggantian Nama Bandara. Masyarakat yang berkumpul seluruhnya merupakan warga Kabupaten Lombok Tengah dari berbagai elemen. Dari pihak pemerintah daerah hingga masyarakat umum. Dari pejabat (bupati) hingga petani. Pada akhir aksi, warga menyematkan cap jempol darah pada bentangan kain putih yang disediakan panitia. Hal yang baru pertama kali dilakukan secara kompak oleh berbagai elemen di Lombok Tengah.

Ya...beberapa waktu lalu memang terbit surat bahwa Bandara Internasional Lombok yang berlokasi di Desa Tanak Awu Kabupaten Lombok Tengah namanya akan diganti menjadi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM). Penggantian nama inilah yang menjadi dasar utama aksi yang dilakukan warga Kabupaten Lombok Tengah. Keberatan didasarkan lebih kepada prosedur penggantian nama yang tidak sesuai. Terkesan mengabaikan Lombok Tengah.

Zainuddin Abdul Madjid adalah sosok kharismatik untuk keseluruhan warga Nusa Tenggara Barat, bahkan Indonesia secara umum. Beliau seorang pendidi pondok pesantren besar di Kabupaten Lombok Timur (Nahdlatul Wathan). Beberapa waktu lalu, pemerintah pusat menyematkan gelar Pahlawan Nasional padanya. Di sisi lain, pada garis keturunan beliau adalah orangtua dari TGB (Tuan Guru Bajang/gubernur NTB) dan juga Siti Rohmi Djalillah (Wakil Gubernur NTB terpilih). Garis trah ini juga menjadi salah satu isu yang diperdebatkan.

Hari ini (tanggal 9 September 2018) saya menerima untaian pesan dan file di whatsapp group tentang permintaan ijin dari Pimpinan Nahdlatul Wathan untuk menyelenggarakan syukuran atas pergantian nama bandara di masjid yang berlokasi di areal BIL.Kegiatan dimaksud akan dilaksanakan pada esok harinya (Senin, tanggal 10 September 2018).

Sungguh, saya agak terkejut. Dalam pikir sederhana saya, kenapa aksi dibalas aksi yaa?! Benar, bahwa ini aksi yang berbeda tetapi kesannya sangat tidak familiar. Kenapa tidak memfasilitasi penyelesaian masalah terlebih dahulu, setelah itu baru melakukan kegiatan serupa. Bukankah dengan praktik seperti ini justru akan memperburuk citra pemerintah, membangun ruang distrust lebih dalam lagi. Seharusnya disadari bahwa kesadaran kritis warga sudah terbentuk dengan baik.

Dalam perspektif lain, masyarakat menilai bahwa pemerintah hadir tidak sepenuhnya untuk masyarakat. Korban bencana alam saat ini sedang jatuh bangun memperbaiki kondisi mereka dengan kemampuan seadanya. Mutlak, masyarakat sangat membutuhkan hadirnya pemerintah dalam berbagi representasi. Eh, malah pemerintah sedang sibuk "perang" tentang nama bandara. Sangat tidak elegan....!!!

Mari berubah bersama AtmaGo
Wujudkan upaya "warga membantu warga"
Sudah dilihat 75 kali

Komentar