Petani Di Babelan Kesulitan Mendapat Air Irigasi Sawahnya

Header illustration
Dari sekitar 2500 hektar lahan pertanian di wilayah Kecamatan Babelan diprediksi hanya sebagian yang bisa digarap dan diolah petani.

Sebagian dari lahan tersebut sangat minim air, sedangkan sisanya kekeringan, akibat ketiadaan pasokan air untuk mengairi sawah hingga mengakibatkan tanah sawah pecah-pecah dan retak.

“Saat ini sebagian petani di Babelan mengeluh lantaran merasa sulit untuk mendapatkan air untuk mengairi sawahnya. Selain air di saluran irigasi itu sedikit, di danau pun tidak ada stok air,” terang Muhsin, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Babelan, Jumat (7/9).

Seperti yang terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Babelan, termasuk di areal persawahan di Blok 2 Desa Kedung Pengawas, tanah sawahnya pecah belah 5-10 sentimeter, lantaran kekeringan, sehingga petani tidak bisa menggarap lahannya.

“Petani diharapkan bisa membaca situasi terkait kekeringan jika ingin melakukan tanam padi maupun tanam holtikultura pada musim kemarau ini,” ujarnya.

Dia menganjurkan agar petani meminta petunjuk dan arahan terlebih dahulu kepada pihak penyuluh yang ada di desanya masing-masing, jika ingin melakukan tanam padi varietas maupun tanam holtikultura agar hasilnya bagus.

“Kita berharap agar ke depan pemerintah dapat mencarikan solusi, agar air dari irigasi ke skunder itu bisa mengalir ke sawah dan kebun yang digarap oleh petani meskipun di musim kemarau,” harap sejumlah petani di Babelan.
Sudah dilihat 17 kali

Komentar