PEMILIK SENYUM MENTARI

44083 medium screenshot 20181227 143106 1
Part. 1
Musholla kampus sudah sepi, novel yang baru saja kubeli ketinggalan dan menyeret langkahku kembali ke tempat ini. “Oh…masih ada orang didalam, perasaan dari tadi orang itu duduk disana, wiridnya panjang juga”, gumamku. “Ada yang ketinggalan ya?”, ups…dia menyapaku, “iya…ya, liat buku…”, belum sempat kuselesaikan pertanyaan, dia menyodorkan sebuah novel yang belum sempat kubaca bahkan belum sempat kubuka bungkusnya. “Alhamdulillah…terima kasih ya”, tanpa membalas senyumnya aku segera berlalu, karena tempat ini cuma ada kami berdua dan tentu ketiganya adalah setan, begitu selalu kata Nina. ah…aku teringat tausiyah gratis dari si Nina, teman karibku sejak kecil hingga menjadi mahasiswa, Nina memang pantas dipanggil ustazah, dia selalu mengingatkanku selama ini, terutama tentang pacaran, “iya ustazah…!” ledekku yang selalu dibalas dengan cubitan keras di pipiku, Nina memang sahabat terbaikku.

“Ada dosen tuh…!”, keras Nina mencolek bahuku yang sedari tadi ternyata tidak menyadari ada pak dosen duduk didepan dari tadi dan bersiap-siap memulai kuliah. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der wijck ini ternyata benar-benar membiusku, karya sastra indah gubahan tangan Hamka memang selalu menarik bagiku, alur ceritanya menarik, gaya bahasanya yang indah kadang membuatku enggan menutupnya sebelum tamat, tapi mau tidak mau kali ini harus kusimpan dulu dan melanjutkannya nanti.

Aahh…dia itu…? Cepat-cepat kukatupkan kembali mulutku sebelum Nina melihatnya, karena sudah pasti aku akan jadi makhluk aneh dimatanya, kalau sampai dia tahu mulutku menganga ketika melihat dosen muda didepan itu. “bukankah itu laki-laki yang tadi di Musholla, yang menemukan novelku yang ketinggalan, lalu mengembalikannya kepadaku dengan bonus senyum yang lumayan manis itu?” waduh, kok aku jadi merasa kalau dia punya senyum manis ya…

Mata kuliah pilsafat sebenarnya bukan mata kuliah yang menarik bagiku, tapi tak apalah kalau kali ini aku ingin serius mengikutinya, berhubung dosennya punya senyum lumayan manis…ups, semoga saja kata hatiku tak terbaca oleh Nina.

“Da…kita satu kelompok aja ya, kamu kan jago berargumen, nanti kalau presentasi kamu aja yang wakilin, kalau masalah nyusun makalah ntar aku aja”, Nina menepuk pundakku yang sedari tadi masih kepikiran senyum dosen pilsafat itu. “eh…ya ya, besok kerumah aku aja ya, kita kerjakan sama-sama”. Waduh…baru pertemuan pertama langsung dapat tugas membuat makalah, tapi tak apalah aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk kali ini akan serius mengikuti kuliah, tidak hanya karena dosen pemilik senyum mentari itu. Waduh…kok aku jadi kebawa perasaan gini ya, apa benar senyumnya seperti mentari, kalau mau jujur memang senyumnya sehangat mentari pagi, ah…mungkin aku terbawa-bawa karena terlalu sering membaca novelnya Hamka yang segala rasa selalu ditulis dengan bahasa indah. Bersambung...
#LagiRinduFiksi #TitipDiAtmago
Sudah dilihat 35 kali

Komentar