PEMILIK SENYUM MENTARI (part.7)

47094 medium screenshot 20181227 143106
Pengumuman kelulusan MTs tidak sepenuhnya kami nikmati, kami hanya duduk bersebelahan. Sesekali terdengar helaan napas panjang Nina disampingku. “Aku berjanji akan sering berkirim kabar Fid”. Janji setia seorang sahabat yang hanya kubalas dengan senyuman, karena sebenarnya aku sedang sibuk menata hati agar kuat dengan perpisahan ini. Kubantu Nina mengurus berkas-berkas di kantor MTs, agak lama prosesnya karena dia akan melanjutkan ke jenjang MA ditempat lain, beda denganku yang melanjutkan study di Pondok Al-Ishlahuddiny ini langsung, tidak perlu mengurus apapun, karena masih berada di bawah naungan yayasan yang sama.

Pohon jambu air itu sudah berbagi manis buahnya beberapa kali, dan itu kunikmati tanpa Nina. Aku sering menyambangi bekas gurfah kami yang berada tepat dibawah pohon jambu air itu. Memasuki jenjang MA, aku masih tinggal di Asrama yang sama sewaktu masih MTs bersama Nina, namun gurfah saja yang pindah.

“Mufidatunnisa’…ini ada telfon dari temanmu di pondok Al-Ihsan di Lombok Utara!”, suara ustazah Syarifah Zahra mengagetkanku. Kusambar gagang telefon seluler itu dari tangan beliau setelah mengucap terimakasih.

“Fid…libur kenaikan kelas besok, kamu ke rumahku aja, kita habiskan liburan di tempatku. Disini banyak tempat wisata yang indah loh”. Ajakan Nina untuk liburan kerumahnya di Lombok Utara mengakhiri pembicaraan panjang kami lewat telefon.

“Sudah puas ngobrol sama teman lamanya?”, sambil tersenyum lebar, Ustazah Syarifah Zahra menyapa dari ruang kerjanya, begitu melihatku meletakkan gagang telefon dan pamit untuk kembali ke kamar. “Terima kasih Ustazah”, kucium tangan beliau dengan riang, lalu dibalas dengan usapan tangannya yang penuh kasih dikepalaku.

Persahabatan bagai kepompong, ah…aku tidak begitu paham itu. Yang ku tahu bahwa persahabatan kami terjalin sejak masa usia dini, berlanjut hingga ke bangku SD, lalu bersama-sama menikmati manis asemnya kehidupan di Pondok, lalu kini bergandeng tangan di kampus yang sama dengan jurusan yang sama, bahkan setiap haripun duduk bersebelahan di ruang kuliah bersama. “Apakah itu artinya kita akan sama-sama bermetamorfosis menjadi kupu-kupu cantik secara bersamaan Fid?”, begitu kata Nina suatu hari di taman depan kampus. “Insyaallah Nin, tapi kayaknya aku akan menjadi kupu-kupu cantik dengan sayap warna-warni nan indah, mungkin akan sedikit berbeda denganmu, sayapmu tentu tak akan seindah punyaku, karena sayapmu pasti didominasi warna duka cita, seperti warna gamismu itu”. Tawa kami meledak tak tertahan, hampir jatuh aku menghindar dari kepalan tangan Nina. Lalu dengan indahnya tangan kami menyatu, “Kita adalah calon bidadari surga yang sama-sama indah walau dengan backround warna yang berbeda, aamiin”.

Begitulah kami, tumbuh menjadi pribadi yang tidak sama, namun selalu sepakat dalam prinsip. Sering kukomentari warna gelap yang selalu mendominasi warna gamis dan jilbab Nina, “Hijab itu bukan soal lembaran kain yang menutupi aurat saja kan Fid, hijab juga masalah mode dan warna, jangan sampai mode menjadikan kita telanjang walaupun berhijab, begitu juga warna, jangan sampai warna yang mencolok menjadikan kaum adam memelototi tubuh kita yang sudah terbungkus hijab”, sergah Nina waktu itu. “Aku suka dengan gamis longgar, walaupun warna yang kupilih sering warna cerah, itu bukan berarti aku sengaja mau menarik perhatian kaum adam kan Nin”, kali ini kami beradu argumen tentang hijab. “Iya…ya…aku tidak pernah nunjuk warna gamismu yang selalu ceria itu sayaaanggg, karena kutahu kau pecinta keindahan dan Allah juga menyukai keindahan, begitu kaaannn…”. Dengan sedikit menekan intonasi suaranya, Nina mematahkan argumenku, sebuah debat yang selalu kami akhiri dengan tawa riang.

Nurul Falah Fi Ikhtiarina memang sahabat terbaikku, sahabat terbaik yang selalu mengingatkan dikala alfa, sahabat yang selalu mengingatkan untuk terus istiqomah dengan amalan-amalan sewaktu di Pondok. “itu penyakitnya mantan santri Fid, kalau sudah keluar pondok, suka mengabaikan kebiasaan-kebiasaan mulia yang menjadi rutinitas ketika di pondok, alasan sibuk lah, situasi tidak mendukung lah, macam-macam alasan yang intinya hanya untuk mencari pembenaran dalam meninggalkan amalan-amalan baik itu”. Itulah Nina, kukagumi dia karena istiqomahnya, dan Nina juga yang mendorongku untuk menerima lamaran pak Komar waktu itu, “tak baik menolak lamaran laki-laki berakhlaq baik seperti beliau, lagian juga tidak akan mengganggu kuliah kamu Fid, malahan kamu bisa lebih tenang tiap hari ada muhrim pulang pergi ke kampus”, Nina terus-terusan mendorongku untuk segera mengambil keputusan, sampai akhirnya aku menikah dengan dosen pilsafatku pada saat aku akan menyelesaikan dua semester lagi kuliahku.

“Terus kamu gimana Nin ?”, sebenarnya aku juga khawatir kebersamaan kami akan terkikis oleh statusku yang akan berubah. “Do’ain aja aku Fid, supaya bisa segera menyusulmu, do’a kamu pasti nantinya lebih mustajabah dari do’aku, kan ibadahnya orang yang sudah berumah tangga jauh lebih khusyuk dibandingkan dengan ibadahnya orang yang masih single”, dengan tersenyum penuh arti Nina ucapkan kalimat itu. “Kamu tau kenapa Fid?” kembali Nina melanjutkan tausiyahnya, “itu karena orang yang berumah tangga itu tak sendiri lagi waktu beribadah, walaupun ibadahnya gelap-gelapan dia ndak takut lagi, kan ada temannya”, sambil mengedipkan sebelah matanya Nina berlari menjauh dariku, rupanya dia sadar kalau tanganku siap melancarkan serangan ke arahnya. Tak urung tawa kami terdengar juga walaupun mulut sudah tertutup tangan.

Kebersamaan yang tak pernah usai, namun kini apayang terjadi denganmu Nin...setelah bencana malam itu dan nomor kontakmu sama sekali tak bisa dihubungi ?
Bersambung...

#IndahnyaFiksi #TitipDiAtmago
Sudah dilihat 26 kali

Komentar