PEMILIK SENYUM MENTARI (part.3)

44442 medium screenshot 20181227 143106 2
“Da…kakak pingin ngobrol sama kamu, kapan ya”, suara kakak semata wayangku menyiratkan rasa kangen. Yah…walaupun masih tinggal dikota yang sama, aku dan kak Ibra jarang bertemu, apalagi untuk ngobrol seperti dulu sebelum kakak berumah tangga, tapi komunikasi lewat hape ataupun media sosial memang tetap terjalin erat. “Kakak jemput pulang kuliah ya, pulangnya kerumah kakak aja, ntar kakak yang ijinin sama Ibu, ingat ya jangan bawa motor, naik angkot aja perginya, pulangnya kakak tunggu di parkiran” nyerocos aja nih kakak, tapi tak masalah karena aku juga kangen ingin curhat-curhatan sama kak Ibro, semoga saja dia bisa memberikan sedikit pencerahan untuk kekalutan hatiku gara-gara kehadiran dosen baru pemilik senyum mentari itu.

“Kak Ibra…”, setengah berteriak aku bergegas ketika melihatnya sudah berdiri di parkiran. “assalamualaikum, solehahnya kakak”, sambil mencubit hidungku setelah punggung tangannya kucium. Ah…kami memang selalu begitu setiap bertemu, hangat dan indah, dari dulu sampai sebesar ini. “Assalamualaikum…!”, tiba-tiba suara yang tidak asing ditelinga itu mengagetkan kami. “Wa’alaikumussalam, ya Allah…apa kabar bro”, aku hampir tak percaya, pak Komar dan kak Ibra salaman, hangat,,,rangkul-rangkulan lagi. Lalu mereka tertawa sambil ngobrol seru tak ubahnya sepasang sahabat yang sudah lama tak bertemu, sampai-sampai kehadiranku untuk sementara antara ada dan tiada. Kepalaku sedikit pusing, apa benar yang kulihat didepanku ini, apa kak Ibra dan pak dosen ini memang teman lama?, ah…aku benar-benar kesulitan menjawab pertanyaan-demi pertanyaan yang hadir dibenakku.

“Oh ya, hampir lupa, ini adekku, Da…pak Komeng ini teman kakak waktu kuliah dulu, atau kalian sudah pada kenal, kamu ngajar di kelas adekku juga kan bro?”, waduh…apa-apaan ini, aku merasa seperti berada di sebuah panggung besar, lalu jutaan mata memandangku, hingga aku kesulitan bernapas. Aku juga merasa seperti sedang berada di atas motor dipagi dingin, lupa pakai jaket, hingga hawa dingin itu menusuk sampai ketulangku, hingga kaki tangan dan mulutku kelu, tak bisa berucap apapun. Ah…aku benar-benar tak menyangka kalau akan berada dalam kondisi ini. Aku hanya menjawab ucapan kakak dengan anggukan kecil disertai senyum yang susah payah kutata, seperti susahnya kutata hatiku setelah pemilik senyum mentari yang tak lain adalah teman kakakku itu, hadir di kampus ini.

Pak komar tersenyum kearahku, ya…tetap dengan senyum sehangat mentari pagi. “Sudah sore, kasian adekmu sudah nunggu tuh”, pak Komar melirikku yang masih berdiri seperti pesakitan tak jauh dari tempatnya berdiri. “Alhamdulillah…”, aku bergumam melihat mereka beranjak berpisah setelah sempat bertukar alamat dan nomor kontak.
“Dia teman kakak waktu S2 dulu dek, orangnya memang kalem dari dulu, cerdas tapi tak banyak ngomong, dia biasa dipanggil komeng dulu dikampus”, tanpa kutanya kak Ibra menceritakan tentang Pak Komar di meja makan. Sebenarnya aku ingin sekali tahu banyak tentang dia, tapi kuurungkan niat untuk menanyakannya sama kakak, pikirku hal itu hanya akan menambah penyakit di hatiku, penyakit suka yang berlebihan kepada laki-laki bukan muhrim. Seharusnya rasa itu tak perlu berlebihan, tidak ada untungnya, hanya akan membuat hari-hariku terasa hambar, tak ubahnya masakanku yang sering diprotes kakak, karena bakat memasak ibu tak kuwarisi. “Tapi dia masih single sampai sekarang, entah wanita seperti apa yang di carinya”, kembali kata-kata kak Ibra hanya kusahut dengan diam.
“Dek Fida capek ya?”, suara kak Intan , kakak iparku cukup membuatku kaget,

Bersambung...

#asyiknyaFiksi #titipDiAtmago
Sudah dilihat 56 kali

Komentar