PEMILIK SENYUM MENTARI (part.15)

54852 medium screenshot 20181227 143106
“Kakak mau ketemu kamu nanti pulang kuliah, ijin aja sama suamimu kalau kakak yang jemput nanti”. Suara kak Ibra tak seperti biasanya, nada sayang yang biasanya kutangkap dari setiap omongannya seperti menghilang. Dalam dadaku berkecamuk tanya.

“Iya kak, nanti aku bilang ke kak Komar, kakak jemput lebih awal aja ya, aku tidak ada kuliah sore hari ini”. Tanya masih memenuhi benakku, tidak biasanya kak Ibra ngomong seperti itu, lewat telefon atau bertemu langsung, dimana candaan yang selalu menyemarakkan setiap obrolan kami.

------------------------------------------------------------------------
“Kakak tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, bisa-bisanya kamu punya pikiran sedangkal itu”, sambil berdiri dan menatapku tak ramah, kak Ibra sungguh kelihatan kalut didepanku yang hanya berani menunduk menghadapinya.

“Kakak yakin kamu adikku yang cerdas dan sholehah, tapi kamu belum banyak tahu tentang liku kehidupan ini Mufida…”. Kak Ibra menurunkan intonasi kalimatnya, dia kembali duduk di hadapanku.

“Kakak tahu kamu itu perempuan sholehah yang berusaha selalu berpegang teguh pada tali agama, dalam pikiran kamu mungkin kamu sudah mengambil jalan terbaik, meminta suamimu untuk menikahi sahabat karibmu, dengan itu kamu yakini bahwa kamu sudah melakukan dua kebajikan sekaligus, menolong kehidupan sahabatmu sebagai bukti keimananmu, juga bukti bahwa kamu tidak menolak syari’at poligami”, kalimat panjang yang beruntun berhamburan dari mulut kak Ibra akhirnya berjeda.

“Tapi tentu kamu belum paham betul kalau semua itu berat dek, kamu tidak pernah berpikir akan konsekuensi besar dari keinginan kamu itu, kamu harus berbagi dalam segala hal dan itu sesuatu yang kakak tahu sangat berat bagi seorang perempuan”. Suara kak Ibra semakin menurun dan ketika aku melihat matanya, ah…titik-titik bening itu bak air bah yang menghantam dinding hatiku, basah…

Kak Ibra kembali bangkit dari tempat duduknya lagi, kali ini jendela yang terbuka lebar ke arah taman belakang menjadi pegangan tangannya yang sedikit gemetar. Aku masih terduduk dan kembali menunduk meredakan gemuruh rasa yang entah akan memanggilku kembali menjalani hari-hari biasa, menjadi isteri tunggal dari suamiku, ataukah justeru akan mengokohkan tiang-tiang rumah tanggaku yang kini ingin kukuatkan dengan menghadirkan sahabat karibku di salah satu biliknya.

“Kamu tahu dek, satu detik setelah kakak menunaikan ijab qabul dengan Komar sebagai suamimu, kakak tidak pernah sebahagia itu, bahkan melebihi kebahagiaan ketika kakak sendiri yang menikah”, kak Ibra membalikkan badan kearahku.

“Saat itu kakak merasa sudah menunaikan kewajiban dengan baik, menikahkan adik perempuannya dengan seorang laki-laki yang kakak yakini kesholehannya, terasa kalau saat itu almarhum bapak sedang tersenyum sambil mengacungkan jempolnya padaku”. Mendengar itu, luruh sudah air mataku.

Teringat kembali saat-saat yang mendebarkan sekaligus penuh kebahagiaan itu. Sesaat setelah para saksi menyatakan sah atas pernikahan kami, kak Ibra merangkul erat bahu kak Komar, entah apa yang dibisikinya, yang kulihat hanya kak Komar yang mengangguk seraya memeluk kak Ibra sambil mengucapkan beberapa kalimat yang samar di telingaku. Namun yang jelas, mata mereka berkaca-kaca, begitu juga aku. Ah…kak Ibra memang kakak terbaik yang dikirim Allah untukku. Karenanya aku tidak merasa terlalu kehilangan saat bapak sudah tiada, karena kak Ibra sanggup menggantikan bapak dalam menjalankan kewajibannya padaku dan juga inaq.

Namun kini, haruskah aku memperjuangkan keinginanku sendiri di depan kak Ibra, seperti yang aku lakukan juga kepada kak Komar?, ah…kepalaku sedikit pusing, entah karena kondisi kehamilanku atau pengaruh fsikologis, entahlah.

-------------------------------------------------------------------------------
“Kasih aku waktu yan fid, aku tidak mau gegabah dalam masalah besar ini, akan ikuti saranmu untuk memohon petunjuk yang Maha Kuasa, semoga keberkahan selalu memenuhi kehidupan kita”, akhirnya Nina melemah setelah beradu argument panjang denganku, yah…respon sama seperti yang kuterima dari kak Komar ketika aku memintanya untuk poligami beberapa minggu lalu. Ninapun terkejut dan menganggap itu ide gila, namun akhirnya ia terima usulku bahwa ia akan menjawab usulku itu setelah melakukan istiharah terlebih dahulu.

Percakapan panjangku dengan Nina lewat telefon, akhirnya kami akhiri ketika mendengar salam di depan, kak komar pulang dengan muka lesu.

“Tadi Ibrahim temui aku di kampus”, kalimat yang mengejutkan itu keluar dari mulut suamiku saat aku bantu merapikan tasnya ketika baru saja pulang. Hari ini aku tidak ada kuliah, kesempatan ini kuhabiskan untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan beristirahat sambil telfon-telfonan sama Nina.

“Ibrahim menyangka aku yang memaksamu untuk menerima keinginanku untuk beristri lagi”, Ya Allah…aku tersentak lalu cepat-cepat meraih tangan kak Komar. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kak Ibra sangat tidak senang dengan keinginanku itu, sampai-sampai ia punya pikiran bahwa semua itu adalah keinginan kak Komar. Hanya permintaan maaf yang bisa kuucapkan pada suamiku, kalimat yang mewakili ungkapan bersalahku atas masalah ini.

Kukirim pesan singkat kepada kak Ibra, pesan singkat seperti biasa ketika kami beberapa hari tak bertemu. Beberapa menit kemudian pesan singkat lewat Wattsapp itu terbaca namun balasan yang kutunggu tak kunjung ada, walaupun aku sudah menunggunya beberapa puluh menit. Ah…kak Ibra, padahal aku cek WAnya aktif. Untuk sementara aku harus berlapang dada, sejak kami berbicara serius tentang poligami itu beberapa waktu lalu, kak Ibra sepertinya tidak suka dengan kami. Bukan aku saja yang didiamkan oleh kak Ibra, kak Komar juga, bahkan Nina juga cerita kalau dia pernah ditelfon beberapa kali oleh kak Ibra. Nina mengaku bingung, karena tak biasanya kak Ibra bicaranya sulit dimengerti.

-------------------------------------------------------------------------------
Malam yang dingin, kak Komar lebih banyak diam dan ini sesuatu yang tak biasa.
“Kenapa kita tidak memohon petunjuk dari yang Maha Kuasa kak, kita biasa melakukan itu setiap akan mengambil keputusan, lalu kenapa dalam masalah ini, kenapa kak komar langsung tidak setujui keinginanku, tanpa pernah memohon padaNYA untuk memilihkan mana perkara yang baik dan tidak baik untuk kita”, aku mencoba berbicara dengan hati-hati, khawatir kak komar akan salah menanggapinya.

“Istikharah itu kita lakukan saat kita sedang bimbang dalam menentukan pilihan dek, sedang dalam masalah ini, sepertinya aku lebih yakin untuk tidak melaksanakannya, aku takut mudhorat dek”, sebuah jawaban final, tapi aku justeru semakin mantap untuk membujuknya. Dimataku sosok suami seperti suamiku adalah suami yang pantas mempunyai isteri lebih dari satu, karena ketakutannya berlaku zalim itu akan menjadikannya suami yang selalu berusaha untuk adil. Hal ini berbeda ketika sang suami dengan beraninya memaksakan keinginan untuk berpoligami pada isterinya, menurutku keinginannya untuk poligami itu atas dasar hawa nafsu dan mengabaikan sebuah tanggung jawab besar pada isteri-isterinya. Sebuah kesimpulan yang bangun dengan sangat yakin.

Gila, ya…wanita lain mungkin menganggapku gila, ketika suami tidak ingin berpoligami, namun justeru isterinya yang membujuknya untuk melakukan itu. Ah…orang menganggapku gila tak mengapa, yang ada dipikiranku saat ini adalah sebuah keyakinan bahwa kami akan mampu untuk mewujudkan niat baik itu.

Bagiku, seorang laki-laki yang menolak poligami karena takut mudhorat adalah sebuah gambaran tentang ketaatannya pada ajaran islam. Ia takut tidak bisa adil pada isteri-isterinya karena dia paham bahwa menambah isteri adalah menambah tanggung jawab dunia akherat. Dengan demikian, jika dia akhirnya mempunyai isteri lebih dari satu, dia pasti akan berusaha untuk adil, karena sebenarnya dia sangat takut pada Allah.

Bersambung....
Sudah dilihat 73 kali

Komentar