Pascagempa, Warga Manfaatkan Kain Bekas

55624 medium tompl
Pekerja padat karya di Desa Tompe Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala yang didukung oleh Relawan untuk Orang dan Alam bekerja sama dengan United Nation Development Programme (UNDP) memanfaatkan barang berbahan kain yang berasal dari pembersih puing-puing rumah yang hnacur akibat gempa pada 28 September 2018 lalu.

Rumah yang hancur merupakan tempat tinggal sejumlah nelayan yang mendiami wilayah pantai Desa Tompe yang menurut data terdapat kurang lebih 200 kepala keluarga yang kehilangan rumahnya ditambah lagi saat ini mereka juga saban kali harus beradaptasi dengan naiknya air pasang dan menggenangi hunian darurat mereka.

Risnawati (35) salah satu pekerja padat karya yang ikut dalam pekerjaan membersihkan puing-puing melihat begitu barang-barang yang berserakan ketika dibersihkan. Namun dari sekian barang-barang yang berserahkan, ia lebih tertarik dengan barang berupa kain yang banyak berserahkan kemudian bersama pekerja padat perempuan lainnya mulai mengumpulkan kain-kain yang berserakan di sekitar puing-puing.

“Saya lihat banyak kain-kain yang berserahkan di sekitar puing-puing dan saya ajak Salni, Eka Rianti, Raudatul Jannah, Ciu, Miming untuk mengumpulkan dan membersikannya sehingga mudah untuk memilih mana yang cocok untuk dibuat kerajinan,”ungkap Risnawati.
Risnawati usai bekerja, memanfaatkan waktu di malam hari bersama perempuan lainnya membersihkan kain-kain yang mereka kumpulkan dan mulai menyiapkan peralatam berupa gunting dan bahan selang bening serta kain yang telah dibersihkan untuk kemudian dirangkai menjadi kerajinan tangan berupa gelang tangan.

Menurutnya, untuk membuat gelang dari bahan baku kain tidaklah sulit dan membutuhkan waktu yang lama, “Cara buatnya gampang sekali tapi kita hanya butuh memilih corak-corak yang menarik untuk dipadukan sampai jadi gelang,” Ujar ibu dari lima orang anak itu sambil tersenyum.

Hasil kerajinan yang dihasilkan Risnawati bersama-sama teman senasib sepenanggungan sebagai kirban gempa dan stunami menjual gelang-gelang cantik itu dengan harga Rp5.000 pergelang dan karya mereka sudah mendapat order sebanyak 50 gelang yang disorder oleh masyarakat setempat.

“Saya dan teman-teman berharap agar usaha kami ini bisa mendapat sambutan dari seluruh masyarakat dan mau membeli termasuk membantu memasarkan gelang-gelang kami agar kami bisa mendapatkan tambahan pendapatan”,pintanya.

Risnawati sebelum peristiwa gempa terjadi 28 September 2018 silam adalah penjual ikan di Desa Tompe namun usaha itu agar tersendat karena sejumlah nelayan yang ada di Tompe kehilangan perahu, mesin dan alat tangkapnya.

Foto:Faiz/tribunpalu
Sumber : Metrosulawesi
Sudah dilihat 25 kali

Komentar