Moh Zaki: Penjaga Oto-oto Teluk Palu

62256 medium post 67567 17f05348 ba19 444d a63a d6de0f94b9bf 2019 05 27t02 11 58.651 08 00
Sore itu, seperti biasa, sepulang sekolah Zaki bersiap-siap pergi ke anjungan untuk membantu kedua orang tuanya dalam menawarkan jasa rental mobil-mobilan, di umur 13 tahun yang seharusnya dia bermain dengan teman seumurannya tapi Zaki memilih untuk membantu kedua orang tuanya, memang Zaki sudah di tempa bagaimana jadi pengusaha mulai dari usaha kecil-kecilan, dan menjaga oto-oto adalah rutinitas setiap hari. Padahal, jika di pikir orang, ayah dan ibunya mampu memenuhi kebutuhan Zaki dan Adiknya Zoya. Ayah Zaki seorang pegawai di salah satu instansi yang ada di kota palu, oleh ayahnya Zaki di didik bagaimana jadi anak yang mandiri, buktinya dia bisa beli sepatu sekolah sendiri dari hasil usaha yang di rintis oleh Zaki dan orang tuanya. Mungkin bagi anak -anak kebanyakan sabtu minggu adalah hari libur tapi hari itu tidak berlaku untuk pengusaha cilik seperti Zaki, justru di hari-hari itu pengunjung pante talise sangat rame-ramenya, Zaki paham betul jika ia harus membantu ayah ibunya dalam membuka peluang usaha. Karena itu, Zaki menjalankan usaha penyewaan jasa mobil-mobilan atau rental oto-oto. Di sekitar anjungan tepatnya hari jumat tanggal 28 september 2018, seperti biasa Zaki pulang sekolah langsung bergegas dari ganti baju dan makan siang untuk pergi ke anjungan dengan tugas mulia ba jaga oto-otonya, kebetulan hari itu puncak acara Palu Namoni dengan segala sesuatunya pasti ramai pengunjung. Zaki, Zoya berperan penting dalam usaha orang tuanya.
Langit sore itu berbeda dari langit-langit sebelumnya. Warna oranye menyatu jingga menyambut malam akbar itu. Sambil menjajaki jasa penyewaan dan menunggu ramainya pengunjung, di perjalanan ayah Zaki, Ibu dan Zoya berharam cemas pada anaknya, di tambah lagi langit dan suhu sore itu sangat panas, bingung padahal waktu sudah menunjukan hampir pukul 18:00, setelah itu terdengar suara samar suara adzan di mesjid TVRI Sulteng mungkin karena ramenya pengunjung barangkali, dan Zaki di tempat dia ba jaga oto-otonya masih sempat makan nasi campur yang ayahnya belikan sesampai di anjungan.
pada pukul 6 lewat 2 tiba-tiba tanah tanah bagoyang dan bergetar dahsyat, macam di ayun-ayun kesana kemari, banya orang balari tajatuh, balari tajatuh, itu jalan ba ombak-ombak seperti ada seekor naga yang sedang ba jalan di bawah tanah, sama-sama dengan itu anjungan rubuh, jembatan kuning ambruk, tower jatuh dan tanah di sekitaran tempat itu terbelah dan baku tabrak, ketakutan merubah senja itu, semua berlari tak terarah sambil mengucap takbir dan memanggil sanak saudara yang terpisah. Zaki, zoya dan kedua orang tuanya berpegangan sambil duduk karna memang masih berguncang kencang dan Zoya sudah berada di pelukan abangnya. Sambil tanah terus bergejolak, tidak berapa lama tiba-tiba gelombang berarak berwarna hitam pekat saling menyusul naik ke darat. Kemudian ibu Zaki berteriak " paa, aer nae-aer nae" tanpa pikir pilihan, bangun dan berlari sejauh mungkin adalah jalan terbaik. Cape dengan napas yang terseok seok sampelah dorang di ruko pas depan anjungan, cara satu-satunya berlindung di sambing mobil yang terparkir. Tak lama kemudian seketika gelombang laut menghantam mereka, Zaki langsung tersungkur dan pahanya tertindis mobil, dia itu menangis sambil memanggil mamanya "maa tolong zaki" sambil mengulurkan tangan dan mama Zaki melihat kedua bola matanya bengkak seperti bola pimpong, belum sempat ayahnya menarik Zaki tiba-tiba hantaman air laut yang kedua naik dan mamanya berteriak paa air dan bapaknya pun memeluk Zoya erat-erat dan mamanya memegang lengan suaminya sambil berlafadz "Laa hawlaa walaa kuwwata illah billah" gelombak itu menghantam mereka berempat. Ketiganya tersungkur kedalam ruko dan Zaki masih tertinggal di depan ruko, di mana dia ta tindis ban mobil. Sempat terlintas di benak ibu Zaki, kalau memang hari itu ajal mereka, mamanya berdoa " agar diwafatkan dalam keadaan baik dan tutupilah aib kami", tetapi Allah swt berkehendak lain, hantaman itu membawa kedua orang tua Zaki pas di belakang rumah TVRI, setelah orang tuanya sarar ternyata Zoya dan Zaki tidak ada, ibu Zaki langsumg lemas sambil menangis dan memanggil kedua malaikat kecilnya dan ayah Zaki berusaha mengangkat ibu yang masih lemas dan berkata "maa nanti kita cari anak-anak", dengan berlari kecil sambil bergandeng tangan dan memanggil kedua anak mereka, berharap Zaki dan Zoya mendengar suara panggilan itu, setelah lama mencari akhirnya orang tua Zaki memutuskan untuk pergi menyelamatkan diri ke walikota terlebih dahulu dan melaksanakan sholat isya berjamaah dengan pakaian yang masih basah kuyup dan kedua orang tua itu berdoa untuk keselamatan kedua anaknya dan segera di pertemukan. Di sinilah Allah menunjukan kebesarannya, di mana Zaki bertahan hidup kurang lebih 3 jam menahan sakit hantaman air laut, dinginnya air laut sambil menahan sakit pahanya yang patah karna tatindis ban mobil, sambil berteriak kecil dari sisa tenaganya dia meminta tolong kebetulan ada seorang ibu yang mendengar teriakannya dan Zaki langsung di bawa ke rumah sakit umum anutapura dengan keadaan badan yang berlumuran darah dan kaki yang patah, sedangkan Zoya temukan oleh tetangga mereka di sebuah pohon talise yang rindang, dari kejadian tersebut banyak korban berjatuhan namun persediaan tenaga medis dan penanganan yang kurang memadai.
Dengam luka ia menahan sakit, Zaki terus berjuang menghadapi musibah, Ayah dan ibu Zaki menitihkan Air mata melihat anak-anaknya terselamat kuasa Allah SWT namun harus berjuang hidup. Melihat kondisi tersebut 3 hari setelah bencana, menuju luwuk adalah tempat menenangkan diri terbaik di kampung halaman, selain pengobatan lanjutan Zaki. " kita keluwuk bajauh-jauh kesana sampe berapa ratus kilo hanya pigi ba urut Zaki, kasian dia batahan sakit pahanya yang patah di oto", pungkas ibunda Zaki.
Dua bulan lamanya Zaki dan keluarga menenangkan diri di kota air tersebut sambil penyembuha tradisional, selamw dua bulan itu Zaki rindu suasana sekolah, teman-teman dan guru-gurunya sehingga dengan bahasa yang sederhana dia mengatakan sama orang tua kalau Zaki ingin pulang ke palu untuk melanjutkan sekolah kebetulan sudah mau ujian tengah semester. Semangatnya anak ini yang membuat saya kagum akan sosoknya, yang ke sehariannya sebagai seorang yang menawarkan jasa penyewaan oto-oto di teluk palu untuk kembali ber sekolah, kuatnya tsunami yang melanda kota palu begitu juga kuatnya perjuangan Zaki untuk tetap hidup, karna setelah kejadian itu bocah 13 tahun ini tidak seperti anak-anak lain, bagaimana dia harus mengumpulkan kembali mental untuk menghadapi teman-teman sekolah dengan keadaan fisik yang tidak seperti dulu, bukan cuma fisik, hati juga. Memang di umur yang segitu jelas malulah bertemu sama teman dengan keadaan kaki yang sudah patah dan harus mengenakan tongkat untuk membantunya berjalan, tapi Zaki berusaha untuk tegar sambil meyakinkan dirinya kalau ini sudah takdir dari Allah yang harus dia terima dengan ikhlas dan dari kejadian ini Zaki dan kedua orang tuanya meningkatkan kualitas ibafah mereka yang banya waktu terlewatkan karna mereka sadar semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan yang suatu saat akan Allah ambil lagi.
Tepat delapan bulan berlalu, di bulan yang penuh dengan rahmat dan ampunan ini, melalui kisah di atas sebagai seseorang yang mengenal dekat dengan sosok Zaki di sekolah, teringat sebuah perkenalan awal Zaki, ini tentang cita-citanya yang ingin menjadi polisi dan ingin membanggaakan orang tuanya. Kini Zaki telah mampu menjadi itu dan kakak bangga denganmu, melihat didirinya ada semangat yang tak pernah goyah, semangat untuk terus berjuang, semangat pantang menyerah, semangat untuk tetap terus memberikan senyuman kepada teman-temannya, guru-gurunya, adiknya Zoya, ayah dan ibu.
Tulisan ini teruntuk sosok anak tangguh dengan mental bukan mental oto-oto, saya pribadi sangat bangga padamu, teruslah berproses, raih cita-cita muliamu yang ingin jadi abdi negara agar kelak bisa membanggakan kedua orang tuamu, agama dan negara. #RamadhanBangkit #AtmaGoSulteng
Sudah dilihat 78 kali

Komentar