Menjaga Eksistensi Sekolah Di Era Persaingan Global

21 September 2019, 00:19 WIB
1 0 131
Gambar untuk Menjaga Eksistensi Sekolah Di Era Persaingan Global
Tujuan dari setiap organisasi baik organisasi barang maupun jasa adalah memenuhi kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Demikian salah satu konsep pendekatan Total Quality Management (TQM) yang digagas oleh Deming (1950). Setiap pelanggan memiliki harapan (expectation). Ketika sebuah organisasi layanan mampu melayani pelanggan sesuai harapan serta mau mendengar keluhannya, maka mereka akan merasa puas dan tentunya akan berdampak pada loyalitas pelanggan terhadap organisasi pemberi layanan, demikian pula sebaliknya.  Apabila sebuah organisasi tidak mampu melayani para pelanggannya sesuai harapan maka organisasi tersebut  akan ditinggal oleh para pelanggannya (customers).
Harapan konsumen (customers expectation) tersebut di atas harus menjadi perhatian bagi sebuah organisasi layanan disamping kemauan mendengar apa yang menjadi keluhan (complaint) pelanggan. Ancangan diskonfirmasi (Oliver, 1997) menegaskan bahwa bila kinerja pada sebuah atribut (attribute performance) lebih besar dari pada ekspektasi (expextations) antar atribut bersangkutan, maka persepsi terhadap kualitas layanan akan positif dan demikian juga sebaliknya. Ini berarti keseimbangan antara pelayanan yang diberikan dengan ekspektasi layanan merupakan salah satu kunci kesuksesan sebuah organisasi layanan.
Kita ketahui bersama di era sekarang ini kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya sangat tinggi, terbukti kian tahun anak-anak usia sekolah terus bertambah.. Penulis teringat pada sebuah buku karangan Prof. Muchlas Samani. Beliau bercerita tentang pengalamannya  pulang kampung. Di tengah perjalanan beliau terhentak oleh sebuah tulisan yang terpampang di kaca belakang sebuah mobil yang melintas di depannya. Tulisan tersebut berbunyi “Whoever the president the kids must go to school”.  Artinya bahwa masyarakat tidak perduli apapun dan bagaimanapun kondisi negara namun anak-anak harus tetap sekolah. Hal ini merupakan salah satu bukti betapa tingginya kesadaran para orang tua akan pentingnya pendidikan.
Merespon pola fikir (mind-set) masyarakat akan pentingnya pendidikan, para praktisi pendidikan berlomba-lomba membangun institusi pendidikan dengan bermacam branding dan tawaran program. Dengan munculnya sekolah-sekolah baru maka persaingan menjadi semakin ketat,  dan persaingan tidak saja terjadi antar sekolah domistik baik negeri maupun swasta, namun juga persaingan dengan sekolah-sekolah produk luar negeri yang bercokol di negeri kita. Berbagai upaya dilakukan untuk merebut hati calon para siswanya sebagai pelanggan (customers), di antaranya dengan cara menawarkan berbagai macam program unggulan seperti program sekolah gratis, seragam sekolah gratis hingga antar jemput ke sekolah gratis, serta banyak lagi program-program lain yang menggiurkan.
Namun, upaya-paya tersebut belum cukup untuk menarik perhatian dan menjaga loyalitas para siswa sebagai pelanggan. Satu hal  yang tak kalah pentingnya dalam menjaga kualitas sebuah institusi layanan adalah pelayanan prima (high service) seperti konsep yang digagas oleh Deming atupun Oliver.Terkait penjelasan tersebut di atas, sekolah sebagai sebuah organisasi layanan jasa harus mampu mengimplentasi konsep tersebut, kalau tidak maka sekolah tersebut akan sedikit demi sedikit  ditinggalkan oleh para siswanya atau para orang tua murid sebagai pelanggan (customers).
Substansi layanan pada sekolah terletak pada layanan proses pembelajaran, baik layanan pembelajaran  di kelas maupun di luar kelas. Dan yang paling berperan dalam proses ini adalah guru. Gurulah yang sangat menentukan kualitas layanan di sekolah. Apabila guru mampu menjaga kondusifitas proses pembelajaran, maka sekolah akan dirasa sebagai tempat yang sejuk, tenteram, dan nyaman sehingga siswa mampu berpartisipasi secara optimal dalam setiap proses instruksional.
Kesejukan, ketenteraman, dan kenyamanan sekolah tidak saja disebabkan karena sekolah yang bersih,  indah,  asri, rindang, dan tertata rapi, namun karena guru-gurunya yang bersahabat, santun, lebut, sabar, tidak egois, tidak pilih kasih, serta memiliki rasa humor yang tinggi sehingga tidak membuat siswa merasa tegang dan tertekan.
Disamping pelayanan yang dilakukan guru, kepala sekolah sebagai top manajemen harus mampu menelurkan kebijakan-kebijakan yang pro kepada layanan prima. Dengan salah satu kompetensi supervisinya kepala sekolah juga harus mampu membantu para guru dalam pengelolaan kelas sehingga tercipta kualitas proses pembelajaran maksimal. Kepala sekolah jangan hanya bisa mensupervisi administrasi atau mengumpulkan administrasi para guru unsich sebagai senjata untuk menghadapi para pengawas pendidikan.
Selanjutnya salah satu layanan kepala sekolah yang bersentuhan langsung terhadap siswa harus terus ditingkatkan terutama pasca kelulusan para siswa. Pada momentum tersebut, kepala sekolah sangat dibutuhkan keberadaannya di sekolah untuk menandatangani ataupun melegalisir dokumen-dokumen penting yang sangat dibutuhkan para siswa. Dokumen-dokumen tersebut akan digunakan sebagai persyaratan mendaftar sekolah ke jenjang lebih tinggi atau untuk melamar pekerjaan. Kalau tidak, maka segala program yang telah dibuat para siswa akan tertunda yang bisa saja mengakibatkan kegagalan.  Oleh karena itu seorang kepala sekolah harus selalu stand by di sekolah, kalaupun ada hal-hal mendesak yang membuat kepala sekolah berhalangan masuk, hendaknya sebelum menghadiri acara lain di luar sekolah harus masuk sekolah dulu untuk mengecek apakah ada dokumen-dokumen penting yang perlu ditandatangani atau dilegalisir, terkecuali kalau memang dalam keadaan sakit.
Apabila layanan-layanan tersebut di atas mampu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya bahkan mampu diperbaiki secara berkesinambungan (continues improvement), maka insya Allah eksistensi sekolah akan selalu terjaga, bahkan akan terus berkembang dengat pesat. Hal ini terjadi karena loyalitas para orang tua/wali murid yang  secara turun temurun akan  selalu menyekolahkan anaknya pada sekolah yang sama. Semakin baik layanan, sudah barang tentu sekolah akan semakin subur karena jumlah siswa akan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Demikian pula sebaliknya kalau pihak sekolah tidak mampu mendengar keluhan maupun melayani para siswa atau para orang tua /wali murid sesuai harapan mereka, maka sedikit demi sedikit sekolah akan ditinggal bahkan tidak ada orang tua/wali murid yang akan memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.(Zul) 

  Komentar untuk Menjaga Eksistensi Sekolah Di Era Persaingan Global

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. New Normal Starter Pack

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Cibeurum, Sukabumi Kota  |  30 May 2020
  2. Warga RW 22, Mergangsan Kidul Sulap Selokan Jadi Lahan Budidaya Ikan

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  2 Jun 2020
  3. Viral Video Anak Merokok, Yayasan Lentera Anak : Pelanggaran Peraturan Dan Hak Anak

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Jagakarsa, Jakarta Selatan  |  28 May 2020
  4. Penyakit Cengkal

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Kalipuro, Banyuwangi  |  30 May 2020

Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar

    Aceh Sukses Putus Rantai Penyebaran COVID

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  28 May 2020
  2. 3
    Komentar

    TIDAK PERLU AJARI KAMI NEW NORMAL, SUDAH BIASA BOSCU

    Dhani Rama  di  Palu Kota  |  1 Jun 2020
  3. 3
    Komentar

    KAMPUNG UJUNG BERBENAH SAMBUT NEW NORMAL

    Ayu Darwiyanti  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  31 May 2020
  4. 2
    Komentar