MENJADI GURU ASYIK DAN MENYENANGKAN

42038 medium post 49116 7b5b0856 45a9 4fc1 a4a6 3838243cfbce 2018 12 08t15 50 59.064 08 00 42039 medium post 49116 ef846c16 34eb 42e5 a681 7f9609697685 2018 12 08t15 51 00.679 08 00
"Sesungguhnya tidak ada peserta didik yang bodoh, yang ada adalah peserta didik yang belum menemukan guru yang cerdas"
Pernyataan tersebut di atas saya kutip dari ungkapan seorang motivator nasional bernama Kang Deden.
Ungkapan tersebut memang agak sedikit nyeleneh, tetapi jika dipikirkan secara mendalam, maka kita akan senantiasa menyadari, bahwa setiap persoalan ketuntasan belajar anak didik kita, akan dipandang sebagai satu barometer keberhasilan seorang guru, apakah klasifikasi kita tergolong guru cerdas ataukah sebaliknya.
Banyak penelitian mahasiswa mengungkap, bahwa faktor keberhasilan belajar peserta didik tidak hanya dipengaruhi oleh faktor guru yang cerdas, namun faktor internal peserta didik seperti motivasi dan passion mereka juga sangat mempengaruhi, termasuk perhatian keluarga dan lingkungan pergaulan peserta didik.
Dan dalam tulisan kali ini, penulis akan mengupas tentang kompetensi guru sebagai salah satu komponen penentu keberhasilan peserta didik.
Untuk menjelaskan hal tersebut, penulis akan mengawali bahasannya dengan meminjam kuadralitas Robert T. Kyosaki, yang ditulis oleh Asep Mahfudz dalam bukunya "be a good teacher or never", bahwa guru dibagi menjadi 4 (empat) kuadran berdasarkan mentalitas kerjanya.
Kuadran pertama, Guru pekerja. tipe ini berada pada posisi paling rendah, karena mentalitasnya masih sekedar tuntutan kerja. Guru pekerja adalah guru yang pergi tepat waktu dan pulang tepat waktu. Guru ini mengajar hanya sebatas tugas atau kerja belaka, tidak memiliki visi dan harapan kedepan untuk membangun pendidikan yang lebih baik.
Kuadran kedua. Guru profesional, yaitu guru yang telah memiliki kemampuan mengajar dengan hebat, sehingga tipe ini dihargai oleh banyak orang.
Kuadran ketiga. Guru pemilik, tipe ini merasa sudah sangat profesional dan merasa memiliki sekolah, dimana tenaga dan waktunya dihabiskan untuk kemajuan dan pengembangan sekolah.
Kuadran keempat. Guru perancang, tipe ini mencerdaskan anak bangsa karena ia sadar bahwa anak didiknya adalah generasi penerus bangsa yang akan menyumbang dan mendukung perkembangan bangsa ini. Pada kuadran ini, guru mampu mendidik dan merancang sebuah metode, teknik, strategi pengajaran yang tepat dan kreatif agar bisa dinikmati oleh seluruh guru dimanapun berada.
Dari keempat kuadran di atas, berdasarkan hasil diskusi langsung penulis dengan guru sasaran khususnya mapel Prakarya dan IPS di kecamatan Kopang, Batukliang, BKU, dan Pringgarata, terhadap implementasi kurikulum 2013, dan hasil dari sharing informasi di group-group media sosial.
Penulis memandang, bahwa tipikal rata-rata guru yang menjadi informan, merupakan guru bertipikal kuadran pertama, yaitu guru pekerja.
Beberapa indikator yang bisa dilihat diantaranya yaitu : 1) Sebagian besar guru merasa enggan mengisi jam-jam kosong sebagai bagian dari rasa tanggung jawab mereka sebagai pendidik. Mereka memandang bahwa mereka dibayar untuk mengajar apa yang menjadi bidang ajarnya, dan jika ada jam kosong, maka itu dianggap sebagai tugas guru piket ansich. Mereka kurang menyadari, bahwa tugas dan tanggung jawab seorang guru, tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik, melatih dan membina. Faktanya, banyak sekolah yang menggunakan tenaga dari luar untuk memberikan bimbingan dan pembinaan kepada peserta didiknya, disebabkan karena mereka memang tidak memiliki kompetensi melatih dan membina, khususnya dalam bidang-bidang non akademik seperti kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler. Dan mereka seringkali sudah merasa cukup dengan regularitas mengajar mereka di dalam kelas sesuai jadwal reguler KBM.
2) Lemahnya kompetensi reseach guru dalam bentuk karya ilmiah (PTK). Indikasi ini memberikan isyarat bahwa daya olah pikir guru dalam meningkatkan kualitas KBM peserta didiknya masih sangat lemah.
3) Tidak adanya korelasi positif antara guru yang memiliki sertifikat profesional dengan tunjangan sertifikasi, dengan guru yang belum di sertifikasi. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan kesejahteraan tidak berbanding lurus dengan peningkatan kualifikasi guru.
Sampai hari ini, dalam pandangan sebagian besar guru, bahwa implementasi kurikulum 2013, sangat merepotkan dan menyusahkan guru. Padahal jika dicermati, bahwa setiap tahapan proses yang dilalui merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab guru sebagai evaluator. Tidak hanya aspek kognitif, tetapi aspek afektif dan psikomotoriknya juga menjadi bagian yang akan diukur dan dimasukkan ke dalam aplikasi e-raport sebagai hasil belajar mereka, sehingga diharapkan para peserta didik tidak hanya hebat dalam pemahaman konsep pengetahuannya, tetapi juga baik budi pekertinya.
Pada hakikatnya, core business dari Kurikulum 2013 yaitu menyiapkan generasi yang produktif, kreatif dan inovatif, dengan perimbangan pada pengembangan kekuatan sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan dan keterampilan. Dan implemementasinya yaitu mendorong kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk aktif dan menjadi subyek dalam setiap proses pembelajaran, sehingga terbangun pola pikir kritis dengan skill berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill). Dan guru dalam posisi ini hanya berperan sebagai fasilitator yang bertugas mengarahkan dan memberikan pencerahan dalam kerangka menguatkan konsep maupun hasil belajar yang diperoleh dan atau ditemukan oleh peserta didik. Artinya, tugas guru akan lebih ringan dari sebelumnya. Mereka akan bisa mengelola kelas dengan penuh kebahagiaan dan kedekatan dengan para peserta didik, tanpa menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan.
Intinya, guru yang hebat itu menurut Zulkarna, MBA yaitu guru yang asyik dan menyenangkan bagi murid-muridnya, menyuguhkan apa yang dibutuhkan mereka, serta menjadi tauladan/model yang dapat menginspirasi mereka dalam semangat belajarnya untuk menggapai mimpi-mimpi dan masa depannya sesuai dengan harapan dan cita-cita mereka.
Bekerja profesional dan mampu menjadi perancang bagi gambaran masa depan anak didiknya. #SekolahkuNTB
Sudah dilihat 125 kali

Komentar