Menambahkan Zakat Fitrah, Bolehkah?

26665 medium images 1528838659867
Assalamualaikum wr wb.

Apakah boleh menambahkan besaran zakat fitrah dari yang sudah ditetapkan? Dan, apakah zakat fitrah itu harus berupa beras?

Waalaikumussalam wr wb.

Hukum melebihkan pembayaran (takaran beras/nilai mata uang) zakat fitrah dari yang semestinya (misal, tiga kg yang berarti lebih dari yang seharusnya, yaitu 2,5 kg), hukumnya boleh; sebab 2,5 kg itu kewajiban minimal, bukan maksimal. Selebihnya, kalapun tidak termasuk zakat fitrah, insya Allah, akan masuk ke dalam kategori sedekah biasa yang dapat dikatakan tidak ada batas minimal maupun maksimalnya.

Selain dalam rangka ihtiyath (kehati-hatian), yakni kawatir kurang, tentu akan lebih baik jika dilebihkan pembayaran zakat fitrahnya. Kelebihannya dari yang seharusnya itu, insya Allah, tidak akan sia-sia sepanjang semata-mata diniatkan untuk menghindari kemungkinan kurang itu, bukan karena--maaf--misalnya ada motif yang lain. Termasuk, dibolehkan pula memberikan zakat fitrah yang lebih bagus kualitasnya jika Anda membayar zakatnya dengan beras.

Beralih ke pertanyaan kedua, jawabannya, paling tidak, menurut sebagian ulama, zakat fitrah boleh dikonversi dengan uang seharga beras yang Anda dan keluarga Anda konsumsi sehari-hari; meskipun pada saat yang bersamaan, sampai saat ini masih tetap ada ulama dan/atau panitia zakat fitrah yang memepertahankan pendapatnya bahwa zakat fitrah harus dibayar dengan beras. Tentu, dengan dalil atau alasan ilmiah-ubudiahnya masing-masing.

Maaf, saran pengasuh, jika dibolehkan, Anda boleh memilih salah satunya, yakni membayar zakat fitrah itu dengan beras, sepanjang panitia setempat berkenan menerimanya; atau dengan uang seharga beras itu sendiri. Pengasuh berharap, panitia zakat di tempat Anda siap menjadi "pelayan" yang baik dan bijak untuk tetap memberikan pilihan muzaki dalam membayar zakat fitrah ini. Maksudnya, baik yang berbentuk beras dan/atau yang berjenis beras tetap dilayani. Insya Allah, keduanya sah secara hukum syariat, dan baik bagi kelengkapan makan-minum para mustahik yang menerima keduanya.

Bukankah mustahik itu tidak cukup dengan hanya mendapatkan beras tanpa uang untuk belanja sayur mayur dan/atau lauk-pauk; Sebagaimana juga kita tahu kebanyakan warga negara/penduduk Indonesia, termasuk Muslimin-Muslimatnya itu bukan kaum vegeterian yang cuma mengonsumsi sayur-sayuran tanpa nasi yang menjadi makanan pokoknya.

Meskipun secara teknis operasional, terutama pendistribusiannya boleh jadi yang berbentuk beras sedikit-banyak memerlukan tambahan tenaga dan/atau sarana (wadah, semisal, plastik lainnya), dibandingkan dengan pembayaran zakat fitrah yang berbentuk uang yang dipandang lebih praktis dan lebih ringan pendistribusiannya; namun demi menghormati keyakinan para muzaki itu maka tentu kurang pada tempatnya manakaala panitia menolak sama sekali pembayaran zakat fitrah yang berbentuk beras.

Untuk memilihnya secara pasti bentuk mana yang akan Anda lakukan, pengasuh yakin Anda bisa mengambil keputusan sendiri, mengingat kedua-duanya adalah insya Allah sama dan bahkan saling melengkapi ketika digabungkan dengan pembayaran zakat dari para muzaki yang lain-lainnya. Anda juga boleh memilih secara silih berganti, misalnya, tahun ini dengan beras dan tahun depan dengan uang, sesuaikan dengan kondisi terutama kebutuhan mustahikkin serta kesiapan panitianya.

Yang tidak boleh kita lakukan ialah tidak membayar zakat fitrah itu sendiri; tidak dengan uang dan tidak pula dengan beras. Bayarlah zakat fitrah Anda dengan uang atau dengan beras. Tidak boleh kurang nilai/timbangannya, sedikit lebih bahkan tetap dibolehkan. Demikian jawabannya, Nisa, semoga bermanfaat, dan Allah meridhai kita semua.

Mari kita berzakat fitrah dan berzakat mal. Paling sedikit bersedekah dan/atau berinfak bagi yang sampai tahun ini belum mampu juga untuk menjadi muzaki dengan zakat mal. Amin. Semoga
Sudah dilihat 41 kali

Komentar