MANUSIA GAGASAN VS MANUSIA FAKTA

41606 medium post 48733 a7b8b64a 4d5c 43f2 bf4a aa03426a9c02 2018 12 04t10 21 07.602 08 00
Knowledge is power if you use it constructively. Hidup di negeri yang kaya dengan corak inconsistent dalam segala bidangnya membuat kita mesti mengubah haluan dalam menetapkan branding kita. Jika tidak, maka banyak orang menganjurkan untuk pindah saja kewarganegaraan.

Kata expert di Indonesia bukanlah sesuatu yang luar biasa, apalagi berlabel paham idealism. Dinegeri ini, apa yang tidak bisa dibuat di negara lain, disini bisa dibuat dan bahkan bisa mendekati kesempurnaan, tak terkecuali semua bidang yang melibatkan government.

Maka sebagai grassroots, kondisi tersebut mesti harus cerdas ditafsirkan untuk bisa eksis di bumi nusantara. Tapi tentu tanpa mengganggu sistem yang sudah mengakar dalam budaya dan tradisi yang katanya ketimuran yang kebablasan.

Saya akan mulai dengan pengertian intelegensi yang berarti daya reaksi atau penyesuaian yang cepat dan tepat, baik secara fisik maupun mental, terhadap pengalaman baru, membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap pakai apabila dihadapkan pada fakta atau kondisi baru. Atau secara singkat diartikan sebagai kecerdasan.

Selanjutnya, ada sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa "pikiran yang memandu intelegensi anda jauh lebih penting daripada seberapa banyak intelegensi yang mungkin anda punyai". Kalimat di atas jika dikaitkan dengan kalimat "Knowledge is power...", maka akan melahirkan seseorang yang berfikir positif dan percaya bahwa dirinya akan lebih berharga 3 kali lipat dibandingkan dengan orang yang intelegensinya lebih tinggi. Dan benang merahnya adalah bagaimana menggunakan pengetahuan secara potensial dan konstruksif.

Dalam satu kisah hidupnya, seorang Einstein pernah ditanya "ada berapa kaki dalam satu mil?" lalu Einstein menjawab "saya tidak tahu, mengapa saya harus mengisi otak saya dengan fakta yang dapat saya temukan dalam waktu 2 menit di dalam buku ensiklopedia?.

Dalam kisah tersebut, Einstein sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita tentang bagaimana menggunakan potensi otak kita untuk berfikir daripada menggnakannya sebagai gudang fakta.

Pemikiran Einstein tersebut menginspirasi penulis tentang bagaimana mendidik para siswa-siswinya di sekolah agar belajar yang dilakukan bukan karena ada ujian, tetapi menjadi kebutuhan yang akan mengawal masa depannya kelak. Selain itu pula, hendaknya siswa/siswi abad 21 yang menjadikan android (internet) sebagai otak keduannya, harus mendaptkan bimbingan dan arahan untuk bisa mengolah, menganalisis, serta membedakan mana konsep yang baik dan hoax. Sehingga diharapkan generasi emas bangsa kedepan akan bisa tumbuh menjadi generasi pemersatu bangsa dalam bingkai nusantara yang memiliki otak dan karakter yang cerdas dan berakhlak mulia. Mampu melahirkan gagasan-gagasan briliant dari setiap proses-proses pembelajaran yang dilakukan.

Ilmu pengetahuan hendaknya dipelajari bukan untuk memenuhi kekosongan otak, lalu menikmati kebanggan dengan predikat "orang cerdas". Tetapi mestinya ilmu pengetahuan dipelajari untuk menjawab dan memecahkan setiap permasalahan hidup yang kita hadapi, sehingga pendidikan-pendidikan yang kita jalani dapat menjadi bermakna, bukan malah menjadi beban seperti kisah seorang sarjana yang tidak dapat mengembalikan sapi ayahnya yang dijual untuk biaya pendidikannya (diambil dari kisah pengalaman Prof. Samani ketika berdialog dengan seorang petani).
Sudah dilihat 133 kali

Komentar