LAPANGAN JANAPRIA DALAM HGN DAN HUT PGRI KE 73

40768 medium post 48031 16c8e841 eb04 4928 9075 c90ea6108516 2018 11 26t10 22 10.528 08 00


Pagi ini, senin 26 nopember 2018, lapangan umum Janapria di desa Janapria kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah dipenuhi oleh batik hitam putih PGRI. Bapak- bapak dan ibu-ibu yang yang menyandang profesi guru dari berbagai jenjang pendidikan itu, hadir atas undangan panitia perayaan Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke 73 kabupaten Lombok Tengah.

Acara tahunan ini dimeriahkan dengan pementasan drama kolosal berjudul “Wasiat Sang Pahlawan Pendidikan”. Drama kolosal yang dipersembahkan oleh sanggar Teater Lentera SMP 3 Kopang itu benar-benar berhasil memukau hadirin. Ide cerita yang diusung menceritakan tentang petuah-petuah agung dari pahlawan pendidikan kita, seperti KH.Hasyim Asy’ari, Jenderal Sudirman dan Soekarno serta pehlawan emansipasi yang pernah memperjuangkan kesetaraan hak antara kaum pria dan wanita, termasuk hak dalam pendidikan, RA. Kartini.

Wasiat-wasiat para pahlawan pendidikan itu, mampu mengiris-iris sanubari pendidik. Saat wasiat agung itu masih berupa sebuah lilin kecil yang harus menerangi persada, masih jauh kata terwujud, ketika tugas pendidikan begitu berat, karena sebagian besar dipikul dipundak para guru honorer.

Adegan pak Ahmad yang mendorong sepeda butut menuju sekolah, membuat ratusan mata yang bernaung dibawah terop menjadi basah, sebasah embun yang masih menempel direrumputan pagi ini. Pak Ahmad dengan bekal ketulusan mendatangi anak-anak yang sedang duel di lapangan rumput. Ketulusannya nampak jelas ketika beliau melerai perkelahian anak-anak yang notabenenya adalah anak-anak dengan latar belakang keluarga yang kurang beruntung alias broken home. Pak Ahmad terus menengahi perkelahian, tak perduli pipi kurusnya terkena kepalan tangan dari salah satu mereka, ah...Pak Ahmad benar-benar tak perduli kerasnya pukulan dari sekelompok tunas bangsa yang tumbuh liar ditanah gersang itu, pukulan yang akhirnya mengantarnya meregang nyawa di Puskesmas terdekat.

Kepergian Pak Ahmad menjadi mimpi buruk bagi murid-muridnya. Terutama untuk Doni, salah satu muridnya yang selama ini tidak pernah perduli dengan ketulusan Pak Ahmad mengayominya.
Benar-benar cerita yang mengaduk-aduk emosi penonton.

Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan marching band dari SDN Durian, group marching yang pernah meraih juara terbaik pertama ketika lomba di tingkat kabupaten beberapa waktu lalu.

Acara terus bergulir, tiba waktunya bapak Bupati Lombok Tengah memberikan sambutan.
Beliau mengajak seluruh hadirin untuk sejenak menundukkan kepala, mendo’akan semua guru, baik yang masih berada ditengah-tengah kita, ataupun yang sudah meninggal dunia.
Selanjutnya beliau menelurkan sebuah keluh tentang kekurangan guru di Lombok Tengah. Ironisnya, jumlah guru yang purnabakti dengan kuota pengangkatan guru oleh Pemerintah Daerah tidak seimbang, imbasnya adalah bertambah banyaknya guru honorer di semua jenjang pendidikan. Sementara kemampuan pemerintah daerah untuk memberikan tunjangan bagi guru honorer sangat terbatas.

Akhirnya...semoga Bapak Bupati sebagai pemegang kebijakan tertinggi di Lombok Tengah ini, akan terus berikhtiar untuk mencari solusi dari salah satu masalah pendidikan ini, paling tidak untuk menjawab keluhnya sendiri.



Sudah dilihat 25 kali

Komentar