Kisah haru bocah 10 tahun rela putus sekolah demi merawat ibunya.

25428 medium pixlr
Ardiansyah bocah asal Dusun Kedung, Desa Kandangrejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan. rela putus sekolah demi mendampingi ibunya.
Perjuangan Ardiansyah untuk merawat ibunya yang sakit membuat trenyuh siapapun yang melihatnya.
Di saat teman-teman sebayanya sibuk bermain dan belajar, ia justru dihadapkan dengan kenyataan lain.
Ia harus merawat ibunya, Fitri Wulandari (26) yang terkulai lemas karena lumpuh yang dideritanya sejak lima tahun terakhir. Bahkan, Ardiansyah rela putus sekolah demi merawat ibundanya.
Sebelumnya, Ardi pernah bersekolah dan memutuskan tak melanjutkan pendidikan lagi karena tak tega melihat kondisi ibunya.
Ia sedih melihat ibunya setiap pagi hingga sore seorang diri tanpa bisa memenuhi kebutuhannya, layaknya ibu normal lainnya.
Bocah yang sempat mengenyam sekolah hingga kelas V SD ini sebenarnya sudah mencoba bertahan belajar di sekolah.
Namun ia ternyata tak mampu membagi waktu antara sekolah dengan merawat ibunya
Terutama saat ia ditinggal ayahnya, Puryanto (38) yang bekerja sebagai buruh tani di desanya.
Ardi, yang saat itu masih sekolah bertugas menggantikan melayani kebutuhan ibunya.
Mulai menyuapi, memberi minum bahkan membersihkan tubuh ibunya usai buang air maupun BAB.
Ardi melakukannya setiap jam istrirahat sekolah. Ia pulang sebentar untuk menyuapi dan memberi minum ibunya.
"Tidak punya sepeda, jadi pulang dan balik ke sekolah pada jam istirahat ya jalan kaki, kadang berlari," ungkap Ardi.
Namun akhirnya Ardi tak kuat secara fisik dan merelakan dirinya tidak bersekolah demi merawat ibunya.
"Tidak tega meninggalkan ibu sendirian di rumah. Semester terakhir kelas lima sudah tidak pernah masuk," kata Ardiansyah.
Kalau pagi, kebutuhan menyuapi makan ibunya masih bisa dibantu sang ayah sebelum berangkat bekerja serabutan.
Pada siang hingga sore,menjadi tanggungjawab Ardi setiap ditinggal Puryanto keluar bekerja, kalau ada warga yang membutuhkan tenaganya.
Ardi sebenarnya masih punya satu saudara, tapi tidak tinggal serumah dengannya.
Satu anak Puryanto diasuh kerabatnya yang masih tinggal satu desa di Kandangrejo.
Puryanto, warga Dusun Kedung, Desa Kandangrejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan mendampingi istrinya bersama anaknya saat tak ada panggilan sebagai buruh tani.
Puryanto mengakui, ia tidak putus asa mengobatkan istrinya, meski tidak lagi memiliki uang untuk biaya pengobatan.
Sejumlah kambing peliharaannya telah dijual untuk biaya terakhir pengobatan istrinya.
"Saya sudah tidak mampu membawa istri berobat, karena sudah tidak punya apa-apa lagi," ungkap Puryanto.
Penghasilan buruh tani hanya cukup untuk kebutuhan makan keluarga mengingat tidak setiap hari pekerjaan tersebut ada.
Menurut Puryanto, ia tidak bisa melarang anaknya yang tak mau sekolah lagi demi merawat ibunya.
Ardi sebenarnya masih semangat menuntut ilmu. Karena keadaan inilah yang membuat Ardi memutuskan tidak mau melanjutkan sekolah.
Sudah dilihat 93 kali

Komentar