Kenalan Yuk dengan Bahasa Indonesia

34246 medium images %2828%29
"Apa si Bahasa Indonesia?"
Kalau membahas tentang Bahasa, jelas tidak akan ada habisnya. Mengutip artikel republika tahun 2016, tercatat jika "indonesia memiliki 7.000 bahasa", keren bukan?, tapi di sini saya tidak menjelaskan tentang bahasa yang sebanyak itu, berhubung besok sudah tanggal 1 Oktober, jadi cukup adil jika hanya Bahasa Indonesia yang saya ambil untuk pembahasan dalam tulisan ini.
Dari pernyataan Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia didapat tanggal 28 Oktober 1928 jadinya Bahasa Indonesia di Indonesia berperan sebagai Bahasa Nasional. Lebih lengkap lagi hal tersebut lantaran para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar tersbut kemudian kita kenal dengan nama Sumpah Pemuda.
Unsur ketiga dari Sumpah Pemuda jelas menyatakan jika mereka bertekad untuk menjadikan Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan Bangsa Indonesia.
Lebih jauh ke belakang melirik Sejarahnya, Bahasa Indonesia rupa-rupanya merupakan perwujudan dari Bahasa Melayu, jika berbicara tentang Bahasa melayu, saya ajak pembaca untuk mengenal Kerajaan Sriwijaya, sebab di zamanya, mutlak penggunaan Bahasa Melayu dipakai sebagai Bahasa Perhubungan (lingua franca) antar suku di Nusantara, dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha, sebagai Bahasa Perdagangan yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara, tak heran jika banyak negara-negara lain yang ikut menikmati penggunaan Bahasa Melayu jika sudah masuk ke wilayah yang dikuasai kerajaan tersebut.
Bukan hanya zaman kerajaan Sriwijaya yang kemudian nama kerajaan tersebut dipakai oleh tim sepak Bola yang bermarkas di Palembang kepulauan sumatera.
Berlanjut semakin melirik ke belakang, didapat fakta jika Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna.
Sejarawan Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K’ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun’lun (Parnikel, 1977:91), K’un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu.
Dari perkembanganya, Bahasa Melayu semakin jelas menunjukan keberadaanya, itu dilihat lagi dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.
Pelosok Nusantara berhasil menjadi penyebaran Bahasa Melayu berbarengan dengan penyebaran agama Islam. Mengutif lagi dari
Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Mengambil penjelasan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, rupa-rupanya Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat nusantara sebagai Bahasa Perhubungan, baik antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa dan antarkerajaan. Hal itu lantaran Bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur atau lebih jelas lagi tidak mempedulikan dari siapa bahasa itu diucap.
Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu
Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.

(ysn)
Sudah dilihat 56 kali

Komentar