Karena Penasaran, Warga Temanggung Sukses Budidaya Lebah Madu Klanceng

63214 medium post 68254 e8b63937 4c33 4d4a b193 72121fe47af2 2019 06 07t12 14 58.002 07 00 63215 medium post 68254 1da9e964 5c7b 44af b3de 70ed87302c3b 2019 06 07t12 14 58.799 07 00
Temanggung - Berbekal rasa penasaran, Pak Yanto warga di Temanggung mulai membudidayakan lebah Klanceng atau Trigona (Stingless Bee). Lebah yang satu ini belum banyak dilirik oleh peternak meski memiliki sejumlah kelebihan.

Budidayanya pun 'bergerombolan'. Halaman depan rumah Pak Yanto di Dusun Kajeran, Desa Pendowo Kranggan, Kabupaten Temanggung dimanfaatkan untuk meletakkan kotak kayu berukuran kecil seperti laci.

Kotak seukuran laci mesin jahit tersebut merupakan sarang lebah Klanceng. Pak Yanto mengatakan proses budidaya klanceng tersebut mulai ia kembangkan kurang lebih 2 tahun yang lalu.

Proses budidaya hewan berkoloni ini berawal dari rasa penasarannya saat menemukan salah satu sarang lebah Klanceng di salah satu batang bambu. Kala itu ia terkejut melihat madu yang cukup banyak saat membelah bambu tersebut. 

"Ternyata madunya itu lumayan banyak, bahkan satu ruas itu hampir terisi madu semua. Dari situlah kemudian saya penasaran dan mencoba mengembangkan. Terlebih harga madunya lumayan mahal," jelas Pak Yanto.

Proses budidaya hewan berkoloni ini berawal dari rasa penasarannya saat menemukan salah satu sarang lebah Klanceng di salah satu batang bambu. Kala itu ia terkejut melihat madu yang cukup banyak saat membelah bambu tersebut. 

"Ternyata madunya itu lumayan banyak, bahkan satu ruas itu hampir terisi madu semua. Dari situlah kemudian saya penasaran dan mencoba mengembangkan. Terlebih harga madunya lumayan mahal," jelasnya. 

Lebah Klanceng diyakini dapat menghasilkan lebih banyak madu ketimbang lebah biasa. Apalagi lebah yang satu ini tidak menyengat. Selain itu budidayanya pun tidak sulit, dan konon hanya dibutuhkan waktu 3-4 bulan untuk bisa memanen madu yang diharapkan.

Kendati demikian, awalnya Pak Yanto mengaku sempat mengalami kesulitan, terutama ketika harus memisahkan sarang lebah agar bisa dijadikan beberapa koloni. Namun setelah melakukan beberapa kali percobaan, proses ini akhirnya ia kuasai. 

Beternak lebah Klanceng disebut Pak Yanto juga lebih ringan dibanding dengan ternak hewan lain, karena tidak membutuhkan perawatan yang rumit, terlebih hewan bersayap tersebut tidak membutuhkan pakan.

"Kalau kita ternak lebah ini tidak perlu cari pakan atau beli pakan, karena lebahnya yang cari pakan sendiri. Hanya saja kita harus teliti dan selalu mengontrol perkembangannya, terutama dari serangan predator, salah satunya semut," pesan Pak Yanto.

Selain itu agar produksi madunya lebih banyak, usahakan di sekitar lokasi kandang itu ditanami bunga, karena itu lumayan berpengaruh," tambahnya.

Pak Yanto mengungkapkan, dari hasil peternakan yang dikembangkan dua tahun terakhir, rata-rata mampu menghasilkan madu hingga beberapa liter. Madu murni itu rata-rata dijual dengan harga yang berbeda, mulai Rp 100 ribu, 150 ribu, dsb.

Menurut Pak Yanto, dalam pemasaran madu Klanceng hanya mengandalkan pesanan dari mulut ke mulut. Biasanya madu baru diunduh apabila ada pemesan yang datang langsung ke rumahnya atau diunduh dan disimpan di rumah.

"Misalkan ada yang datang butuh setengah botol untuk mengobati sakit, baru saya ambilkan dari sarang, jadi madunya masih fresh," katanya. 

Dengan beternak lebah Klanceng, Pak Yanto mendapatkan pemasukan tambahan.

Namun ke depan, Pak Yanto berharap ada pembinaan lebih lanjut dari instansi terkait, sehingga budidaya madu Klanceng tersebut bisa berkembang. 



Penulis: Manap Trianto
Sudah dilihat 452 kali

Komentar