Kang Didin, Si Pendekar Dongeng yang Ingin Dongeng Tetap Lestari

63778 medium tokoh dongeng
Oleh : Husnul Khatimah

BOGOR TIMUR, AYOBOGOR.COM -- Kang Didin, begitu anak-anak kerap menyapanya, merupakan salah satu begawan pendongeng di Bogor, bahkan tanah air. Ia dikenal dengan sebutan Pendekar Dongeng Indonesia.

Kang Didin merupakan pendongeng dengan jam terbang yang cukup tinggi, kegiatannya berkisah kepada anak-anak bukan hanya di Bogor saja, sejumlah daerah di tanah air seperti Kalimantan, Batam, Aceh, Lombok dan daerah-daerah di pulau Jawa sudah pernah dia arungi karena permintaan mendongeng.

Pendekar Dongeng Indonesia yang disandang oleh dirinya karena bentuk fisiknya yang pendek, berbadan gempal dan sedikit kekar. Kemudian gayanya yang sering menirukan seorang pendekar saat membawakan dongeng juga menjadi alasan sebutan itu.

"Mungkin orang berasumsi pendekar itu adalah jagoan, bukan pendekar itu pendek dan kekar, saya kan fisiknya pendek tapi saya gendut dan kekar sehingga disingkat jadi pendekar jadi pendekar dongeng Indonesia bukan jagoan dongeng cuma karena saya orang pendek dan kekar yang bisa mendongeng dalam bahasa Indonesia," ujar Kang Didin.

Pria pemilik nama asli Rohidin ini mengatakan mendongeng ia jadikan sebagai profesi sejak tahun 2012. Pilihan hidupnya menjadi seorang pendongeng diambil karena keprihatinannya terhadap kelestarian dongeng di jaman serba digital.

"Awal mula masuk ke dunia dongeng karena keprihatinan Kang Didin terhadap majunya teknologi, jadi anak-anak Indonesia terutama di Bogor lebih tertarik dengan gadget-nya, handphone-nya sehingga tidak mau mendengar dongeng sedangkan dengan mendengar anak bisa menjadi cerdas, dan dongeng adalah budaya yang diturunkan nenek moyang kita yang harus dijaga," kata Kang Didin.

Sebelum menjadi seorang pendongeng Kang Didin merupakan seorang guru SD, SMP dan SMA dan bahkan sempat menjadi seorang dosen walaupun hanya satu semester. Profesi sebagai tenaga pengajar ia lepaskan karena keinginannya untuk melestarikan dongeng.

"Kenapa Kang Didin punya kekawatiran yang berlebihan terhadap dongeng karena ketika Kang Didin kecil asik ketika mendengarkan dongeng sementara anak-anak sekarang tidak pernah tertarik mendengarkan dongeng padahal dongeng itu banyak memberikan nilai yang baik untuk anak, ada mamfaat, dengan dongeng sianak bisa mendapat pelajaran tanpa digurui dia bisa menerima pelajaran tanpa dipaksa, dalam dongeng ada nasehat tapi tidak menasehati tapi Kang Didin sedih kehebatan dongeng ini sudah tidak digunakan lagi sehingga Kang Didin meras harus berbuat sesuatu yaitu jadi pendongeng," ungkap Kang Didin.

Ketika mulai terjun ke dunia dongeng Kang Didin tak langsung mendapatkan panggung namun dia tak patah semangat berbagai metode mendongeng dia tekuni dan mencoba membuat inovasi cara menyampaikan dongeng yang asik dan mudah dicerna anak-anak.

"Cara penyampaiannya Kang Didin tergantung kebutuhan jika ketemu anak TK, maka saya gunakan alat apa yang membuat anak TK suka jika SD saya gunakan cara anak SD dan terpenting Kang Didin harus menghayati cerita dongeng yang disampaikan agar anak juga terbawa suasana, saat itulah anak akan merasa senang saat dia terbawa suasana," kata Didin.

Tema yang sering dibawakan oleh Kang Didin saat mendongeng adalah tema-tema yang mengandung nilai sosial dan cerita dongeng yang menumbuhkan mimpi anak-anak untuk mempunyai cita-cita dalam hidupnya yang harus digapai.

Dalam menyampaikan dongeng Didin mengaku berupaya agar nilai-nilai kebaikan yang dia sampaikan dalam dongeng betul-betul diserap oleh anak-anak caranya adalah dengan cara melibatkan perasaan anak-anak.

"Contohnya, agar anak-anak gak buang sampah sembarangan, maka Kang Didin beri pemahaman apa dampak buruk buang sampah sembarangan. Dalam imajinasi anak buang sampah sembarangan bisa bikin banjir, namun Kang Didin sampaikan dengan buang sampah tidak hanya bikin banjir namun juga bisa buat diri kita menjadi sakit karena sampah yang dihinggapi lalat kemudian nempel dimakanan kita, bisa jadi sumber penyakit bagi," kata Didin.

Selama menjadi pendongeng selama 8 tahun lamanya sudah banyak asam garam yang dirasakan Kang Didin namun tak membuatnya berhenti karena pendiriannya teguh ingin melestarikan dongeng dan menanamkan nilai kebaikan kepada anak melalui dongeng.

"Kang Didin gak akan berhenti mendongeng, kedepan, citanya Kang Didin bisa menyebar virus mematikan agar orangtua mau mendongeng kepada anak karena banyak orangtua tidak suka mendongeng, harapan Kang Didin pengen bikin gerakan wajib mendongeng, supaya dongeng yang merupakan warisan nenek moyang kita tetap terjaga," tukasnya.

Sudah dilihat 54 kali

Komentar