Kami Berbeda Tapi Kami Bangkit dan Bergerak Untuk Hidup

41580 medium post 48711 269353d6 05ab 4738 a3c4 9b969d3c9bf2 2018 12 03t20 13 30.410 07 00
Assalamualaikum Atmaguys, selamat malam. Selamat menikmati sejuknya udara setelah hujan bagi warga Jakarta dan sekitarnya. By the way, tahukah Atmaguys bahwa hari ini adalah satu hari yang spesial? Hari ini, tepat pada tanggal 3 Desember. Seluruh dunia sedang memperingati hari disabilitas internasional. Tentu saja peringatan ini diramaikan di banyak daerah, seperti di Tangerang, Kemkominfo baru saja menggelar sebuah rangkaian acara senam bersama kaum difabel untuk memperingati hari ini.
Bicara tentang kaum difabel memang tidak mudah ya, banyak sekali kategori kaum difabel dan banyak pula penyebab mereka mengalami nasib seperti itu.
Bagaimana mereka menjalani hari pun tak luput dari sorotan dunia. Karenanya, konvensi PBB tentang hak penyandang disabilitas, yang juga telah diratifikasi pemerintah RI dengan UU No. 19/2011, mendorong pihak-pihak terkait agar penyandang disabilitas juga mendapatkan haknya untuk berpartisipasi penuh dalam kegiatan di masyarakat.
Meskipun pada kenyataannya kaum difabel masih mengalami kesulitan akses dalam kehidupannya, seperti akses mendapatkan angkutan umum yang ramah difabel juga soal sulitnya mendapat pekerjaan akibat dirasa kurang mampu menerima tanggungjawab saat bekerja, bahkan hak suara saat pemilihan umum.
Berawal dari keprihatinan seorang Triyono, Ia mengembangkan sebuah layanan ojek dirintis di Yogyakarta untuk menyediakan sarana transportasi yang nyaman untuk para difabel. Difa City Tour dan Transport, satu satunya layanan ojek kaum difabel pertama di Asia yang dirintis Triyono sejak Desember 2015 lalu dan kini telah mengoperasikan lebih dari 15 motor yang telah dimodifikasi dengan menyesuaikan kebutuhan si pengendara yang juga kaum difabel.
Lain di Yogyakarta, lain pula cerita di desa Karangpatihan, Ponorogo. Terdapat 30 orang di desa ini yang lahir dengan jenis kebutuhan khusus yang berbeda - seperempat dari total penduduk yang berjumlah 120. Dan itu bukan terjadi hanya di Karangpatihan saja. Di dusun lain di Kabupaten Ponorogo, seperti Sidowayah dan Pandak, memiliki cerita yang sama. Permasalahan itu sudah ada sekitar 60 tahun yang lalu.
"Mayoritas orang yang lahir dengan cacat fisik umumnya dilahirkan di tahun 1950-an," kata Mulyadi. "Tidak ada dokter di sini pada saat itu dan desa itu sangat miskin. Tidak sampai umur empat atau lima tahun, penduduk desa ini mulai memahami bahwa anak-anak mereka tidak seperti anak-anak lainnya."
Mulyadi adalah satu-satunya remaja di desa itu yang lulus dari sekolah dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ketika ia kembali ia merasa itu adalah tanggung jawabnya untuk melakukan sesuatu.
Mulyadi percaya bahwa orang orang dengan disabilitas ini mampu melakukan apa yang orang lain lakukan, untuk itu dia memulai dengan mengajarkan mereka bahasa isyarat, mengasihi mereka yang sempat dikucilkan bahkan dipasung dan di ikat, mengajarkan mereka bagaimana caranya membangun sebuah bangunan.
Apa yang dikatakan Mulyadi benar benar terjadi, kita hanya perlu memahami mereka untuk mengerti isi pikiran mereka. Mulyadi merupakan salah satu yang berhasil membangkitkan semangat hidup orang-orang difabel di Karangpatihan.
Kita semua katanya mengharapkan hak kesetaraan untuk para difabel, tapi mari kita lihat lagi. Apakah kita sudah berlaku ramah dan adil pada mereka?
Berbeda adalah normal, menjadi unik adalah normal karena manusia adalah sosok individu dan tiap individu adalah berbeda. -Phil Friend #DisabilitasBergerak
Referensi :
https://www.britishcouncil.id/hari-disabilitas-internasional
http://difacitytour.com
https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160829_majalah_ojek_difabel
https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160120_majalah_desa_orang_cacat
Sudah dilihat 30 kali

Komentar