Jelang Mudik, Pemerintah Diminta Benahi Juga Jalur Arteri

61100 medium suasana nyepi di bali 070319 fik 6 1
Oleh : Adi Ginanjar Maulana

JAKARTA, AYOBOGOR.COM--Pemerintah diharapkan tidak hanya memperhatikan kondisi ruas tol tetapi juga tidak mengabaikan kondisi ruas bukan tol yang akan banyak digunakan pula oleh para pemudik dalam periode Lebaran 2019.

"Pemerintah jangan lengah dengan kehadiran tol, akan tetapi juga harus memperhatikan jalur bukan tol," kata pengamat transportasi Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Djoko Setijowarno menekankan agar jalan bukan tol harus dirawat seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota.

Hal seperti kecukupan rambu, marka, penerangan jalan umum dan APILL harus diperhatikan, karena pemudik pasti juga akan menggunakan jalan bukan tol untuk tiba di tempat tujuannya.

Selain itu, ujar dia, kondisi ruas nontol juga penting agar pemudik yang menggunakan sepeda motor tidak sampai mengalami kecelakaan karena jalannya masih banyak yang berlubang.

"Waktu istirahat juga harus diperhatikan dengan cermat oleh pemudik roda dua," kata Djoko.

Ia menambahkan bahwa jika malam hari merasa tidak nyaman menggunakan sepeda motor, sebaiknya beristirahat, karena rasa kantuk sekejap bisa menjadi penyebab kecelakaan.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kembali menekankan bahwa isu keselamatan perlu mendapat perhatian lebih dalam penyelenggaraan angkutan Lebaran 2019.

Menhub menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta dengan pengelola jalan tol, dalam rangka mengidentifikasi jalur-jalur rawan dan berbahaya agar dibuat rambu dan rencana teknis untuk penurunan kecepatan dalam berkendara.

Budi menambahkan Kemenhub sangat memperhatikan aspek keselamatan para pemudik pengguna sepeda motor karena penggunaan sepeda motor sebagai angkutan mudik dinilai menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang banyak terjadi saat angkutan Lebaran.

“Mudik dengan sepeda motor dengan kecepatan 60 kilometer per jam itu melelahkan. Oleh karenanya, kami mengimbau intensif agar para pemudik pesepeda motor mengikuti program mudik gratis yang dikombinasikan dengan bus, kereta api, dan angkutan laut," kata Budi.

Ia juga mengimbau perusahaan-perusahaan BUMN dan swasta untuk membuat program mudik gratis sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk menambah jumlah kuota bagi para pemudik sepeda motor.

Sudah dilihat 38 kali

Komentar