Jejak tukang copet di Kopaja

2098 medium copet
Kopaja 19 jurusan Tanah Abang-Cilandak itu melaju kencang ketika melihat para penumpang Commuter Line keluar dari Stasiun Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Kernetnya melambaikan tangan sambil menggenggam uang kertas ribuan. Ketika mobil itu mendekat, sang kernet mengetuk kaca dengan uang logam.

"Blok M..Senayan," teriak sang kernet sambil memegang besi penyanggah di pintu Kopaja.

Saban hari di jam-jam sibuk seperti masuk dan pulang kantor, angkutan berwarna hijau putih itu memang selalu ditunggu penumpang. Kehadiran sebagai moda transportasi melintas di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman itu memang menjadi primadona bagi karyawan bekerja di kawasan tersebut. Tarif buat sekali naik pun murah. Rp 3 ribu.

Namun dibalik kehadirannya sebagai moda transportasi, ada banyak cerita tindak kriminal di Kopaja 19. Salah satunya ialah menjadi sarang gerombolan copet beraksi. "Biasanya kalau mobil penuh suka banyak copetnya," ujar Dimas, 28 tahun, salah seorang pegawai Bank BUMN saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa siang kemarin.

Dimas mafhum betul bercerita aksi gerombolan copet mencari sasaran penumpang di angkutan sering dia tumpangi itu. Sudah enam tahun ini Dimas bolak-balik menuju kantornya dengan angkutan itu dari Stasiun Dukuh Atas. Bahkan Dimas menyebut jika dari Stasiun Kereta itu juga komplotan tukang kuntit berkumpul menarget mangsa.

"Mereka naik dari Stasiun Sudirman karena di sana banyak penumpang dan dekat halte transit Bus Trans Jakarta," ujarnya.

Secara fisik kata Dimas memang sulit membedakan gerombolan copet itu. Ketika beraksi, komplotan itu berdandan layaknya orang kantoran. Pakaian mereka rapih dan tak terlihat jika mereka merupakan pelaku tindakan kriminal dalam angkutan. Namun ada perbedaan mencolok dari para pelaku itu.

Menurut Dimas, ketika akan melakukan aksinya mereka biasanya akan saling memberikan kode dalam bahasa tubuh. Misalnya dengan mengedipkan mata atau saling menggesekkan lengan. "Mereka biasanya masuk dari pintu belakang dan sudah paham kerjanya masing-masing," kata Dimas.

Komplotan pencopet di Kopaja 19 memang sudah diketahui oleh para karyawan bekerja di sekitaran Jalan Jenderal Sudirman. Intan Permatasari salah satunya, dia sering kali memergoki komplotan tukang kuntit dompet itu beraksi di Kopaja 19. Menurut karyawati di salah satu pembiayaan Jepang itu menuturkan, biasanya komplotan itu memang sering melancarkan aksinya ketika jam-jam sibuk.

Paling sering Intan mengaku kerap melihat mereka ketika pulang kerja dan menumpang Kopaja itu. Salah seorang komplotan itu juga sampai dihafal Intan. Biasanya kata dia, mereka menumpang Kopaja 19 dari arah Blok M. Formasi duduknya pun sudah diatur. Satu orang duduk dekat pintu belakang. Kemudian dua orang berdiri dekat pintu dan satu orang berada di samping sebelah kanan tepat di jejeran bangku belakang.

"Kalau pulang Kopaja 19 sudah pasti penuh. Biasanya mereka (copet) sudah ngincar calon korban," ujar Intan.

Dia pun menuturkan jika dalam beraksi bisa lima orang komplotan itu bekerja. Masing-masing kelompok itu mencari kelengahan korban, misal menaruh barang-barang berharga di tempat mudah untuk diambil. Biasanya komplotan copet itu juga mencari korban yang terlihat buru-buru. Apalagi, para copet itu juga terbilang nekat.

"Banyak yang kemudian akhirnya diam saja karena takut dituduh juga. Jumlah mereka kan banyak," kata Intan.
Sudah dilihat 133 kali

Komentar