Gimana Cara Menjadi Jurnalis Lingkungan?

27815 medium post 37002 c35d121d 116f 4349 a20b ca3a46ed6b6b 2018 07 08t21 03 45.596 07 00
Indonesia disebut sebagai mega biodiversity, negara dengan keanekaragaman hayati (kehati) yang menempati posisi teratas di dunia. Namun, tidak banyak yang mengerti mengenai hal itu.

Itu berkait dengan minimnya pemberitaan. Jika dipelajari, isu lingkungan menjadi begitu seksi karena dapat dikaitkan dengan aspek ekonomi, sosial, hingga politik yang memengaruhi kehidupan manusia.

Itulah salah satu motif diselenggarakannya lokakarya selama tiga hari mulai 29 Juni-1 Juli 2018 di Medan oleh Climate Tracker. Climate Tracker adalah organisasi jurnalisme yang dipimpin para pemuda dengan jaringan global lebih dari 7.000 jurnalis dan komunikator lingkungan.

Sebelumnya, Climate Tracker telah mengadakan lokakarya jurnalisme lingkungan hidup di Bandung. Tahun ini, pulau Sumatera dipilih sebagai representasi dari kekayaan kehati yang dimiliki Indonesia dengan tema biodiversity dan deforestasi Indonesia.

Untuk mengikuti lokakarya itu, peserta harus memublikasikan tulisan terkait tema di media cetak maupun daring. Dari total 600 lebih tulisan, hanya diambil 14 peserta yang berkesempatan untuk mengikuti lokakarya secara gratis.

Para peserta yang terpilih berasal dari Aceh, Bengkulu, Riau, Medan, Samarinda, Surabaya, Jakarta, Sumedang, Lampung, Yogyakarta, Bandung, hingga Ternate.

Dengan beragam latar belakang, ada yang jurnalis profesional, jurnalis dari NGO lingkungan hidup, jurnalis daerah, hingga mereka yang berangkat dari kecintaannya pada lingkungan.

Chris Wright, Direktur Manajer Climate Tracker mengatakan, dengan dukungan yang tepat, siapa pun, terutama para pemuda, dapat menjadi suara yang kuat untuk aksi perubahan iklim. Demikian juga dengan isu lingkungan lainnya

“Kami mencari jurnalis muda dari Indonesia yang ingin membuat perubahan dengan menulis mengenai deforasti di Indonesia serta dampaknya terhadap kehati lokal,” tutur Chris Wright pada sesi pembukaan.

Selama tiga hari, peserta belajar lebih tentang deforestasi, biodiversity, media, hingga teknik pemberitaan isu lingkungan dari para pembicara ahli. Pembicaranya mulai dari akademisi, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, dan Direktur The Society of Indonesia Environmental Journalists. Ada juga aktivis lingkungan hidup, dan balai konservasi.

Beragamnya latar belakang peserta dan para pembicara membuat lokakarya berjalan penuh warna. Banyak perspektif baru yang didapat dan belajar banyak hal baru dari setiap peserta.

“Waktu tiga hari sepertinya belum cukup untuk menjadi seorang jurnalis lingkungan. Dengan terus berlatih menulis tentang isu lingkungan dapat menjadikan manusia lebih bijaksana dalam menghargai lingkungan,” komentar Ida, peserta dari Lampung.

Sumber:
http://surabaya.tribunnews.com/2018/07/08/ini-cara-menjadi-jurnalis-lingkungan
Sudah dilihat 63 kali

Komentar