Genduren Perekat Persatuan

37046 medium post 45096 058072b7 f899 43fb 985a 18528e2c45e1 2018 10 25t11 11 32.101 07 00
Genduren adalah sebuah tradisi berkumpul yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa orang, biasanya laki-laki, dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan dari sang penyelenggara yang mengundang orang-orang sekitar untuk datang. Bisa berujud selamatan syukuran, bisa juga berujud selamatan peringatan. Lebih jauh bahwa Genduri sebagai alat pemersatu dalam lingkungan masyarakat. Dan Genduri telah menumbuhkan jiwa gotong-royong yang berkembang baik.
Dalam Genduren itu dipanjatkan aneka doa. Siapakah yang bisa memanjatkan doa ? Dilaksanakan pada sore hari atau malam hari. Biasanya ada satu orang yang dituakan berfungsi sebagai pemimpin do’a sekaligus yang mengikrarkan hajat dari sang tuan rumah. Seorang pemimpin itu biasa juga disebut sebagai Ro’is, Kaum, Pemimpin Rohani dan diundang sendiri karena orang itu memang sudah biasa menjalankan peran dan fungsi sebagai pemimpin doa dalam Genduren, tetapi jika tidak ada, Genduren bisa juga dipimpin oleh orang yang dianggap tua (kepala adat) dan mampu untuk memimpin Genduren tersebut.
Persoalan akan muncul ketika Genduren yang berangkat dari sebuah tradisi dibenturkan dengan penghayatan agama. Bukan soal apakah menurut agama, Genduren itu boleh atau tidak. Tetapi bagaimana jika seorang pemeluk agama yang satu mengundang pemeluk agama yang lain ? Apakah itu boleh atau tidak ? Apakah ketika mau datang ke acara Genduren itu, yang beragama lain itu lalu berdosa ?
Sehingga perlu kiranya Genduren dimaknai sebagai bentuk syukur dan sekaligus permohonan kepada Yang Maha Kuasa.
Seperti yang terjadi di rumah *Mbah Somo Pawiro*, _87 tahun_. Beliau tinggal di Dusun Gowok, Desa Kebonharjo, Kecamatan Samigaluh. Pada hari Minggu, (21/10) pukul 15.00 WIB telah di adakan Genduren peringatan _1000 hari_ meninggalnya *Mbah Jemirah*. Mbah Jemirah adalah istri Mbah Somo Pawiro yang telah dipanggil Tuhan kurang lebih 3 tahun yang lalu. Sengaja penulis tidak akan membawa masuk kedalam persoalan mengapa dan kenapa Mbah Jemirah meninggal dan sebagainya. Tetapi setidaknya ini menunjukkan bahwa tradisi budaya ini masih berlaku dan melekat khusunya di dusun Gowok dan wilayah Kebonharjo umumnya. Ini semakin meneguhkan bahwa sebuah tradisi budaya telah dibawa dalam sebuah kerangka penghayatan agama.
Menurut *Rohmad Ahmadi* selaku Kepala Desa Kebonharjo yang sama-sama tinggal di Dusun Gowok, bahwa ada banyak alasan dan pendapat yang bisa diberikan terhadap Genduren. Masing-masing tentu dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, masing-masing pendapat itu tentu benar. Persoalan itu tidak akan membesar ketika masing-masing dengan legawa menempatkan Genduri dalam kerangka sebuah tradisi budaya masyarakat Jawa. Sebuah tradisi budaya adalah sebuah tradisi yang melintasi agama. Dalam budaya, semua dilebur menjadi satu bagian sebagai _human society_ yang berinteraksi dengan yang lain. Bahkan dalam peradaban modern saat ini persoalan bencana yang mendera planet ini . Genduri merupakan instrumen mitigasi bencana dalam upaya menggalang komitmen dan kebersamaan dalam menghadapi bencana.
Sedangkan menurut tokoh agama Dusun Gowok *Sartono* bahwa Genduri adalah sebuah permintaan doa. Siapa pun dia, apa pun agamanya meminta doa dari orang lain adalah baik. Tidak tepat dan benar, tetapi bisa dipertimbangkan, kita juga sering meminta didoakan sahabat kita tanpa melihat dia agamanya apa. Kita juga tidak memaksa orang untuk mendoakan kita menurut keyakinan kita. "Pungkasnya"
Oleh sebab itu dengan keyakinannya sendiri, orang itu dengan tulus akan mendoakan permintaan kita. Rasanya, hakekat Genduri juga demikian adanya. Seseorang mengundang orang lain untuk mendoakan hajatnya. Tentu bukan menurut orang yang mengundang, melainkan menurut apa yang diyakini oleh orang-orang yang ada dan hadir pada saat itu.
Red.
Sudah dilihat 65 kali

Komentar