Gelar aksi keprihatinan nelayan payang

Data?1515417594

*RIBUAN NELAYAN DAN MASYARAKAT PELAKU PERIKANAN LAMONGAN, MACETKAN LAMONGAN PANTURA*
*GELAR AKSI KEPRIHATINAN ATAS KETIDAK ADILAN PELARANGAN PAYANG/CANTRANG*

Blimbing & Jompong, 8 Januari 2018,
Ribuan Masyarakat Pantura Lamongan, hari ini menggelar aksi Parade Keprihatinan Nelayan dan Masyarakat Perikanan Lamongan, menuntut untuk pencabutan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan, Permen KP No. 71 Tahun 2016. Sebagaimana kita ketahui Permen KP yang merupakan turunan dari Permen Sebelumnya yaitu Permen KP No. 2 Tahun 2015 melarang penggunaan alat tangkap pukat tarik Payang/
Cantrang untuk digunakan oleh Nelayan dengan alasan tidak ramah lingkungan. sedang Masyarakat Lamongan Pantura sebagian besar adalah pengguna alat tangkap itu. mereka mengatakan bahwa tuduhan menteri kp adalah sangat tidak beralasan dan tanpa kajian. ini dapat dilogikan ketika pukat tarik payang dituduh merusak terumbu karang, sedang terumbu karang ada dalam perairan 12 mil kebawah atau dilaut dangkal karena tetumbu karang juga membutuhkan fotosintetis sinar matahari untuk kehidupannya, padahal Nelayan yang menggunakan alat tangkap payang mengopetasikan alat tangkap payang itu di laut dalam 12 Mil keatas. secara logika adalah tidak berdasar, tapi kengototan menteri susi yang sudah kalah kajian yang membuat nelayan kembali memperjuangkan kembalinya legalitas payang yang memang awalnya adalah sudah legal. " Bagaimana Nasib kita kalau memang payang dilarang, apalagi tuduhan merusak ini tidak berdasar, hanya sekedar menuduh saja dan tanpa memberi Solusi tepat Guna buat nelayan", ujar Surofik, salah satu nelayan payang asal Grenjeng Blimbing.
Sejak Pukul 07.00 Wib, massa nelayan mulai terlihat berkumpul di halaman kantor Rukun Nelayan Blimbing. ada yang mulai mempersiapkan atribut serta properti alat peraga yang dipakai dalam aksi, ada yang menyiapkan tanda berupa janur kuning sebagai pertanda sebagai peserta resmi sebagsi upaya agar tidak ditungganggi dan disusupi oleh orang tidak dikenal. Dan akhirnya sekitar pukul. 09. 00 Wib, dipimpin oleh Ketua Aliansi Nelayan Indonesia ( ANNI ) Lamongan, Agus Mulyono akhirnya berangkat memulai aksi long march menuju PPDI Brondong. namun sebelum peserta memulai aksinya, serempak menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sedikit pesan dari Kapolres Lamongan, AKBP Feby D.P Hutagalung, S.I.K, M.H yang meminta semua bisa menjaga ketertiban dan keamanan bersama. Sebelum berangkat, Do'a bersama pun dipimpin oleh Kapolairud Lamongan. Sekitar 9.000 Massa mulai long march dengan barisan depan Adalah pasukan ibu-ibu pemilah atau ngorek yang jumlahnya mencapai seribuan, di susul mobil Orasi yang memegang kendali acara serta di belakangnya adalah barisan nelayan, penjual dan pembeli ikan, pemborong, kuli angkut atau manol, tukang bersih perahu dan masyarakat yang peduli dan terdampak dari permen itu.
Dalam perjalanan, orasipun di lakukan dari mobil, dan yang kebagian dalam orasi adalah, Agus Mulyono, Ketua Aliansi Nelayan Indonesia Lamongan, Fairys Firdaus, Sekretaris Rukun Nelayan Blimbing Lamongan serta ir. Sudarlin, tokoh Nelayan Lamongan. Dalam orasinya, Agus Mulyono menyampaikan bahwa kebijakan Menteri Susi melarang Payang/cantrang adalah sangat menyengsarakan rakyat. karena benar-benar mematikan pencaharian masyarakat pantura. " Kebijakan Susi adalah kebijakan yang tidak berdasar, satu sisi negara meningkatkan produksi perikanan, tapi disis lain nelayan dimatikan usahanya. apakah ini suatu keadilan ? ", Tanya Agus dalam Orasinya. Dalam orasi lain, Fairys memaparkan sejarah payang yang lahir dari inovasi masyarakat Lamongan sendiri, " seharusnya ini oleh pemerintah harus diapresiasi sebagai kekayaan intelektual, payang tercipta setelah menguji coba alat tangkap lain dan hamya payanglah yang terbukti sejahtera dan mensejahterakan, Yik Rais adalah pahlawan Nelayan karena berkat karyanya yang menciptakan alat tangkap Gardan yang berguna bagi anak cucu dan masyarakat, " Jelas Fairys menerangkan sejarah Payang dengan heroik.
Saat tiba di lokasi yaitu di Pusat Perdagangan dan Distribusi Ikan ( PPDI ) Lamongan atau di Pelabuhan Baru, sejumlah perwakilan pun mulai juga menyuarakan keluh kesahnya di mimbar. mulai dari ibu-ibu pemilah yang menyuarakan bahwa sejak Awal Januari sampai sekarang, mereka tidak bekerja, betapa penderitaan yang mereka radakan sudah begitu luar biasa, sampai anak-anaknya sekolah tak bisa dapat uang saku. selain itu dari perwakilan pikul atau buruh angkut tak ketinggalan angkat bicara tentang keresahannya.
Sekitar Pukul 12 Siang, setelah semua menyampaikan apa yang menjadi keresahan dan ketidak adilan yang mereka rasakan, massapun memvubarkan diri dengan tertib. " Kami bersyukur, syukur Alhamdulillah, aksi ini berjalan dengan tertib tanpa ada satu insiden sedikitpun. ucapan tetimakasih kepada teman-teman yang telah kompak dan tertib, semoga ini dapat menjadi awal jalan yang baik bagi kita semua", Ujar Eddy Salah satu koordinator lapangan dalam aksi ini *( ASF. RA. MHS )

Komentar