GEDUNG AGUNG ISTANA NEGARA YOGYAKARTA

2 December 2019, 10:35 WIB
1 0 183
Gambar untuk GEDUNG AGUNG ISTANA NEGARA YOGYAKARTA
GEDUNG AGUNG ISTANA NEGARA YOGYAKARTA

Gedung Agung pada awalnya adalah rumah kediaman resmi Residen Belanda ke-18 di Yogyakarta, Anthonie Hendriks Smissaert. Dia juga penggagas atau pemrakarsa pembangunan gedung ini. Gedung Agung ini dibangun pada Mei 1824. Pada waktu itu, sang residen mengajukan pembangunan gedung ini sebagai kediaman resmi atau rumah dinas bagi residen yang bertugas di Yogyakarta. Karena tidak mau kalah dengan wibawa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, maka pembangunan gedung ini pun juga tak kalah megahnya dengan kediaman Sultan Yogyakarta tersebut.

Dalam pembangunan gedung ini, Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Godert Alexander Gerard Phillip Baron van der Capellen (1816-1826), menunjuk langsung seorang arsitek bernama Antonie Auguste Joseph Payen. Payen adalah seorang arsitek berkebangsaan Belgia yang gemar melukis dan membuat litografi.

Pembangunan gedung ini sempat tertunda karena terjadinya Perang Jawa (1825-1830). Perang gerilya yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya, nyaris membuat Pemerintah Hindia Belanda mengalami kebangkrutan. Sehingga, pembangunan gedung tersebut terbengkelai. Baru dilanjutkan kembali setelah berakhirnya perang tersebut, dan selesai pada tahun 1832. Pada 10 Juni 1867, gedung ini mengalami rusak parah akibat gempa bumi yang melanda Yogyakarta, dan dipugar kembali pada tahun 1869.

Pada 19 Desember 1927, status administratif wilayah Yogyakarta sebagai karesidenan ditingkatkan menjadi provinsi di mana gubernur menjadi penguasa tertinggi. Dengan demikian, gedung tersebut menjadi kediaman para gubernur Belanda di Yogyakarta. Beberapa gubernur Belanda yang pernah mendiami gedung ini, adalah J.E. Jesper (1926-1927), P.R.W. van Gesseler Verchuur (1929-1932), H.M. de Kock (1932-1935), J. Bijlevel (1935-1940), sampai pada L. Adam (1940-1942).

Pada masa pendudukan Jepang, Gedung ini digunakan untuk kediaman petinggi Jepang bernama Kooch Zimmukyoku Tyookan. Kemudian, setelah Jepang hengkang dari Yogyakarta, pada tanggal 29 Oktober 1945 gedung ini digunakan untuk Kantor Komite Nasional Indonesia.

Namun, sejak 6 Januari 1946, gedung ini resmi menjadi Istana Kepresidenan Republik Indonesia bertepatan dengan dijadikannya Yogyakarta sebagai ibukota sementara pada waktu itu. Gedung ini menjadi kediaman Presiden Soekarno bersama keluarga. Sedangkan Wakil Presiden RI Moh. Hatta bersama keluarga menempati gedung di sebelahnya yang saat ini menjadi markas Korem 072 Pamungkas.

Dalam catatan sejarah, Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman dilantik oleh Presiden Soekarno pada tanggal 3 Juni 1947. Bahkan saat peristiwa Agresi Militer II 18 Desember 1948, Presiden Soekarno, Wakil Prersiden Moh. Hatta dan sejumlah menteri juga ditangkap di Gedung Agung sebelum diasing ke luar Pulau Jawa. Setelah kembali dari pengasingan Presiden Soekarno kembali menempati Gedung Agung hinggga kemudian ibu kota RI kembali berpindah ke Jakarta.

Sumber : https://www.facebook.com/Yogya.Kota.Budaya/posts/750

  Komentar untuk GEDUNG AGUNG ISTANA NEGARA YOGYAKARTA

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. Ibu Ratna Memberdayakan Ibu-Ibu Dengan Mengolah Kain Limbah Industri Garmen

    Wiwik Uliel  di  Trucuk, Klaten  |  22 Sep 2020
  2. MENGAWAL KEBIJAKAN RESPONSIF JENDER DARI DESA

    Yani Mashudi  di  Manyar, Gresik  |  23 Sep 2020
  3. KOMUNITAS BELAJAR MADANI SOLO (KOMBES) terbentuk!

    Tina Dewi S  di  Surakarta Kota  |  22 Sep 2020

Komentar Terbanyak

  1. 15
    Komentar

    Royongan Komposter

    Narumi Akana  di  Wonosobo  |  27 Sep 2020
  2. 4
    Komentar

    Ibu Ratna Memberdayakan Ibu-Ibu Dengan Mengolah Kain Limbah Industri Garmen

    Wiwik Uliel  di  Trucuk, Klaten  |  22 Sep 2020
  3. 4
    Komentar

    FORUM MADANI WONOSOBO

    Bhayu Surya  di  Wonosobo, Wonosobo  |  24 Sep 2020
  4. 2
    Komentar

    Boomingkan Literasi, TBM AL-LATIF Berkolaborasi dengan KKN UIN SMH Banten 2020

    @leo_ikals  di  Mandalawangi, Pandeglang  |  28 Sep 2020