FKUB : Desa Sadar Kerukunan, Simbol Perdamaian di Bumi Poso

3 0 154
Gambar untuk FKUB : Desa Sadar Kerukunan, Simbol Perdamaian di Bumi Poso
Poso, Sulawesi Tengah (ANTARA) - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah menilai launching desa sadar kerukunan di Kabupaten Poso menjadi simbol perdamaian di daerah tersebut.

"Ini berperan untuk menyampaikan pesan perdamaian kepada masyarakat secara luas selain di bumi Poso, juga di Sulawesi Tengah," ucap Ketua FKUB Sulteng, Prof Dr KH Zainal Abidin MAg, di Poso, Rabu.

FKUB bersama Kementerian Agama dan Pemerintah Daerah Kabupaten Poso menggagas dan membentuk desa sadar kerukunan. Desa Tambarana di Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso, dipilih oleh instansi tersebut sebagai desa percontohan kerukunan yang telah dilaunching oleh instansi tersebut melibatkan masyarakat.

Launching Desa Tambarana sebagai desa sadar kerukunan dirangkaikan dengan dialog merawat perdamaian dan peresmian Tugu FKUB di Desa Tambarana, Rabu.

Prof Zainal Abidin MAg mengemukakan, Desa Tambarana sebelum dipilih dan ditetapkan untuk menjaga desa percontohan sadar akan kerukunan, jauh sebelum itu telah rukun walaupun masyarakat dalam desa itu terdiri dari bermacam suku dan agama.

Walaupun demikian, kata dia, pascalaunching FKUB akan melakukan pendampingan, pembinaan secara kontinue dan berkesinambungan di desa itu dengan melibatkan Kementerian Agama dan Pemkab Poso.

"Iya, jadi pendampingan dan pembinaan akan menjadi kegiatan utama di desa tersebut. Masyarakat dari masing-masing agama dan suku akan dilibatkan dalam kegiatan non-ibadah, seperti dialog, seminar, atau kegiatan hari-hari besar nasional," sebut dia.

Guru Besar Pemikiran Islam Moder sekaligus Rektor Pertama IAIN Palu itu menyebut lauching desa sadar kerukunan, merupakan gambaran realitas keberagaman dalam kehidupan masyarakat merupakan keniscayaan sosial.

Ia keberagaman ini berimplikasi pada lahirnya perbedaan. Semakin heterogen sebuah masyarakat semakin banyak perbedaan yang muncul. Bahkan dalam komunitas agama yang sama, masih terdapat perbedaan mazhab, dalam mazhab yang sama masih terdapat perbedaan pemikiran, dan seterusnya.

"Kerukunan tidak diwujudkan dengan menghilangkan perbedaan karena hal itu adalah sebuah kemustahilan.
Kerukunan terwujud justru melalui pengakuan dan penghargaan terhadap wujudnya perbedaan, sehingga tidak melahirkan sikap merasa benar sendiri," katanya.

Selanjutnya, ia menambahkan, mencari titik temu yang dapat menyatukan perbedaan tersebut dalam merajuk kehidupan bersama secara harmonis, maka desa sadar kerukunan merupakan titik temu merajut kehidupan bersama.

sumber : antaranews.com

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. Komunitas Motor (Sezari C70 ) Lombok Timur Peduli Lingkungan

    sosiawanputra  di  Pringgasela, Lombok Timur  |  26 Nov 2020
  2. Semangat Harlah KOPRI dari Pulau Putri

    Nensi Indri  di  Gresik  |  30 Nov 2020
  3. Suro Amerta Surokarsan Titik Finish Gowes Bareng Promosi Wisata Kampung

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  29 Nov 2020
  4. TASYAKURAN PEMBUKAAN KEMBALI SSB PELITA TUNAS CICURUG-SUKABUMI

    Firman Ardiansyah  di  Cicurug, Sukabumi Kabupaten  |  29 Nov 2020

Komentar Terbanyak

  1. 2
    Komentar

    TASYAKURAN PEMBUKAAN KEMBALI SSB PELITA TUNAS CICURUG-SUKABUMI

    Firman Ardiansyah  di  Cicurug, Sukabumi Kabupaten  |  29 Nov 2020
  2. 2
    Komentar

    Hayya 'Alal Jihad Itu Lafazh Bid'ah Dalam Azan

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Kemang, Bogor Kabupaten  |  30 Nov 2020
  3. 1
    Komentar

    Komunitas Motor (Sezari C70 ) Lombok Timur Peduli Lingkungan

    sosiawanputra  di  Pringgasela, Lombok Timur  |  26 Nov 2020
  4. 0
    Komentar

    Antisipasi Longsor, Kali Baru Di Kelurahan Rawa Bunga Diturap

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Jatinegara, Jakarta Timur  |  1 Dec 2020