Daftar Bahaya Akibat Pengalihan Jalan ke Pantura

24385 medium fb img 1524304427519
Jalur Pantura Paciran untuk Truk dan Tronton Layak Dikaji Ulang

Dua hari sejak ambruknya jembatan Widang Tuban, akses jalan melintasi jembatan penghubung Kabupaten Tuban dan Lamongan ini ditutup. Penutupannya hanya berlaku pada kendaraan-kendaraan besar dengan muatan besar pula.

Kendaraan selain roda dua dan roda empat, dialihkan melintasi Bojonegoro dan atau Pantura Paciran. Ratusan truk dan tronton yang selama ini melintasi jalan nasional Babat Lamongan, terpaksa keluar di tol Manyar menuju Sembayat - Sidayu - Paciran - Tuban.
Akibatnya, jalan kecil pantura OVERLOAD.
Jalanan tak siap menerima pahitnya kenyataan; maka terjadilah macet panjang. Bahkan, beberapa kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar.

Menurut saya, sebagai pengguna jalan nasional Babat - Lamongan dan jalan Pantura Paciran, setidaknya ada beberapa alasan yang mengharuskan pengalihan akses melintasi jalan pantura Paciran Harus DIKAJI ULANG.
#1. SATU LAJUR

Jalan Pantura Paciran terdiri dari satu lajur jalan.
Dan, jalan itu dibagi untuk dua akses ke timur dan barat.
Dalam kondisi biasa, saat ada bis wisata melintas atau truk pengangkut batu lewat, amat sulit bagi kendaraan roda empat untuk mendahului.

Apalagi saat ini, kendaraan yang lebih besar dengan volume tinggi, lewat tanpa henti.

Sementara jalan nasional Babat - Lamongan terdiri atas dua lajur.
Lajur Utara dan Lajur Selatan. Tiap Lajur berfungsi melayani kendaraan yang menuju ke timur atau barat. Ditambah pemisah berupa trotoar di tengah antara dua lajur.
#2. LEBAR JALAN TAK MEMADAI

Berbeda dengan jalur nasional Lamongan - Babat yang lebar, jalur di Paciran standarnya hanya cukup untuk satu kendaraan dalam satu lajur. Jika ada kecelakaan kecil saja, maka kondisi jalan akan langsung merayap dan macet. Imbas kepadatan yang langsung terbentuk.

Dengan lebar yang tak memadai, jalan ini tentu saja amat tak layak jika harus digunakan oleh kendaraan-kendaraan besar dan panjang.
#3. BANYAK JEMBATAN KECIL

Dengan memindahkan kendaraan besar lewat jalur Pantura Paciran, apa lantas bisa mengamankan jembatan Widang Tuban yang satunya?
Jawabnya Iya, tapi Pemerintah berpotensi kena kerugian lebih besar.
Yakni, terancamnya jembatan-jembatan kecil di Pantura ambruk.

Bagaimana tidak?
Saya yakin, jembatan-jembatan kecil itu tidak didesain untuk ditumpuki kendaraan-kendaraan besar dengan muatan berton-ton.
Bisa dibayangkan, andai jembatan kecil itu berhari-hari dikenakan beban ton-tonan, dengan volume tinggi? AMBRUK.
Lalu, jika jembatan pantura ambruk, apa gak semakin besar kerugiannya.
#4. ASPAL PANTURA STANDARD

Selain lebarnya, pengaspalan jalan di Pantura tidak didesain untuk dilewati puluhan ton. Apalagi dengan volume besar--seperti yang kita saksikan beberapa hari ini.
Maka yang terjasi kemudian adalah; jalan meletot-menggelembung. Kayak bisul yang gak mau meletus.

Pemerintah jelas RUGI lagi.
Punya PR tambahan memperbaiki jalan pantura Paciran.
Berapa banyak dana yang dibutuhkan lagi?
#5. RIS JALAN YANG EMPUK

RIS jalan (pinggiran jalan yang tidak beraspal) di jalanan pantura Lamongan rata-rata masih "empuk". Permukaannya belum padat sebagaimana sepanjang jalan nasional Babat Lamongan. Karena itu, jika ada dua truk Besar bersimpangan, kemudian salah satunya "ngeris" ke pinggir jalan, ada kemungkinan langsung ambles.

Jika muatan truk itu amat berat, bisa terjadi truk terguling.
Mungkin itu yang jadi pemicu kecelakaan truk di Brondong tadi pagi.
#6. RODA EKONOMI TERHAMBAT

Kunci perputaran ekonomi ada di transportasi
Jika kondisi macet seperti dua hari ini terus-terusan terjadi, roda ekonomi masyarakat wilayah Pantura Paciran terancam mandeg (minimal melamban).

Begitu pula dengan truk Besar pengangkut komoditas
Dengan melintasi pantura Paciran, jarak tempuh dan waktu menjadi lebih lama
Belum lagi meningkatnya kebutuhan bahan bakar
Ini akan menjadi beban tambahan bagir para pengusaha
Sudah lama, cost-nya lebih mahal pula.

》》》SOLUSI

Lebih ringan risikonya kalau kendaraan besar itu tetap diperbolehkan melintasi jembatan cincin Widang Tuban.
Mungkin bisa diatur dengan sistem buka tutup bergantian akses dari Tuban atau Babat.

Macet?
Pasti.
Tapi, menurut saya, pengguna jalan dan pengusaha angkutan lebih memilih macet dan antre sebentar saat melintasi jembatan cincin, daripada macet sepanjang jalan dari MANYAR hingga PALANG TUBAN.

RISIKO AMBRUK?
Tetap Ada.
Makanya, solusinya ialah aktifkan kembali Jembatan TIMBANG yang ada di Kota Lamongan
Tegakkan kembali aturan batas maksimal tonase kendaraan yang melintasi jalanan nasional.
Saya lihat, sudah beberapa bulan, jembatan timbang tak aktif.
Akibatnya, banyak pengusaha nakal yang mengangkut beban melebihi batas yang diizinkan.
Sudah dilihat 190 kali

Komentar