Curhat Orang Tua Wali murid atas penyelenggaraan layanan Pendidikan di salah satu sekolah di Kota Malang

Header illustration
Sudah lama tidak aktif di medsos ini.. selain menulis d media lain, barangkali perlu saya bagi di sini...
GOOD BYE SD BSS...
Bismillahirrohmaanirrohiim
Assalamu’alaikum wr wb
Saya adalah seorang ibu dengan 2 anak yg masih duduk d bangku sekolah dasar, jadi saya masih harus lebih banyak lagi belajar bagaimana mendidik anak. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi kepada para orang tua, calon orang tua dan mungkin ini akan bermanfaat untuk para pendidik. Kebetulan saya juga pengajar dan pendidik di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, pengalaman saya mengajar baru 11 tahun jika dibanding pengalaman beliau-beliau yang sangat senior yang lain, apalah saya.
Saya memepercayakan pendidikan dasar kedua anak saya (kelas 2 dan 4) di SD Brawijaya Smart School (SD BSS) dengan pertimbangan utama adalah karena lokasi yang dekat dengan tempat kerja saya dan sesuai permintaan putra saya yang tidak ingin jauh dari ibunya (karena tugas belajar, saya pernah meninggalkan anak-anak dalam kurun waktu yang cukup lama), tidak lebih. Untuk menebus ‘kesalahan’ saya, maka saya turuti permintaan anak-anak. Tahun demi tahun, sebenarnya ada beberapa kekecewaan di sana sini, tapi saya berusaha memaklumi. Saya kembalikan niat awal saya ‘menyerahkan’ anak-anak ke SD BSS, tidak banyak yang saya harapkan hanya mencoba mengerti dan sepaham dengan Visi misi BSS yang mengedepankan pendidikan karakter. Mari kita jujur pada diri sendiri, seandainya kita mengharapkan kemajuan akademis yang mumpuni untuk anak-anak apakah cocok mereka dititipkan di BSS? Saya kira tidak. Apakah kita mengharapkan pendidikan agama yang adekuat di SD BSS? juga tidak, karena ini bukan sekolah agama. Satu-satunya yang menjadi harapan saya sesuai ‘janji’ visi misi SD BSS adalah membentuk karakter anak. Tapi kembali saya harus kecewa. Lantas apa yang masih bisa saya harapkan dari sebuah sistem pendidikan yang (maaf) belum tahu bentuknya????. Satu hal yang sebenarnya membuat saya agak terusik adalah pernyataan beberapa wali murid langsung kepada saya bahwa beliau-beliau kecewa dengan SD BSS. Beliau-beliau menurut saya berharap terlalu banyak (over expectation) kepada SD BSS karena ada embel-embel “BRAWIJAYA”, yang menurutnya adalah sebuah lembaga wauww di Malang. Saya sampikan bahwa saya pribadi pun sbg warga UB juga kecewa. Untuk itu saya memutuskan mengentaskan anak-anak saya dari kubangan ketidakjelasan ini untuk memasuki lingkungan baru yang saya harapkan bisa memberikan bekal yang lebih berarti buat anak-anak saya.
Sebenarnya saya tidak ingin lagi menuliskan ini, tetapi ternyata dengan keluarnya anak-anak kami yang dipicu oleh permasalah yang sangat prinsipil dan termasuk kategori BERAT menurut saya, yang tak kunjung ada penyelesaian menjadi merembet kemana-mana. Yang tidak bersalah menjadi salah dan yang salah diselamatkan. Pada kesempetan ini saya ingin klarifikasi beberapa hal terkait kepindahan anak-anak saya. Saya tegaskan di sini bahwa kepindahan anak saya disebabkan oleh faktor GURU WALI KELAS anak saya. Bisa saya sebut namanya Ibu Dra. Emi Hamidah. Beliau adalah guru senior yang telah mengajar selama 26 tahun dan mantan kepala sekolah SD Dharma wanita (cikal bakal SD BSS). Mulai kelas 1-3 jujur saya tidak terlalu pantau perkembangan akademis anak-anak, karena menurut saya grade itu porsi terbesarnya adalah bermain. Bisa dikonformasi ke wali kelas anak saya mulai kelas 2 sampai 3 yaitu ibu Risye Sofia Laurina, SSi ketika nilai anak saya tidak maksimal anak saya selalu bilang ‘gapapa bu, kata mama yang penting berusaha jadi anak baik’ begitu cerita bu Risye kepada saya. Mulai masuk kelas 4, saya lebih intens mengikuti perkembangan belajarnya. Saya awalnya masih memahami ‘kelambatan’ proses belajar karena pada awal pembelajaran sang ibu wali kelas ‘kesripahan’ (kehilangan) mertuanya hingga tidak masuk beberapa hari dan ketika saya tanyakan perihal pembelajaran beliau jawab tidak tahu karena saya tidak masuk. Makin berjalannya waktu (satu bulan pembelajaran) saya mulai heran karena anak saya hampir tidak dapat materi akademis apa pun. Saya masih berusaha kembali memaklumi, atau mungkin karena faktor anak saya yang kurang memperhatikan. Saya baru benar-benar kaget ketika berdiskusi dengan anak saya tentang PR nya. Dia sampai nangis karena tidak mengerti apa-apa, ketika saya tanya apa sudah diterangkan? Dia jawan belum. Dan saya lebih terkejut ketika melihat hasil kerjaan anak saya yang tidak jelas penilaiannya. Yang benar disalahkan yang salah dibenarkan dan bayak yang diberi lingkaran dengan alasan BONUS sebab tidak ada jawabannya. Boleh saya berikan contoh penjelasan yang salah tentang jumlah sudut sebuah segi tiga, anak saya ngotot bukan 180 menurut b Emi. Kita bersama akui bahwa guru lebih didengar daripada orang tua. Dan salah satu soal yang diberi lingkaran adalah soal taksiran, saya lihat ada jawabannya, anak saya bilang “tidak ada menurut bu Emi karena bu Emi kan sudaha ngerjakan pakai kalkulator, Ma”. Whaaattt??? Ngerjakan soal taksiran dengan kalkulator? Saya mulai panic.. dan ketika saya cross check ke wali murid yang lain, ternyata saya tidak sendiri. Dibentukan group WA (whatsapp) wali kelas 4B SD BSS. Di situ kami masing-masing cerita saling recheck apa yang disampaikan anak-anak. Ternyata benar, sang ibu guru sangat jarang menerangkan, kegiatan rutin hampir tiap harinya adalah bercerita tentang hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran (misalnya tentang anaknya), memberikan tugas anak-anak menyelesaikan soal dengan cara kerjasama dengan teman-temannya kemudian sang ibu gru TIDUR di kelas dengan alasan yang disampikan ke anak-anak bahwa beliau kecapean dan ngantuk karena WA-an dengan temannya. Lain waktu beliau memulangkan anak-anak lebih awal karena sudah ditunggu temannya di salah satu mal terdekat dengan menunjukkan foto temannya yang sudah menunggu dari HP beliau. Hellowww… menurut anda??
Berbagai kejadian tersebut melatarbelakangi kami wali murid sepakat untuk menyampaikan masalah ini ke Kepala sekolah (Bpk Suwarno). Hari selasa (kalau tidak salah) tanggal 23 agustus beberapa wali murid didampingi perwakilan forum kelas 4 menghadap Kepala sekolah (saya kebetulan tidak bisa ikut). Hasilnya, kepsek menyarankan untuk membuat surat tertulis. Selanjutnya beberapa wali murid yang tergabung dalm group WA saling berbagi menuliskan pengalaman masing, yang selanjutnya direkap oleh salah satu wali murid yang kemudian saya sedikit edit dan rapikan disertai lampiran bukti-bukti yang salah satunya adalah foto hasil jepretan anak saya dengan HP (di SD BSS diijinkan membawa HP yang bukan smartphone). Terus terang ini saya yang minta, karena saya menanamkan kejujuran supaya kita tidak dianggap memfitnah jadi harus ada buktinya. Surat beserta lampiran saya sampaikan berdua dengan salah satu wali murid ke Bpk Kepsek hari sabtu tgl 27 Agustus jam 8.00 an. Dan ternyata hari itu juga sang ibu wali kelas dipanggil kepsek. Sekembalinya ke kelas sang ibu guru menanyai anak saya langsung ‘kamu ya yang memfoto bu Emi?’. Lhooooo…..??? entah cuma anak saya atau beberapa anak yang ditanya saya tidak mempermasalahkan. Yang jadi masalah adalah, seharusnya sang ibu introspeksi tentang kejadian ini bukan mencari kambing hitam. Dan ternyata pada hari itu saya pantau WA nya kapan last seen dan online nya ternyata memang masih on off yang artinya masih terus sibuk dengan HP nya. Pulang sekolah anak saya mulai gelisah hingga sulit tidur. Sebagai seorang ibu saya merasa ini sudah melampai batas. Hari senin saya mengahadap kepsek tidak peduli sendiri atau bersama wali yang lain. Karena diantara wali murid ada yang tidak setuju dengan cara kami, kenapa tidak dilakukan pendekatan personal. Perlu saya sampikan di sini bahwa sebelum kami bertindak kami mengumpulkan data tentang ibu guru ini dengan hasil bahwa perilaku beliau ini sudah kronis dari tahun ke tahun dan bukannya tidak pernah ditegur dan di sampikan ke kepala sekolah (konfirmasi dari ibu Yeni sebagai ketua Forum SD BSS). Sudah beberapa kali ternyata kasusnya berhenti sampai di kepsek. Kalau model begini didekati personal apa jadinya. Meskipun tetap, beberapa wali murid tidak setuju karena pertimbangan NILAI yang diberikan ibu Emi bagus-bagus dan sebagian ternyata sudah mempunyai SOAL TETAP ibu Emi sehingga tidak perlu persiapan lebih (hmmmm….) Hari senin 29 Agustus saya menghadap kepsek bersama beberapa wali dan forum kelas. Saya menagih janji kepsek yang akan menjamin ‘keamanan’ anak-anak kami atas pelaporan ini. Saat itu kepsek memanggil seluruh wali kelas IV (4 orang). Saat itu yang kami bahas adalah kompetensi akademis b Emi yang jauh dari standar. Kembali seperti yang saya katakan di awal bahwa saya tidak berharap banyak untuk masalah akademis, tapi setidaknya apa yang distandarkan DIKNAS tercapai. Sedangkan ini, dibandingkan SD (maaf) daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) saja barangkali tidak lebih baik. Saat itu saya tidak menyoroti masalah bu Emi mengintimidasi anak saya karena saya masih menghargai dan menjaga nama baik beliau di depan para juniornya. Selesai pertemuan kami saling bersalaman saling memafkan. Tapi, sebagai seorang ibu perasaan saya tidak enak dengan hasil ini. Karena attitude bu Emi nampak dari gestur nya yang bolah balik mengkode kepsek untuk mengakhiri pertemuan dan beberapa kali saya melihat mencolek-colek ibu Umi yang berada di sebelahnya sebagai isyarat untuk menghentikan diskusi saat itu, membuat saya semakin ragu dengan niat baik beliau. Dannn… benar adanya, ketika saya jemput anak saya, mukanya nampak gelisah. Ketika saya tanya kenapa, dia spontan jawab ‘pokoknya mama ga usak lapor-lapor pak warno (kepsek) lagi’. Saya balik tanya ‘ada apa dengan bu Emi? Dimarahi sama bu Emi?’. Tanpa saya harus mendengar jawaban anak saya saya tahu apa yang terjadi. Saat itu saya putuskan akan cari bu Emi, tapi anak saya menangis dan memohon-mohon agar saya tidak usah meneruskan masalah ini. Ok, demi anak saya mengalah. Saya ajak anak saya pulang saya tenangkan di rumah. Sementara itu saya menanyakan kepada wali murid yang tadi pagi menghadap (memang kami diminta memperkenalkan wali murid dari siapa). Ternyata betul, putera wali yang menghadap lainnya juga diintimidasi yang sama tetapi anak saya derjatnya lebih berat. Satu anak yang selamat, karena ibu Intan saat itu memperkenalkan diri sebagai mamanya Zahra sedangkan di kelas Zahra dipanggil Shabira. Tetapi Zahra mengaku sang ibu guru mencari-cari siapa Zahra. Ketiga anak ini menangis dan tidak mau sekolah keesokan harinya, mereka bilang sangat membenci bu Emi. Sorenya saya minta izin kepada pak Wawan sebagai guru pengasuh kelas tahfidz yang diikuti anak saya dengan alasan anak saya tidak mau ke sekolah karena diintimidasi oleh gurunya. Sontak pak Wawan meminta pak Adi untuk mencari kejelasan masalah ini karena kebetulan digroup WA kelas tahfidz ada bapak Sugeng, PhD yang sekaligus ketua UPT (Unit pelaksana Teknis) BSS semacam ketua yayasan BSS. Pak Adi dan pak Wawan mencoba menghibur anak-anak dan meminta anak-anak tetap masuk agar kondisi psikologis anak-anak tidak semakin larut dalam ketakutan dengan menjamin bahwa besok anak-anak akan bersama pak Adi dan tidak masuk kelasnya bu Emi. Dengan janji ini anak-anak mau asal bertiga selalu sama-sama (kebetulan ketiga anak ini berasal dari TK yang sama, RESTU-2). Hari itu juga, Selasa 30 Agustus 2016, setelah menyerahkan anak-anak ke pak Adi, kami wali murid menemui Bapak Kepsek. Sejujurnya kami MARAH besar… atas perilaku guru senior yang makin tak terkontrol. Yang membuat saya semakin marah adalah anak saya gelisah sepanjang malam, suhu badannya meninggi dan mimisan. Anak saya benar-benar depresi. Saya sampaikan bahwa bu Emi telah merusak karakter anak-anak yang telah dengan susah payah kami bangun sejak kecil. Kami menanamkan anak-anak supaya jujur, tetapi sang ibu guru mengajarkan supaya jangan pernah melaporkan hal-hal di sekolah kepada orang tua dengan jari telunjuk mengacung!!! ‘sudah 26 tahun bu Emi mengajar baru kali ini ada komplain’. Kemudian beliau memberi anak-anak PR diluar kebiasaan dan kewajaran dengan menuliskan kembali soal di buku dengan akhir kalimat ‘ini konsekuensinya kalian suka lapor-lapor ke orang tua’. Anak-anak belajar tidak terbka dengan orang tua, tidak tanggung jawab, menyelesaikan masalah melalui jalan pintas (menggunakan kalkulator), itu semua Ibu Emi telah ajarkan pada anak didiknya. Speechless… saya tidak bisa ngomong apa-apa ketika anak saya ceritakan ini… saya tegaskan di depan kepsek dan bu Emi, bahwa saya sanggup mengajarkan anak saya math dan sain kelas 4 dalam hitungan jam, hari atau bahakan paling lama minggu… tetapi karakter yang sudah ditunjukkan dan dicontohkan sang guru MERUSAK apa yang sudah kami bangun bertahun-tahun!!. Satu hal lagi, kondisi psikologis anak ini harus diselamatkan. Anak-anak berantem atau musuhan sama temannya bagi saya itu masih wajar, tapi kalau anak dimusuhi gurunya adalah kejadian LUAR BIASA apalagi dengan masalah yang sangat tidak bisa diterima akal sehat.
Pertemuan tersebut menghasilkan putusan dari kepala sekolah bahwa : (1) bu emi harus membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi tindakan tersebut dan mengakui kesalahannya, (2) b Emi harus mengembalikan kondisi psikologis anak-anak dengan berkunjung ke rumah selama 1 bulan. Saat itu saya hanya memberikan dua pilihan kepada kepsek : (1) memepertahankan anak-anak kami dengan syarat bu Emi keluar, (2) mempertahankan bu Emi, anak-anak kami yang keluar. Jujur, itu keputusan emosional yang saya sampikan saat itu. Seiring waktu saya lihat perkembangan, saya tanya anak saya ketika mau saya pindahkan sekolahnya dia bilang berat meninggalkan teman-temannya. Ketika diberi opsi pindah kelas anak-anak tetap tidak mau karena sudah cocok dengan teman kelasnya. Jadi ketika ditanya bu Emi atau pak Warno apakah anak-anak mau pindah mereka bilang tidak, itu bukan karena masalah ini selesai tetapi karena anak-anak tidak ingin kehilangan sahabat-sahabatnya.
Hari selasa itu juga saya coba menghubungi ketua UPT tapi tdk bisa. Saya terus pantau perkembangan anak-anak. Keesokan karinya (Rabu) anak-anak tampak happy karena dibagi coklat oleh bu Emi. Rabu pagi saya sampaikan permasalahan ini termasuk surat dan bukti lampiran ke pak Sugeng (ketua UPT) melalui WA, saya sampaikan saya ragu dengan keputusan kepsek. Sore hari saya dengar ada keputusan dari UPT bahwa bu Emi akan dipindahkan ke Perpstakaan SMP. Saya pribadi dan ibu Intan merasa ini terlalu cepat dan kami berniat untuk menemui p Warno, tetapi kami batalkan karena keputusan ini belum resmi kebenarannya. Hari kamis, anak-anak cerita sepanjang hari hanya diajarkan lagu menanam jagung. Perkembangan ini terus saya laporan ke ketua UPT. Dan.. hari sabtu sore saya mendapat kabar melalui WA dari pak sugeng bahwa keputusan memindahkan b Emi ternyata ditangisi oleh guru-guru yang lain jadi UPT harus mempertimbangkan gelombang protes dari guru-guru.. Saat itu juga saya merasa INI SAATNYA untuk memindahkan anak-anak ke lingkungan yang lebih SEHAT. Meskipun saat itu p sugeng bilang bahwa akan ada evaluasi dalam seminggu ini (sampai tanggal 3 September). Nyatanya bu Emi dikirim pelatihan hari jumat sabtu. Bagaimana bisa menilai?? Saya sampaikan saya dan wali yang menjadi korban bu Emi ingin menghadap untuk memberikan informasi selengkap dan sejujur-jujurnya. Kami sepakati bertemu hari senin 5 September. Pada pertemuan itu kebetulan juga ada sekretaris UPT bpk Sakti dan Bendahara UPT Ibu Yogi. Hasil pembicaraan disampaikan bahwa UPT sudah mengambil keputusan berupa 3 opsi untuk bu Emi : (1) pengunduran diri), (2) Pensiun Dini, (3) ditempatkan di Perpustakaan SD. Saya lega mendengar keputusan tersebut tetapi ada satu kalimat p Sugeng yang mengganjal kita akan evaluasi dalam seminggu lagi ke depan dan kita tetap mempertimbangkan jika banyak guru yang protes. Serta, pada kenyataannya hari selasa 6 oktober ibu Emi bilang ke anak-anak IJIN selama 1 bulan. Saat itu juga saya menetapkan hati untuk memindahkan anak saya. Saya mendapat surat penerimaan dari sekolah lain. Tetapi saat itu surat saya simpan dulu sambal menunggu perkembangan dan sebenarnya tidak tega jika anak-anak harus pisah dari sahabtnya. Keputusan final saya adalah memindahkan anak-anak, setelah hari rabu benar-benar tidak mau masuk sekolah dan meminta agar bersekolah di tempat lain. Esok harinya saya baru menyerahkan surat penerimaan di tempat lain ke kepsek BSS. Dari bliau saya dapat informasi bahwa ibu Emi sedang menjalani ‘Bebas tugas’ sementara selama 1 bulan sambal dievaluasi. Lhoooo….??? Ini berarti bahwa keputusan itu bisa jadi berubah. Dan yang semakin menguatkan keputusan saya adalah, 2 hukuman pak Warno untu bu Emi sampai detik saya menghadap (Kamis, 8 September 2016) belum dilaksanakan (surat pernyataan yang saya tidak pernah tahu bentuknya dan saya belum pernah sekalipun dihubungi untuk melaksanakan janji mengunjungi anak-anak selama 1 bulan). Mohon maaf, ini sama sekali tidak ada artinya buat saya, tapi setidaknya semakin membulatkan tekad dan meyakinkan keputusan saya bahwa di sini bukan tempat yang baik buat anak saya. Meskipun sebagian besar wali murid yang tahu masalah ini menyayangkan kepindahan anak saya. Karena menurut mereka seolah-olah saya kalah jika anak saya pindah. Bagi saya ini bukan masalah kalah menang, yang terpenting adalah penyelamatan generasi, penyelamatan anak bangsa dari penjahat pendidikan semacam ini.
Oya, keputusan saya ini pada dasarnya sekali lagi didasari oleh pemimpin yang tidak mampu mengambil langkah tegas dan cepat dalam memutuskan yang menurut saya URGENT. Dan kabar terakhir (Sabtu, 10 September 2016 jam 09.00) diputuskan bahwa tetap mempertahankan Ibu Emi sebagai Guru di SD BSS. Berarti dugaan saya tepat, jadi sekali lagi saya harus kembali syarat awal kepada kepala sekolah bahwa jika ibu Emi tetap dipertahankan, kami yang akan mundur. Serta…. Merembet pada hal-hal yang bukan menjadi inti masalah menjadi masalah. Ada dua hal yang perlu saya klarifikasi di sini bahwa :
1. Kami tidak pernah menyalahkan guru yang mengajar ‘cepat’ sehingga nampak jauh perbedaan antar kelas. Yang saya pertanyakan adalah standar pengajaran dan learning objective yang seharusnya diterima anak-anak tidak sama antar kelas. Sehingga tidak perlu menyalahkan Ibu Umi (wali kelas 4A) yang speed up dalam mengajar anak-anak. Memang kita tidak bisa memberikan pengajaran yang PERSIS sama dalam tiap kelas tapi ada minimal pencapaian yang harus sama antar kelas. Kepala sekolah tidak perlu bilang “SOK PINTAR” ke guru yang memang mengajarnya bagus. Memangnya mau dibikin “bagus” seperti ibu Emi ajarkan di BSS pak???
2. Anak saya ‘terluka’ yang saya tidak pernah tahu persis seberapa dalam dan parah lukanya. Sebagi ibu saya hanya bisa merasakan bahwa anak saya menjadi sangat sensitive. Misalnya, digodain pak Adi dengan menghapus dan menyiprati air hasil kerjaannya, teman-temannya tertawa dia marah. Pada saat kelas Tahfidz, dia melakukan push up (dihukum karena membuang sampah tanpa ijin dengan beberapa siswa) kemudian diingatkan oleh salah seorang kakak kelasnya (Sheva, kls VI) dengan menekan pantatnya dengan kaki dia sangat marah. Kenapa harus dia yang diingatkan padahal yang lain juga salah dan kenapa harus mengingatkan dengan cara seperti itu, itu pertanyaan anak saya yang saya g bisa jawab. Semua hal itu sebenarnya masalah kecil buat anak saya karena ada kejadian besar pada saat kelas dua dan tiga, saat dia mengalami bulliying oleh temannya. Anak saya selalu melindungi temannya supaya tidak dihukum (ini bisa di cross check ke ibu wali kelasnya, Ibu Risye). Atas dua kejadian terakhir ini saya tegaskan bahwa sebenarnya ini adalah masalah sekunder akibat kondisi psikologisnya yang masih belum pulih. Dan saya sebagai orang tua harus mengambil tindakan cepat, untuk itu kami berikan pengertian anak-anak untuk berani menghadapi lingkungan baru, lingkungan yang mungkin lebih sehat buat mereka. Meskipun kita tahu kondisi yang tidak kita inginkan akan selalu ada dimana pun. Tetapi setidaknya anak-anak tidak dihadapkan pada kondisi yang belum saatnya mereka hadapi, harus bermusuhan dengan guru. Cukup orang tua saja yang menyelsaikan masalah ini.
Demikian yang bisa saya bagi dalam kejadian ini, take home message nya adalah bahwa kita mesti hati-hati dalam memilih sekolah. Jangan hanya tergiur oleh ‘casing’ dan ‘bendera’ serta ‘payung’ besar sebuah nama. Tulisan ini saya buat agar semua pihak memahami permasalahan secara holistik. Dan untuk pihak-pihak terkait, SD BSS, UPT, dan mungkin DIKNAS kota malang setidaknya bisa mengambil keputusan tepat untuk menyelamatkan generasi penerus yang menjadi tanggung jawab kita semua. Mengantarkan mereka menjadi siap menerima tongkat estafet untuk menjaga dan membangun negri titipan anak cucu kita ini. Akhirnya, dengan tulus ikhlas saya menyampiakan terima kasih tak hingga pada seluruh pihak yang mensupport kami dan mohon maaf apabila ada yang kurang berkenan monggo diberiman saran dan masukan untuk saya agar menjadi orang tua yang lebih baik.

Tante Diana Lo, tante Oktiani Astuti, iki akhira tak share.. gemes wes....
mba Heny Hariyati keputusan terakhir beliau mengajar SBDP sama bhs daerah...:P
Sudah dilihat 479 kali

Komentar