Catatan hamba tuhan

44375 medium screenshot 20181227 223816 01
Panggil saja saya hambat tuhan. Lelaki yang tidak pernah memilih disibukan sepi, selain mencari sampai akhirnya menemukan beberapa dari yang tuhan kehendaki untuk saya tahu. Desember 2018, saya tidak menemukan kebenaran dari peradilan dunia maya, bak taman hiburan, di bulan itu segala sesuatu yang menghampiri beranda ponsel cerdas ukuran 4 inci hanyalah politik. Dari yang berdasi sampai para petani ikut menyuarakan, semua dibungkus dengan kata-kata yang sangat natural, ada beberapa yang malah berkata "itu bijak bung" ucapnya sembari mengepulkan asap roko ke langit-langit Bekasi sore hari. Saya bukan termasuk orang-orang yang paham betul tentang politik, apalagi jika membahas masalah kader dan bla....bla....bla...., saya memilih mundur untuk kemudian melangkahkan kaki cari suasana baru. Saya paham jika hak memilih dibalik 1 suara amatlah penting, begitupun suara saya nantinya, tapi apa gunanya mendengar semua obrolan-obrolan itu, jika tujuanya untuk menjatuhkan, untuk menyulut perdebatan, parahnya lagi ada beberapa kasus yang malah lantaran hal itu berkelahi, adu jotos. Jika kembali mengingat kisah jamanya SMA, saya pernah menyuarakan tentang pemilihan ketua Osis, saya sangat ambisius memiluh teman saya, saya lupa namanya, tapi sebut saja dia "A". Bukan karena dia orang kaya, walau kenyataanya dia sama seperti saya, hanya membawa 3 logam bertuliskan angka 500. Anak tahun 90-an pasti paham apa yang bisa dibeli denganjunlah uang yang segitu. A anak baik, dia pintar dalam memecahkan masalah, dia juga mudah bergaul dan tidak malu untuk lakukan tindakan-tindakan konyolnya, tapi tindakan itu bukan semata-mata kekonyolan, ada hal baik yang sedang ingin dicapainya. Saya dan rekan saya yang ingin dia naik jadi Ketua Osis tidak pernah memaksa murid-murid yang lain untuk memilihnya, kami hanya menyampaikan atas apa yang sudah dicapai A, dan program apa yang nantinya dia lakukan, tidak ada Hoaks dalam perkenalan, saya bisa saja sebut itu dengan kampanya. Melihat lagi yang saat ini terjadi, rasa-rasanya memang sangat berbeda, jika tentang politik, saya memilih bungkam kata. Sebelum pemilihan presiden inipun saya sempat mendengar ucapan-ucapan mereka, tapi ada satu ucapan yang saya lupa pemiliknya siapa. Dia hanya bilang. " siapapun presidenya, kalau kita males ya gabakal sejahtera, palingan jadi peminta-minta" ucapnya selepas kopi hitam pekat beberapa menit sudah berhasil 3 kali ditenggak. Diantara ucapan-ucapan ramain yang sama persis seperti saat ini, hanya kalimat tersebut yang saya akui kebenaranya, selainya.... Ntahlah, penilaian saya mungkin salah, karena saya manusia, saya hanya hamba tuhan. Masih di bulan desember, pagi-pagi tepat jam 6 pagi di hari minggu televisi sudah menemai dengan secangkir teh hangat beserta roti tawar yang sudah diolesi cokelat kental, kemudian saya tekuk sisi yang kiri dan kanan, hingga menjadi persegi panjang, padahal tadinya persegi. Salah satu stasiun televisi swasta menjelaskan jika semalam terjadi tsunami di Pandeglang, Banten. Panik luar biasa, saya langsung menelpon seseorang, sebut saja "B", dia lelaki yang selisih 2 tahun dari umur saya, B tinggal di daerah sana, tidak jauh dari bibir pantai Jambu, ya g masih sedaerah dengan pantai anyer. Beruntung saat itu pula saya bisa berkomunikasi denganya, dia dan keluarganya selamat dari tsunami. "alhamdulillah, kita di sini selamat, baik-baik saja, tapi yang di pinggiran pantai, banyak yang jadi korban" lugasnya. Hari itu saya sempatkan untuk terus memantau kejadian yang terjadi pada sabtu malam (22/12). Bukan hanya B, saya pun menghubungi "C" dan "D". Beruntung keduanya juga ikut selamat, namun D yang rumahnya di dekat lokasi terparah tsunami, ikut kena bencana pula, yakni banjir.
"di sini banjir kak, hujan dari jam 1 malem sampe jam 11 siang, udah gitu pasang tinggi di sana (muara tempat saluran air tersebut)" ucapnya. Bencana yang maha dasyat itu merenggut korban meninggal dunua, juga ribuan yang luka-luka. Saya paham betapa pilu di sana, namun lagi-lagi, dunia memang punya sisi berbeda dari sebuah kejadian, ada yang merasa seperti tuhan, ada pula yang sebaliknya. Tiap musibah selalu saja ada penyebabnya, tapi mengapa mengkaitkan sesuatu yang cukup tuhan saja tau, rasa-rasanya sudah jadi kicauan umum.
Dari karma lah, adzab lah, bla....bla...bla... Dan lain sebagainya, saya kembali mundur dari ucapan tersebut, saya manusia biasa, hanya hamba tuhan.
Kenapa tidak berpikir positif saja, buang pemikiran jahat seperti itu, dan sadarkan jiwa, bahwa sebenarnya manusia itu punya rasa, punya jiwa dan jelas saling membutuhkan. Belum berakhir sampai di situ, saya coba mampir ke instagram, foto mencenangkan buat saya tidak percaya, jika yang di foto itu adalah manusia. Tapi rupa-rupanya manusia. Sebelum saya melihat lebih detail, saya coba buka tulisan di Majalah online www.theguardian.com lewat judul informasinya ‘Destruction gets more likes’: Indonesia’s tsunami selfie-seekers. Sungguh ironi, mereka yang sedang berduka di tanah kelahiranya, malah dipertontonkan hal yang diluar kebaikan dari sebuah penghargaan untuk berduka, "selfi". Orang-orang jauh yang berdatangan malah sibuk mengabadikan momon setelah tsunami tersebut dengan berselfi, ntah ada apa dengan dunia ini, saya tidak paham, ada moral dan etika yag hancur ketika peradaban menghasilkan segala bentuk pencapaian teknologi, atau mungkin para pengguna yang tidak paham bagaimana bersikap dan memperlakukan kebaikan pada kemajuan zaman. Duka bukanlah penghasil like terbanyak, tapi memanusiakan manusia jelas hal yang mutlak dilakuakn. Saya hanya hamba tuhan, tuhan saya Allah. Meski saya sadar tuhan
hanya 1 yakni Allah, Saya paham semua tuhan meminta umatnya untuk lakukan hal yang baik, yang bisa menjadikan manusia sepatutnya manusia, bukan malah menjadi tuhan.
Sudah dilihat 128 kali

Komentar