Banjarwaru Mewadahi Syukur Dalam Panjang Ilang

66331 medium post 70913 c42e0b08 6e2d 4d34 a340 1b92e010a687 2019 07 10t23 30 46.813 07 00 66332 medium post 70913 f17bc1e3 7274 48a9 b090 dcd41ba33fa3 2019 07 10t23 30 47.622 07 00 66333 medium post 70913 dd5442cd 750e 4174 b090 f7912e3f492e 2019 07 10t23 30 48.321 07 00 66334 medium post 70913 f476b7ac 14ad 4f37 977f 37f6dcedb88f 2019 07 10t23 30 48.914 07 00 66339 medium post 70913 edd8dc52 dac5 4860 a912 cefaf7bb4cd1 2019 07 11t00 05 41.096 07 00
Atmago.com . Masyarakat Pedukuhan Banjarwaru Kelurahan Gilangharjo Kecamatan Pandak Bantul Yogyakarta hari Rabu Legi (10/07) mengadakan upacara tradisional bersih dusun yang lebih dikenal dengan istilah "Merti Dusun" . Berisi rangkaian acara , berupa doa bersama dalam kenduri dengan sarang panjang ilang , kirab gunungan lanang wadhon memutari dusun, dan pengajian pada malam harinya.
Tradisi ini merupakan salah satu bentuk syukur warga masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan limpahan berkat serta rezeki.
Salah satu bentuk ucapan syukur tersebut di wujudkan dengan adanya gunungan ( gunung - gunungan ) yang berisi berbagai hasil bumi, seperti sayuran dan buah-buahan , makanan tradisional . Gunungan menjadi salah satu wujud sesajian selamatan ( dalam bahasa Jawa disebut sajen) yang konon khusus dibuat untuk disajikan dalam selamatan negara .
Gunungan lanang wadhon karya warga Banjarwaru nampak gagah diarak mengelilingi dusun , diiringi para pemain reog yang nantinya setelah didoakan gunungan tersebut akan di perebutkan oleh warga Banjarwaru dan tamu - tamu undangan.
Dihadiri Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, perwakilan dari Kecamatan Pandak, lurah Gilangharjo bapak Drs. Pardiyono , para perangkat desa , Polsek Pandak , Koramil , Dinas kebudayaan dan warga tentunya, Merti Dusun Banjarwaru sangat terasa semangat kebersamaan dan semangat melanggengkan budaya adiluhung Jawa.
Merti dusun merupakan kearifan lokal yang sudah turun temurun ada , seiring waktu dan perubahan jaman , menjadikan acara ini punya banyak bentuk di masing- masing daerah. Ubo rampe atau alat - alat pelengkap yang digunakan juga menyesuaikan jaman.
Akan tetapi Merti Dusun yang digelar di Dusun Banjarwaru ini sungguh istimewa.
Seperti disampaikan bapak Pambudi selaku salah satu pelaksana merti dusun dan warga Banjarwaru ini , " seluruh warga terlibat , sejak persiapan bersih - bersih dusun sampai acara inti kenduri , kirab dan kenduri bersama kami menggunakan sarang panjang ilang, warga masyarakat dan tamu undangan diberikan hiburan tari - tarian dan kesenian reog."
"Kami juga tidak memakai plastik." Imbuhnya.
Satu acara desa yang layak dilestarikan, mengingat banyaknya aspek dan nilai baik yang diusung. Mengingatkan kita bahwa para leluhur kita dengan kearifan lokalnya sudah menganut adab ramah lingkungan , sangat menjaga alam dan memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya.
Panjang ilang sendiri adalah nama keranjang yang terbuat dari anyaman janur. Memiliki gantungan ujung janur sisa dari yang dianyam, yang disatukan pada satu simpul di bagian pucuk atasnya. Gunanya untuk wadah aneka makanan dan sesaji dalam kelengkapan ritual tata adat Jawa.
Seiring dengan kemajuan zaman, keberadaan panjang ilang makin ditinggalkan. Kebisaan membuat panjang ilang makin langka ditemukan. Karena hanya sejumlah kecil warga yang bisa membuat membuat panjang ilang, biasanya hanya warga - warga sepuh yang masih bisa membuatnya.
Dengan acara merti dusun ini , diharapkan pelestarian kearifan lokal sarang panjang ilang bisa terwujud. Karena generasi muda akan mengenal panjang ilang beserta manfaatnya.
Akan lebih baik lagi ketrampilan pembuatan panjang ilang ini diajarkan pada kursus seni merangkai janur untuk para generasi muda.
Dalam buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa (Karya Drs R Harmanto Bratasiswara, terbitan Yayasan Suryasumirat, Jakarta), menyebutkan, minimal ada lima fungsi panjang ilang dalam ritual upacara adat Jawa. Pertama, sebagai wadah sesaji buwangan (bucalan) yang dilakukan orang hajatan. Sesaji itu, kemudian dibawa ke tempat petilasan leluhur yang dianggap sakral, sebagai penghormatan kepada cikal bakal leluhur pendiri desa.
Kedua, sebagai wadah srasahan pengantin. Ketiga, untuk wadah sesaji dalam ritual ruwatan. Keempat, sebagai wadah bekal makanan para prajurit keraton . Kelima untuk tempat hidangan tamu - tamu terhormat di keraton.
Dan hari ini panjang ilang menjadi bagian di Merti Dusun warga Dusun Banjarwaru, sebagai wadah berkat yang akan dinikmati warganya. Ini adalah simbol dan bermakna manusia hendaknya kembali ke alam.
Selain itu warga dan tetamu menikmati hidangan kembul bujana, makan bersama dengan takir daun yang berisi nasi gurih , ayam ingkung suwir dan sambel gepeng. Ini adalah lambang semangat guyub rukun dan bersatunya masyarakat Dusun Banjarwaru.
Kegiatan Merti Dusun yang panitianya diketuai bapak Supriyanto ini bisa dikatakan layak menjadi inspirasi bagi daerah lain.
Karena selain benar - benar menggunakan tata cara, adat istiadat turun temurun dari nenek moyang yang sarat makna , juga bisa menciptakan kerukunan antar warga. Semua rangkaian acara dilakukan bersama melibatkan semua komponen masyarakat dengan semangat gotong royong .
Seperti kita ketahui banyak dusun di Yogyakarta dan Jawa Tengah membuat acara Merti Dusun dengan menekankan nilai bersyukur . Beberapa daerah ada yang memanfaatkan merti dusun untuk mensyukuri panen, jadi pelaksanaannya setelah panen raya.
Untuk dusun Banjarwaru sendiri , pemilihan waktunya adalah hari Rabu Legi setelah bulan Syawal. Bisa ditangkap makna yang terkandung , warga Banjarwaru bersyukur setelah saling bermaaf-maafan di bukan Syawal dan memulai hal baru dengan lebih baik. {Rins} #AtmagoEPiQUE
Sudah dilihat 220 kali

Komentar