Amankan Produksi, Petani Kalbar Manfaatkan Bahan Pengendali Alami

2 August 2020, 19:34 WIB
4 0 25
Gambar untuk Amankan Produksi, Petani Kalbar Manfaatkan Bahan Pengendali Alami
𝗔𝗺𝗮𝗻𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝗸𝘀𝗶, 𝗣𝗲𝘁𝗮𝗻𝗶 𝗞𝗮𝗹𝗯𝗮𝗿 𝗠𝗮𝗻𝗳𝗮𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗲𝗻𝗱𝗮𝗹𝗶 𝗔𝗹𝗮𝗺𝗶

Akhir-akhir ini masyarakat mulai sadar akan bahaya dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintesis dalam bidang pertanian. Petani mulai tergerak untuk mengurangi penggunaan bahan kimia non alami, seperti pupuk anorganik dan pestisida kimia sintesis dalam produksi pertanian.

Pangan yang sehat dan bergizi dapat diproduksi dengan memanfaatkan bahan-bahan alami (lokal) atau yang dikenal sebagai pertanian organik.
Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen dan tidak merusak lingkungan.

Dalam rangka mendorong serta memotivasi para petani dalam menerapkan pertanian organik, UPT Perlindungan Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat menggelar Bimbingan Teknis Pemanfaatan Bahan Alami Pada Tanaman Padi yang diselenggarakan di Kelompok Tani (Poktan) Tani Makmur I, Desa Peniti Luar Kecamatan Jongkat Kabupaten Mempawah, Minggu (2/8/2020).

Pada kesempatan tersebut, petani dilatih untuk membuat bahan pengendali organik yang berasal dari pestisida nabati dan agensia hayati, serta pembuatan mikro organisme lokal (MOL) yang berfungsi sebagai pupuk organik.

Petugas POPT Kecamatan Jongkat, Diky Dwi C, yang memandu kegiatan tersebut menuturkan pembuatan pestisida nabati dan Mikro organisme Lokal (MOL) tidaklah sulit. "Siapapun dapat mencobanya dengan biaya murah, bahkan tanpa biaya sekalipun," sebutnya.

Pada bimbingan teknis ini petani memakai campuran daun pepaya dan daun sirsak sebagai bahan pembuatan pestisida nabati. Sedangkan untuk bahan pembuatan MOL petani menggunakan rebung bambu, bonggol pisang, air cucian beras dan dan limbah buah-buahan. Namun di samping itu, petani juga bisa menggunakan bahan-bahan organik lainnya untuk membuat MOL seperti limbah sayur, daun gamal, siput dan lainnya.

Sementara itu agensia hayati yang digunakan pada kegiatan tersebut adalah trichoderma dan paenibacillus polymiyxa yang berguna sebagai biofungisida, dan perbanyakannya dilakukan pada media cair yakni ekstrak kentang gula.

Formula Biofungisida ini disebut Diky dapat membantu mengendalikan patogen tular tanah serta efektif mengendalikan penyakit kresek / Hawar Daun Bakteri (HDB) pada tanaman padi.

Fauzi, selaku ketua kelompok Tani Makmur I yang juga ikut menjadi peserta bimbingan teknis tersebut menyambut baik dengan adanya pelatihan pembuatan bahan-bahan organik ini sehingga petani di Desa Peniti Luar tidak kesulitan dalam mengendalikan hama penyakit yang menyerang tanaman padi.

"Sebab selain mudah didapatkan bahan bakunya juga tidak ada efek samping bagi makhluk hidup lainnya," katanya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat Florentinus Anum mengatakan petani adalah kunci utama dalam menjaga ketersediaan pangan di masa pandemi ini.

"Sesuai arahan Menteri Pertanian Bapak Syahrul Yasin Limpo, Provinsi Kalbar mendorong percepatan tanam dan upaya peningkatan produksi. Percepatan tanam penting untuk mencapai target produksi padi tahun ini," sebut Florentinus Anum.

Ia pun mewanti-wanti untuk mengejar produksi tetap harus memperhatikan sistem pertanian yang ramah lingkungan.

“Di masa pandemi seperti sekarang ini, sangat penting bagi kita untuk menjaga imunitas tubuh. Salah satunya dengan mengkonsumsi makanan sehat yang bebas pestisida, sehingga sangat tepat bagi petani untuk berbudidaya pertanian yang sehat dan ramah lingkungan,” ujarnya

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mendukung upaya yang dilakukan Dinas Pertanian Kalbar. Pertanian ramah lingkungan akan menjaga ekosistem.

"Ke depan saya ingin pertanian kita menjadi pertanian yang mampu melestarikan lingkungan dan zero waste. Semua termanfaatkan dan tidak ada limbah tersisa," sebutnya.

Suwandi menjelaskan limbah dan produk sampingan diolah dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Di berbagai daerah, petani sudah menerapkan konsep ini.

"Dan supaya percepatan direplikasi ke wilayah atau petani yang lain," tegasnya.

Source :

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan - Kementan RI

#Wargalawancovid19

#MadaniCovid19

  Komentar untuk Amankan Produksi, Petani Kalbar Manfaatkan Bahan Pengendali Alami

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terkait

Berita Warga
20 jam

Talas sayur

Wiwik Uliel  di  Trucuk, Klaten

Terbaru


Terpopuler

  1. ANGKRINGAN WISTA RW.07 PAKUNCEN

    mas Har  di  Tegalrejo, Yogyakarta  |  28 Jul 2020
  2. Energi Positif Pemuda Dusun Daya Masa Pandemi Covid' 19

    narma  di  Lembar, Lombok Barat  |  2 Aug 2020
  3. INOVASI IBU IBU PKK RT.43 RW.09 KRICAK KIDUL YOGYAKARTA

    mas Har  di  Tegalrejo, Yogyakarta  |  3 Aug 2020
  4. Guru Kreatif Di Masa Pandemi

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  28 Jul 2020

Komentar Terbanyak

  1. 6
    Komentar

    Guru Kreatif Di Masa Pandemi

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  28 Jul 2020
  2. 5
    Komentar

    Rekreasi Hijau, Kiat Hidup Sehat dan Aman di Masa Pandemi

    Sulis Jember  di  Jember  |  3 Aug 2020
  3. 4
    Komentar

    KITA Institute Berharap PKSAI Mampu Atasi Kasus Anak

    Bayu Surya  di  Wonosobo, Wonosobo  |  3 Aug 2020
  4. 3
    Komentar

    Pasar-Run katalog produk lokal Wonosobo

    Narumi Akana  di  Wonosobo, Wonosobo  |  2 Aug 2020