Satu Hari di Dua Desa: Assessment Kondisi KIBBL di Kabba dan Panaikang

3 0 263
Gambar untuk Satu Hari di Dua Desa: Assessment Kondisi KIBBL di Kabba dan Panaikang
Pelaksanaan assessment di dua desa yakni Kabba dan Panaikang, kedua desa masuk dalam wilayah Kecamatan Minasatene yang menjadi target piloting isu tematik Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (KIBBL) berlangsung pada Kamis (11/11). Rangkaian program ini merupakan kelanjutan program USAID MADANI di Pangkep di mana Lembaga Demokrasi Pangkep (Lekrac) merupakan Lead Partnert (LP).

“Assesement ini untuk mendapatkan gambaran umum mengenai kondisi dua desa terkait data awal mengenai pelayanan KIBBL,” tukas M Arif Alif, Direktur Eksekutif Lekrac melalui saluran telepon karena tak bisa mengikuti kegiatan.

Assessment pertama dilakukan di Desa Kabba yang berlangsung pada pukul sembilan pagi. Hadir sejumlah stakeholder desa seperti ketua BPD, LPM, Kepala Dusun, perwakilan kader Posyandu, Bidan Pustu, dukun mitra dan ibu hamil sebagai penerima pelayanan KIBBL.

Karya Djusaib, Kabid Sosbud Bappeda Pangkep yang hadir di Kabba menyampaikan jika Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau sudah mencanangkan zero stunting. “Jadi, kita harus bekerja keras menangani peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak,” paparnya.

H Kamiluddin, Ketua BPD Kabba dalam sambutannya mengatakan kalau pemerintah Desa Kabba belum memiliki regulasi khusus terkait pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir. “Kita hanya mengacu pada aturan dari atas, baik dari Dinas Kesehatan maupun dari Puskesmas,” ungkapnya.

Sjam Moedji, Fasilitator lapangan Lekrac yang memandu jalannya assessment di dua desa memantik partisipasi peserta melalui dialog interaktif. “Sebenarnya kami menyiapkan tools assessment yang telah disusun oleh tim kerja, tetapi situasi di lapangan tidak memungkinkan metode itu diterapkan karena akan membuat peserta kaku,” terangnya.

Siasat menggali informasi berlangsung cair sehingga durasi assessment tidak terasa karena peserta aktif menyampaikan pendapat.

Secara bergantian, Junardi Jufri, Field Coordinator (FC) Madani Pangkep juga memandu jalannya kegiatan. Pak Ju, demikian ia disapa aktif berdialog dengan peserta. “Kegiatan ini untuk menggali informasi dari desa untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang akan diusulkan ke pemerintah kabupaten hingga provinsi,” jelasnya.

Usai assessment di Kabba, tim program Lekrac bersiap ke desa tetangga, Panaikang. Hujan yang mengguyur tidak menjadi penghalang. Segera setelah menyelesaikan kebutuhan laporan, tim menuju Panaikang yang berjarak sekitar kurang lebih 2 km melintasi jalanan yang basah.

“Saya mewakili pemerintah desa mengucapkan selamat datang di desa kami,” ujar H Muh Arif, SE Kades Panaikang dalam sambutannya. Kedatangan tim kerja tentu sudah diakrabi mengingat sebelumnya pada September lalu sudah dilakukan sosialisasi awal.

Sama seperti di Kabba peserta yang hadir juga berasal dari unsur stakeholder desa, Posyandu, Pustu, dan perwakilan kelompok masyarakat.

Di akhir kegiatan dilakukan penandatanganan MoU komitmen aksi bersama pelaksanaan piloting di dua desa karena akan dibentuk kelompok kerja kolaboratif desa sehat yang akan diharapkan terus berlanjut meski program telah selesai.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar