Sabadesa Dorong Partisipasi Masyarakat Dalam Penurunan AKI-AKB Melalui Kegiatan FGD

Gambar untuk Sabadesa Dorong Partisipasi Masyarakat Dalam Penurunan AKI-AKB Melalui Kegiatan FGD
Dalam rangka mendorong partisipasi masyarakat dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir dan stunting di kabupaten sukabumi, sabadesa mengadakan focus grup discussion tentang pendampingan desa dalam rangka peningkatan layanan sosial dasar. Kegiatan tersebut di hadiri oleh 20 orang peserta yang terdiri dari pendamping desa, Pemerintah desa, forum KPM, HIMPAUDI, kader posyandu, pengelola paud dari 4 desa, yaitu desa jayabakti Kec. Cidahu, Desa sundawenang, Desa Palasarihilir Kec. Parungkuda dan desa cibunarjaya kec. Ciambar.
Kegiatan ini dilaksanakan di aula kantor desa sundawenang pada tanggal 9 juni 2021 dengan di isi oleh 3 narasumber yaitu dr. Oong Riyanto Wijaya dari dinas pengendalian penduduk dan keluarga berencana (DPPKB), Wahyudin Sumpeno dari Konsultan bank dunia, dan Iman Ruhiyat dari Dinas pemberdayaan masyarakat dan desa (DPMD).
Acara dimulai dengan sambutan dari direktur sabadesa bayu permana, dalam sambutannya bayu menyampaikan bahwa sabadesa sebagai organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam SIMPONI (Simpul Belajat CSO untuk Sukabumi) terus mendorong keterlibatan dan partisipasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam meningkatkan layanan sosial dasar di setiap desa dampingannya. Ungkapnya.
Setelah pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para nara sumber. materi pertama tentang “sosialisasi kesehatan reproduksi untuk kelompok kegiatan dalam akselerasi sukabumi sehat“ yang disampaikan oleh dr. Oong Riyanto Wijaya. dalam paparannya dr. Oong menekankan kepada semua pihak tentang pentingnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi sehingga dapat menekan angka kematian ibu dan bayi serta stunting. dr. Oong juga berharap para peserta dapat membantu pemerintah dalam mensosialisasikannya kembali kepada masyarakat dalam kegiatan di posyndu.
Kemudian materi selanjutnya disampaikan oleh Wahyudin Sumpeno, seorang konsultan yang sedang melakukan yang sedang melakukan penelitian dalam untuk mendapatkan gelar doktoralnya di universitas Pakuan Bogor. Dalam pemaparannya wahyudin menjelaskan bahwa dana yang dialokasikan untuk layanan sosial dasar oleh pemerintah desa itu rata-rata baru 2,5% dari dana desa yang diterima, padahal kementerian keuangan mengamanatkan 10% dana desa yang diterima harusn dialokasikan untuk peningkatan layanan sosial dasar. Tuturnya.
Materi terakhir disampaikan oleh Iman Ruhiyat selaku kasi pelayanan sosial dasar dari dinas pemberdayaan masyarakat dan desa yang menyampaikan bahwa untuk meningkatkan layanan sosial dasar mesti terpenuhi kebutuhan dasar dari masyarakat mulai dari sarana air bersih, pengelolaan sampah yang baik serta sarana dan prasarana yang memadai, sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan sosial dasar. Pungkasnya

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. MALEAN SAMPI

  2. Dewata Kite Festival (Festival Layang-layang Pulau Dewata)


Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar
  2. 3
    Komentar
  3. 2
    Komentar

    Pisang Goreng Mbah Mis

  4. 2
    Komentar