Petani Sayur Kampung Tala dan Upaya Melestarikan Pertanian Organik

3 0 353
Gambar untuk Petani Sayur Kampung Tala dan Upaya Melestarikan Pertanian Organik
Jalanan ke Kampung Tala nampak mulus, di sisi kiri dan kanan jalan sepanjang mata memandang area persawahan terlihat hijau. “Baru seminggu ini warga menyelesaikan tanam padi,” ujar Zainuddin Daeng Puli SP, Penyuluh Pertanian Kecamatan Labakkang.

Rabu, (23/6) Lembaga Demokrasi Celebes (Lekrac) menyambangi Kampung Tala, Desa Patalassang. Sepekan sebelumnya, Syamsuddin, Penanggung Jawab Program telah melakukan konsolidasi persiapan dengan tim kerja yang akan terlibat dalam program.

Menurut Sjam Moedji sapaan Syamsuddin, Kampung Tala dipilih karena kelompok tani di sana aktif berkebun sejak 2015. “Saya melihat kelompok tani di Kampung Tala berkebun sayur bukan lagi untuk kebutuhan dapur–tetapi sudah berbasis ekonomi keluarga. Namun, informasi dari Zainuddin menjelaskan jika petani masih tergantung pada pupuk kimia,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan kalau fasilitasi pembuatan pupuk organik ini merupakan upaya dalam mendukung pertanian berbasis organik. Hal ini juga sejalan program penyuluhan pertanian yang diungkapkan Zainuddin.

Dasar inilah sehingga Kampung Tala dipilih untuk dilakukan fasilitasi pembuatan pupuk organik. Dalam pembukaan kegiatan, Takdir S Sos, Kasi Pemerintah Desa Patalassang menyampaikan terima kasih dan mengimbau kepada kelompok tani agar nantinya mampu menerapkan konsep pertanian berbasis organik. Di kesempatan yang sama, Zainuddin menjelaskan kalau kelompok tani yang saat ini mengikuti pelatihan bernama Kelompok Tani Wanita Mawar yang semua anggotanya adalah perempuan dan fokus pada pertanian sayur.

Kegiatan ini sendiri terselenggara atas dukungan Yayasan Hadji Kalla. “Pihak Yayasan menyampaikan kalau proposal yang kami ajukan mendapat dukungan,” Kata Hamriah, Direktur Keuangan Lekrac dalam pembukaan kegiatan.

Proses berjalannya fasilitasi dilakukan di tepi kebun sayur yang seketika berubah menjadi ruang kelas terbuka. Begitu rombongan tiba, warga sigap membantu mengatur jejeran kursi tanpa dipinta. Kursi plastik diturunkan dari atas rumah panggung dan mengopernya kepada yang lain yang sudah menanti di bawah tangga. Kerja kolektif ini dilakukan oleh lelaki dan perempuan. Semuanya berjibaku menyiapkan sarana pendukung yang dibutuhkan.

Sjam Moedji yang memandu jalannya pelatihan memulainya dengan memantik ingatan petani tentang apa apa saja yang ditanam di kebun. Dengan demikian, petani menyebutkan satu persatu jenis tanaman sayur yang segera dicatat Sjam Moedji di kertas plano. Selanjutnya, petani diminta menjelaskan proses bertanam sayur mulai dari awal. Merespons itu, para petani saling menyambung penjelasan. Sampai kemudain Sjam Moedji memotong pembicaraan ketika terdengar penjelasan penggunaan pupuk kimia. Rupanya, itu strategi yang coba dilakukan Sjam Moedji untuk masuk ke pembahasan penggunaan dan pengelolaan pupuk secara mandiri yang bahannya bisa didapatkan dari lingkungan sekitar.

“Tabe, masih ingatki yang namanya pupuk indering,” ucap Sjam Moedji dalam dialek Makassar. Jenis pupuk kimia yang dimaksud marak digunakan petani sejak dulu. Secara perlahan Sjam Moedji menjelaskan hal ikhwal pupuk kimia dan dampaknya. “Tidak hijauki, Pak daun sayur kalau tidak pakeki pupuk,” sela salah satu petani. “Nah, itumi yang saya mau tunjukanki, ada cara lain dan kita bisa bikin pupuk sendiri dan tanaman sayurta lebih subur,” jawab Sjam Moedji.

Peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok untuk mempraktikkan proses pembuatan pupuk. Pertama, pembuatan pupuk untuk pertumbuhan (vegetatif). Kedua, untuk pembuahan (generatif). Ketiga, pembuatan pestisida nabati. Jawariah, Ketua Kelompok Tani Wanita Mawar menuturkan kalau proses pembuatan pupuk rupanya sederhana. “Sejumlah bahan yang digunakan tumbuh di sekitar rumah seperti daun gamal yang baru saya tahu,” ujarnya.

Dalam fasilitasi lebih lanjut, Sjam Moedji akan kembali meninjau pupuk yang telah diolah tersebut untuk memastikan dapat digunakan. Muzakkir S Sos, Kasi Kesra Desa Patalassang menyampaikan semoga kegiatan fasilitasi bisa terus dilanjutkan.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Bukit Seguntang Adalah Ulu Melayu

  2. Games Sore bersama Mahasiswa Bhayangkara


Komentar Terbanyak

  1. 7
    Komentar
  2. 5
    Komentar
  3. 4
    Komentar
  4. 4
    Komentar

    Kehumasan ? Bukan Sekedar Antar Surat