Mengenang Satu Abad Flu Spanyol 1918

1 0 279
Seratus tahun lalu, sebelum virus corona merebak dunia termasuk wilayah nusantara pernah dilanda pandemi flu spanyol. Wabah yang sangat mematikan ini diperkirakan menyebabkan 1,5 juta penduduk nusantara yang kala itu masih bernama Hindia Belanda meninggal dunia. Kini pandemi covid saat ini mengingatkan kembali betapa dahsyatnya kedua pandemi tersebut.

Satu abad lalu seluruh dunia telah mencatat kejadian luar biasa wabah flu spanyol yang menewaskan hampir 20% penduduk dunia, tidak terkecuali Indonesia (dulu Hindia Belanda). Kini kejadian pandemi covid yang saat ini masih terjadi seakan mengingatkan kembali ke belakang kejadian satu abad lalu.

Kantor Arsip Nasional mencatat bahwa awal mula penyebaran Flu Spanyol di Indonesia yang saat ini dikenal sebagai Hindia Belanda terjadi pada periode Juli-September 1918 di beberapa tempat seperti Pangkatan (Sumatera Utara) kemudian menyebar keJawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan sangat cepat. Berbagai cara telah ditempuh oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu untuk mencegah pandemi flu Spanyol meluas.

Media CNN mencatat Flu Spanyol ini merenggut nyawa jutaan orang sejak Maret 1918 sampai September 1919. Mengutip Historia, CNN menjelaskan bahwa seorang pakar virologis asal Amerika Serikat, Jeffery Taubenberger sampai sampai menyebut jenis flu spanyol ini sebagai 'The Mother of All Pandemics'.

Menurut Epidemiolog Australia yaitu Juergen Mueller dan Niall Johnson korban tewas mencapai puluhan sampai 100 juta orang menurut data dari dua orang , yang mana kematian terbesar terjadi pada balita, orang berumur 20 hingga 40 tahun dan 40 sampai 70 tahun. Artinya, dalam kurun waktu Maret 1918 sampai September 1919, Flu Spanyol telah merenggut nyawa sekitar dua persen populasi dunia yaitu 1,7 miliar orang. Maka para epidemiolog menyimpulkan bahwa Flu Spanyol merupakan jenis virus yang paling mematikan dan jauh lebih berbahaya dari cacar, pes, dan kolera.

Dikutip dari laman situs The Conversation, menunjukkan bahwa kasus Flu Spanyol pertama kali dilaporkan pada Juli 1918 namun baru terdeteksi pada September 1918. Sementara puncaknya pada akhir November 1918. Laporan selanjutnya menunjukkan bahwa tingkat kematian menurun cepat usai November 1918 tetapi ada kemungkinan virus kembali muncul di tingkat daerah. Selain itu menurut laporan BDG, dampak pandemi itu tersebar tidak merata di berbagai kecamatan di Jawa. Jawa Tengah, Jawa Timur, dan kota-kota di Jawa Barat saat itu menjadi daerah yang paling terdampak. Tingkat kematian Flu Spanyol di Indonesia tahun 1918 menurut data menyentuh persentase 35 persen. Angka kematian diperkirakan dari September 1918 hingga September 1919 berjumlah 906 ribu di Pulau Jawa. Artinya, total kematian sekitar 1,3 juta atau 2,5 persen dari jumlah populasi Indonesia waktu itu yakni 53 juta orang.

Kejadian pandemi saat ini seolah mengulang kembali wabah yang telah 100 tahun terjadi. Hampir sama situasinya, namun berbeda cara penanganannya..

Disarikan dari berbagai sumber :
Youtube / Metro TV (https://www.youtube.com/watch?v=j6Y4xGyMrZ0&t=10s)
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200520194821-199-505482/kilas-balik-flu-spanyol-tewaskan-jutaan-orang-ri-seabad-lalu
https://www.bbc.com/indonesia/dunia-52458628
https://nasional.kompas.com/read/2020/07/30/20314041/sejarawan-sebut-flu-spanyol-tewaskan-jutaan-orang-di-indonesia-karena?page=all

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar
  2. 2
    Komentar

    Pisang Goreng Mbah Mis

  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar