Memecah Kebisuan Lewat Teater Suara dan Suara

0 0 32
Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata Teater? Mungkin sebagian besar dari kita membayangkan bahwa teater adalah seni drama yang ditampilkan di atas pentas yang megah dengan gerakan, tarian, nyanyian, serta dialog dan akting dari para pemainnya, yang sudah terlatih secara profesional.

Tetapi tahukah anda, ternyata teater bisa dijadikan sebagai salah satu metode pendidikan untuk pemberdayaan perempuan marginal. Seperti yang dilakukan oleh HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia) salah satu orgaisasi perempuan yang ada di Sumatera Utara. Sejak tahun 1999, bersama serikat-serikat perempuan yang menjadi anggotanya, HAPSARI membentuk teater Perempuan “Suara dan Suara” yang beranggotakan perempuan-perempuan desa dari nelayan, petani, buruh perkebunan dan pedagang kecil.

Sebelum mementaskan teater mereka berdiskusi bersama memilih cerita yang akan diangkat. Secara bersama-sama mereka membuat jalan ceritanya. Kegiatan ini difasilitasi oleh Riani, Ketua Pelaksana Harian (KPH) HAPSARI yang juga tidak mempunyai latar belakang pemain teater. Tetapi Riani mahir dalam memfasilitisi diskusi-diskusi untuk menggali tema cerita dengan calon pemain, memilih pemeran untuk melakonkan cerita, merancang alur cerita dan menyutradarai pementasan bersama komunitas.

Entah sudah berapa puluh kali teater Perempuan “Suara dan Suara” ini melakukan pementasan dengan tema cerita seluruhnya merupakan peristiwa-peristiwa nyata yang dialami oleh perempuan, baik sebagai istri, sebagai ibu, maupun sebagai warga masyarakat. Lokasi pementasan dilakukan di desa-desa dimana anggota teater berasal, juga pementasan di tempat-tempat strategis untuk menyebarluaskan gagasan perubahan sosial dan pembaruan masyarakat, seperti di kampus-kampus dan gedung kesenian.

Bagi para pemain teater “Suara dan Suara” menjadi permain teater tidak sulit. Mereka hanya dituntut untuk dapat merasakan sendiri bahwa ada masalah ketidak adilan, masalah kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan sebagainya yang sesungguhnya bukan takdir, jadi, dapat dirubah.
Berbagai permasalahan tersebutlah yang ingin mereka ”suarakan” kepada masyarakat luas, terutama kepada sesama kaum perempuan. Dengan menyuarakan persoalan-persoalan masyarakat melalui teater, mereka menginginkan tumbuhnya semangat atau solidaritas untuk saling menguatkan.

Pada tahun 2000, HAPSARI mengadakan sebuah workshop Teater sebagai Media Pendidikan dan Penguatan untuk Perempuan, dengan narasumber Lena Simanjuntak Mertes, (sutradara perempuan alumni IKJ, sekarang bermukim di Koln – Jerman. Dan sampai hari inipun Lena masih aktif membantu HAPSARI mengembangkan teaternya.

Masih banyak memang kelemahan yang harus diperbaiki, mengingat anggota teater Suara dan Suara bukalah orang yang memiliki latar belakang pemain teater. Tetapi setidaknya dengan adanya teater Suara dan Suara, kisah- kisah yang dialami oleh perempuan marginal bisa tersampaikan ke masyarakat luas.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Daftar CASN Pake Calo

  2. Workshop Disabilitas Jember


Komentar Terbanyak

  1. 8
    Komentar
  2. 8
    Komentar

    BEMETENG Punya Acara Hari Ini

  3. 5
    Komentar

    Workshop Disabilitas Jember

  4. 3
    Komentar

    Driver Delivery