LKTS Wakili Indonesia dalam Training Internasional Pengembangan Efektifitas Kerja OMS

2 0 61
Gambar untuk LKTS Wakili Indonesia dalam Training Internasional Pengembangan Efektifitas Kerja OMS
Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial (LKTS) Boyolali, menjadi salah satu lembaga yang diundang dalam Training Internasional Pengembangan Efektifitas Kerja OMS (Organisasi Masyarakat Sipil). Training yang diselenggarakan Asia Pasific Research Network (APRN), sebuah jaringan NGO yang berkantor di Quezon City Pilipina, mengambil tema โ€œCSO Development Effectiveness Southeast Asia Training; Promotion of the Istanbul Principles/CSO Development Effectivenessโ€. Kegiatan yang diadakan secara online ini berlangsung Senin-Jumat (26-30 April 2021).

Keterlibatan LKTS dalam training ini terkait jaringan kerja OMS yang pernah mendapatkan pendanaan dari Kinder Mission. Ini adalah Lembaga donor dari Jerman. Selain LKTS, organisasi lain dari Indonesia yang terlibat dalam acara ini adalah Front Mahasiswa Nasional (FMN) dan Walhi Sulawesi Tengah. Peserta training adalah hasil seleksi yang dilakukan penyelenggara. Jadi meskipun mendapatkan undangan, tidak sembarang lembaga bisa menjadi peserta, karena harus lolos seleksi.

Training dengan pengantar Bahasa Inggris ini berlangsung cukup menarik. Pembahasan sejak hari pertama tentang kerangka teori dan konsep tentang CSO dan prinsip-prinsip tentang CSO Development Effectiveness. Di samping juga membahas seputar Istanbul Principle. Training juga diisi dengan diskusi sharing pengalaman dan praktik effektifitas kerja-kerja organisasi, dalam advokasi dan pembelaan hak-hak masyarakat dari berbagai negara di Asia Tenggara.

Training ini berupaya mengiplementasikan prinsip-prinsip CSO Development Effectiveness untuk secara efektif dan efisien, melakukan kerja-kerja pembangunan dengan cara yang terbaik. OMS selama ini bekerja sebagai mitra pembangunan yang setara dengan pemerintah, melayani dan berdiri bersama konstituen mereka dalam perjuangan masing-masing. Konsep CSO Development Effectiveness ini terdiri dari berbagai macam konsep yang didasarkan pada Istanbul Principles (IP) yang berfungsi sebagai Code of Conduct bagi CSO.

Namun, setelah hampir 10 tahun, kerangka kerja CSO Development Effectiveness ini diabaikan oleh pemerintah. Selama ini OMS masih dihadapkan pada banyak tantangan. Tantangan itu antara lain, terus menyusutnya ruang untuk keterlibatan dan partisipasi, proses birokrasi yang semakin meminimalkan pergerakan OMS, dan memburuknya represi dan antagonisme kekuatan negara terhadap hak asasi manusia dan para pekerja pembangunan ini.

Atas kondisi itu, training diharapkan akan meningkatkan kapasitas OMS di Asia Tenggara untuk bekerja secara lebih effektif dan efisien, dalam mengawal kebijakan negara dan memperjuangkan hak-hak masyarakat melalui berbagai pembelajaran dan pengalaman dari strategi efektif yang pernah dilakukan.

Penyelenggaraan training ini didasari atas kondisi Pandemi COVID-19 yang menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam menghadapi krisis kesehatan global ini. Kesehatan masyarakat yang tidak dapat diakses dan hilangnya mata pencaharian yang meluas, telah memperburuk situasi sosial ekonomi masyarakat, terutama di Asia Pasifik. Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) selama ini telah turun tangan untuk mengisi kekosongan pemerintah dalam mengkonsolidasikan, mengadvokasi, dan menyediakan kebutuhan untuk komunitas di berbagai sektor yang selama ini terabaikan. Terlihat bahwa selama pandemi, OMS tanpa lelah telah memberikan informasi, pendidikan, penelitian dan dukungan advokasi kepada konstituen. Hal itu dilakukan untuk mengatasi masa-masa sulit yang dihadapi dengan krisis kesehatan dan sosial ekonomi saat ini.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler


Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar