Lembaga Demokrasi Celebes gelar Nobar Kinipan

1 0 261
Sejumlah pelanggan setia Warkop Shiniki siang itu, Minggu, 4 April sedikit heran melihat kesibukan Saharuddin Tola, Owner Shiniki sedang menyetel Infocus agar bisa memantulkan tampilan dari laptop. Mungkin saja info nonton bareng (nobar) film tidak diketahuinya karena memang jumlah peserta dibatasi.

Nobar film dekumenter berjudul Kinipan produksi Global Film-Whatcdoc yang diinisiasi Lembaga Demokrasi Celebes berjalan sesuai dengan rencana dan berlangsung khidmat. M Arif Alif, Direktur Eksekutif Lembaga Demokrasi Celebes menerangkan kalau nobar ini merupakan program taktis saja karena ada peluang menggelarnya dengan mematuhi persyaratan yang ditawarkan pihak produksi film.

Kinipan mengisahkan tentang pandemi, omnibus law, dan lumbung pangan yang disajikan perbab layaknya sebuah buku untuk memudahkan penonton memahami tema yang diangkat. Film garapan Indra Jati dan Dandhy Laksono ini dipandu dua sosok lelaki gondrong, Basuki dari Kalimantan Tengah dan Fery Irawan dari Bengkulu sebagai pengarah alur kisah sehingga penonton mudah memahami pesan yang disampaikan.

Bagian awal film menampilkan kiprah Basuki bersama sejumlah warga sedang menanam pohon di sebuah lahan eks perusahan sawit. Kegiatan itu sudah 17 tahun dilakukan sebagai upaya pemulihan lahan di Desa Kinipan, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah.

Dari Desa Kinipan penonton diarahkan untuk mengelilingi daerah lain yang ada di Kalimantan sampai ke Bengkulu sebagai perbandingan kisah tentang kondisi masyarakat lokal yang terabaikan dan tersingkirkan. Begitupun kondisi hutan yang telah dieksploitasi besar besaran

Film berdurasi 2,5 jam ini memperlihatkan bagaimana warga Kinipan berkomitmen menjaga hutan adat di tengah eksploitasi hutan oleh perusahaan sawit. Hutan adat yang selama ini dijadikan pemukiman dan lokasi untuk kelangsungan hidup mereka dengan bercocok tanam dan berburu sudah dibatasi ruang geraknya.

Kritikan terkait kebijakan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Lingkugan Hidup (KLH) telah gagal dalam memulihkan lingkungan hidup karena mengabaikan peran serta warga lokal dan justru pemerintah melapangkan jalan bagi rusaknya hutan di Indonesia

Dalam film ini juga menceritakan proyek Food Estate dengan membandingkan proyek penciptaan sawah lahan gambut di era Presiden Soeharto yang dianggap tidak refrensentatif dengan kondisi alam. Lewat Basuki, ia mengkritik konsep pertanian tersebut dan sebaiknya diterapkan secara terpisah daripada membuat konsep pertanian terpusat dalam skala yang luas.

Kita menyaksikan bagaimana warga lokal terus berjuang untuk memperoleh hak atas tanah dan hutan adat mereka hingga menjadi isu nasional. Viralnya video penangkapan Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan, Effendi Buhing sehingga Najwa Shihab mengundangnya untuk hadir dalam talkshow Mata Najwa dengan tema Hukuman Suka-Suka yang tayang tahun lalu.

Yuyu, salah satu staff Yasmib yang hadir nobar mengatakan bahwa apa yang terjadi di Kinipan baru ia ketahui secara detail setelah menonton film. Sedangkan Muhammad Agung, mahasiswa Universitas Dipa Makassar, mengungkapkan bahwa setelah menonton banyak pesan moral yang didapatkan, utamanya bagaimana menjaga dan melindungi hutan dengan baik.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. SD Negeri Cikandang 02 - Kersana

  2. Lowongan DAILY WORKER JAKARTA


Komentar Terbanyak

  1. 14
    Komentar
  2. 9
    Komentar

    Lowongan DAILY WORKER JAKARTA

  3. 7
    Komentar
  4. 6
    Komentar

    Lowongan DAILY WORKER BEKASI