Ketika Pantai Tak Berombak Maros Menjadi Lengang

3 0 361
Gambar untuk Ketika Pantai Tak Berombak Maros Menjadi Lengang
Ramadan yang telah lewat terasa berbeda. Tidak ada ngabuburit, tarawih, dan bukber. Di Kabuapaten Maros, Sulawesi Selatan. Tempat yang menjadi ngabuburit paling favorit oleh warga adalah pantai tak berombak (PTB) yang terletak di tengah kota.

Sejak sebulan lalu, Pemkab Maros turut mengeluarkan imbauan untuk mengurangi aktivitas di luar, utamanya di tempat keramaian. Prosedur ini menjadi wajib ditaati sebagai bentuk antisipasi memutus penyebaran Covid-19.

Di lokus ini, selain terdapat taman kota, pusat kuliner, kantor Pemkab, juga masjid Almarkaz Maros. Semua ditata dalam satu kawasan terpadu yang memudahkan akses bagi pengunjung. Andai tidak ada pandemi Covid-19, maka PTB ini menjadi lokasi ngabuburit sekaligus menggelar bukber dengan kawan komplotan di bulan Ramadan.

Pengunjung cukup memarkir kendaraan dan berjalan mengelilingi area PTB mencari menu yang digemari atau memilih sudut yang diigingkan untuk berswafoto. Lalu mengapa disebut pantai tanpa ombak. Di katakan demikian karena pantai yang dimaksud bukanlah pantai layaknya di tepi laut. Melainkan merujuk pada kolam buatan yang luasnya melebihi lapangan sepak bola.

Jejeran gerobak dan warung tenda di sisi jalan pinggiran PTB mulai tidak nampak. Padahal, sebelumnya, ketika situasi masih normal, para pedagang mulai memasang tenda sebelum suara azan ashar terdengar dari masjid Al Markaz. Dan, pengunjung sudah bisa datang duduk memesan menu yang digemari di sore hari.

Geliat ekonomi di kawasa PTB ini berlangsung dari pagi hingga malam. Di pagi hari, sejumlah warung tenda menyediakan menu sarapan berupa nasi kuning atau bubur kacang ijo. Memasuki siang hari, kawasan ini bisa juga menjadi pilihan mencari menu makan. Para pegawai Pemkab dan karyawan swasta biasanya berdesakan di warung prasmanan atau warung makan yang lain.

Darwis, seorang karyawan swasta yang saya jumpai bercerita. Sebelum Ramadan, ia membekali diri dengan membawa menu makan siang ke kantor. Hal itu dilakukan untuk mengurangi makan di luar. Biasanya, ia dan teman sekantornya mencari makan di kawasan PTB. “Istri saya khawatir kalau keluar ke warung makan. Jadi ia menyiapkan makan siang.” Ujarnya. Rutinitas itu berakhir ketika memasuki Ramadan.

Di tengah ketidakpastian kapan pandemi ini berakhir. Para penjaja makanan di PTB tentu harus memutar otak melanjutkan bagaimana cara melanjutkan aktivitas ekonominya. Ada yang mencoba peruntungan menjual dagangannya dengan metode pesan antar.

Rahmawati, salah satu pedagang di PTB mengiklankan dagangannya di Facebook. Lewat statusnya ia siap melayani pesan antar di sekitaran Maros. Ia berharap para pelanggannya yang dulu sering singgah memesan sarapan di warung tendanya tetap mengetahui kalau ia tetap berjualan dari rumahnya.

“Berjualan satu-satunya pekerjaan saya. Karena itu saya harus tetap menjual meski pendapatan tidak seperti dulu.” Ungkapnya lewat obrolan di WhatsApp.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Bukit Seguntang Adalah Ulu Melayu

  2. Games Sore bersama Mahasiswa Bhayangkara


Komentar Terbanyak

  1. 7
    Komentar
  2. 4
    Komentar
  3. 4
    Komentar
  4. 4
    Komentar

    Kelurahan Brontokusuman Ramah Anak