Fenomena dalam Pemilihan RT/RW

2 0 387
Gambar untuk Fenomena dalam Pemilihan RT/RW
Fenomena dalam Pemilihan RT/RW cukup beragam. Fenomena tersebut menunjukkan dinamika masyarakat di suatu wilayah. Sebagian masyarakat memandang, pemilihan RT/RW sebagai media belajar berdemokrasi bagi warga. Sebagian yang lain, memandang sebagai ajang  mencari kesalahan pengurus RT/RW, yang kemudian menghakiminya.

Fenomena dalam pemilihan RT/RW tersebut, disampaikan Kepala Bagian Tata Pemerintahan (Kabag Tapem), Tokhid dalam sosialisasi pemilihan pengurus RT/RW, di ruang Mufakat Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta, Senin (4/10/2021).

Tokhid dalam paparannya menyampaikan, fenomena dalam pemilihan RT/RW antara lain, Pertama Kesulitan dalam mencari calon ketua RT maupun RW yang kompeten, yaitu yang mau dan mampu  melaksanakan tugas dan fungsi sebagai pengurus RT/RW. Lebih-lebih pengurus RT/RW yang familiar dalam teknologi informasi, misalnya familiar dengan aplikasi Jogja Smart Service (JSS).

Kedua, mencari calon ketua RW yang kompeten sulit, karena sudah dipilih sebagai ketua RT terlebih dahulu. Hal ini terjadi, karena proses pemilihan Ketua RT dilakukan terlebih dahulu, sebelum pemilihan Ketua RW. Sedangkan, ketiga, calon ketua RT/RW dari unsur perempuan masih terbatas. Perempuan oleh sebagian warga dipandang sebagai obyek dan memiliki kemampuan terbatas. Lebih-lebih dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagai Pengurus RT/RW.

Fenomena keempat, calon dari generasi muda juga masih terbatas. Untuk itu, perlu diberi ruang dan kesempatan seluas-luasnya bagi generasi muda menjadi pengurus RT/RW.

Sementara, Abdul Razaq, Ketua LPMK Kel. Wirogunan menyatakan dalam setiap pemilihan ketua RT, umumnya warga masyarakat kurang antusias, bahkan terkadang sepenuhnya menyerahkan kepada tokoh atau perwakilan untuk memilih siapa saja, asalkan ada yang mau jadi ketua RT/RW.

"Ada yang mau menjadi Ketua RT/RW, sudah bersyukur. Tidak jarang Ketua RT/RW lama dipilih kembali, bahkan dipaksa kembali oleh warga untuk melanjutkan sebagai Ketua RT/RW, karena warga tidak ada yang mau menjadi Ketua RT/RW", kata Razaq dalam dialog menanggapi pertanyaan peserta sosialisasi, Senin (4/10/2021).

Ia menambahkan, dalam pemilihan RT/RW, warga tidak mau mencalonkan diri sebagai calon Ketua RT/RW. Disamping itu, ada sebagian warga yang memilih tidak hadir dalam pertemuan, agar tidak dipilih sebagai Ketua RT/RW.

Tidak jarang, warga sering menunjuk orang lain, untuk menghindari dirinya dipilih sebagai Ketua RT/RW. "Berbagai argumentasi subyektif, disampaikan oleh sebagian warga, guna menghindari dirinya, dipilih sebagai Ketua RT/RW", imbuhnya

Berbagai fenomena tersebut diatas, yang pada akhirnya berpengaruh dalam proses pemilihan RT/RW. Tidak sedikit, Ketua RT/RW menjabat hingga lebih dari tiga periode.

Fenomena tersebut, hingga saat ini masih terjadi hampir di setiap wilayah di Kota Yogyakarta. Sebenarnya, peran ketua RT/RW sebagai penghubung masyarakat sangat dibutuhkan dalam menyampaikan berbagai informasi tentang kebijakan dan program Pemerintah. Begitupun sebaliknya, ketua RT/RW juga bisa menyampaikan berbagai aspirasi dan masukan masyarakatnya kepada pemerintah, selain tugas administratif.

Mensikapi fenomena tersebut diatas, semua pihak, tidak hanya pengurus RT/RW, namun Warga dan pemerintah perlu bersinergi dalam mencari solusi bersama. Kesadaran kolektif dalam memajukan wilayah, tidak hanya fisik, namun juga pemberdayaan masyarakat, perlu terus dilakukan oleh semua pihak. (KangRozaq)

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar