Ekonom Senior UI Serukan Boikot Bank yang Danai Batubara

2 0 434
Gambar untuk Ekonom Senior UI Serukan Boikot Bank yang Danai Batubara
Ekonom senior yang juga dosen di Universitas Indonesia (UI) Fasial Basri melalui akun twitternya menyerukan boikot bank-bank yang mendanai energi kotor batubara yang tak ramah lingkungan hidup. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa energi batubara menimbulkan emisi gas rumah kaca (GRK), penyebab perubahan iklim. Selain itu, limbah batubara juga berbahaya bagi kesehatan manusia.


"Kita boikot bank-bank BUMN maupun non-BUMN yang masih dan akan terus membiayai perusahaan para oligark, terutama perusahaan tambang batu bara yang sangat tidak ramah lingkungan. Saya akan mulai dari diri saya sendiri dengan menarik seluruh uang yang ada di bank-bank itu," ungkap Faisal Basri di akun twitternya @FaisalBasri, pada 11 Mei lalu, "Saya sudah mulai menarik seluruh saldo yang bisa ditarik di satu bank BUMN. Dua bank BUMN lagi menyusul."


Merespon seruan Faisal Basri tersebut, salah satu pengguna twitter meminta list bank-bank yang masih mendanai energi kotor batubara tersebut. "Mantap bang @FaisalBasri. Ayo kita semankin kencang menyuarakan seruan Tarik Uang dari Bank² tersebut. Jadi pertanyaan sekarang Bank Apa Saja yang membiayai perusahaan Tambang Batu Bara itu ? Tolong buat Listnya bang biar Semangkin masif dan tepat sasaran perlawanan kita," tulis akun twitter @Nicho_Silalahi pada 12 Mei 2021.


Jadi bank-bank apa saja yang masih mendanai energi kotor batubara, penyebab krisis iklim itu?


Sebuah lembaga berbasis di Jerman, mengeluarkan laporan selama periode Oktober 2018 hingga Oktober 2020, terdapat 6 bank yang masih memberikan pinjaman ke perusahaan batu bara yang terdaftar pada Global Coal Exit List (GCEL) 2020. Keenam bank nasional tersebut antara lain Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA, BTN, dan Indonesia Eximbank.


Menurut Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa Koordinator Responsi Bank, AH Maftuchan, total pinjaman tersebut senilai 6,29 Miliar USD atau senilai 89 Triliun Rupiah dan underwriting atau penjaminan emisi sebesar 2,64 miliar USD atau 16,6 Triliun Rupiah.


Organisasi lingkungan hidup internasional, 350.org, dalam siaran persnya menyangkan kebijakan bank-bank BUMN yang masih mendanai energi kotor penyebab krisis iklim. “Celakanya, bank-bank yang ikut mendanai batu bara itu adalah milik negara, salah satunya BNI,” ungkap Sisil Nurmala Dewi, Koordinator 350.0rg untuk Indonesia “Ironisnya, BNI yang selama ini menyasar nasabah anak muda justru mendanai energi kotor yang mengancam masa depan anak-anak muda.”


Perubahan iklim memang bukan lagi wacana. Bahkan beberapa organisasi lingkungan hidup kini menyebutnya sebagai krisis iklim. Bagaimana tidak, laporan Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel Climate Change/IPCC) di bawah PBB mengungkapkan bahwa pemanasan bumi terjadi lebih cepat dari perkiraan.


Dampak buruk krisis iklim tersebut juga mengerikan. Menurut Lembaga Riset Kebencanaan IA-ITB DKI, Jakarta dan 112 kabupaten/kota di Indonesia tenggelam. Sementara itu penelitian CIFOR (Center for International Forestry Research) mengungkapkan bahwa perubahan iklim akan mempengaruhi luasan lahan untuk tanaman kopi di masa depan. CIFOR memprediksi pada tahun 2050 jumlah lahan untuk tanaman kopi arabica akan berkurang hingga 80%.


Dari berbagai dampak mengerikan krisis iklim itu, menjadi relevan seruan ekonom senior Faisal Basri untuk memboikot bank-bank yang masih mendanai energi kotor batubara.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler


Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar