Efektifkah Program Studi Independen?

1 0 150
Gambar untuk Efektifkah Program Studi Independen?
Studi independen adalah salah satu program unggulan kampus merdeka, kampus merdeka sendiri merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Program ini ditunjukan untuk para Mahasiswa yang ingin mendapatkan kompetisi yang praktis yang juga oleh dunia usaha dan dunia bisnis, dimana seluruh universitas swasta dan negeri yang terdaftar pada PDDikti, yang dapat diikuti oleh setiap jurusan dari jenjang D3, D4, dan S1 dengan persetujuan dari Perguruan Tinggi masing-masing.
Program ini berjalan selama 1 hingga 2 semester lamanya, yang mana program ini setara dengan 20 SKS dalam bentuk hard skills, maupun soft skills dapat sesuai atau tidak sesuai dengan bidang keilmuan dari setiap pendaftar. Sehingga, diharapkan program ini didapat menjadi fokus utama setiap Mahasiswa belajar.
Namun bagaimanakah kenyataannya? Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap 8 orang peserta Studi Independen didapatkan bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi, diantaranya hasil wawancara yang didapatkan adalah :

Tidak semua Mahasiswa mendapatkan potongan SKS atau 20 SKS yang diharapkan dapat menjadi fokus mahasiswa ditolak oleh pihak universitas karena tidak sesuai dengan bidang keilmuan, dan atau hanya sebagian SKS yang dapat dikonversikan dalam kegiatan perkuliahan. Bahkan ada Mahasiswa yang merasakan beban 44 SKS karena tidak menerima konversi SKS selama 1 semester.

1. Tidak semua Mahasiswa dapat mengikuti pembelajaran, karena tidak sesuai dengan bidang keilmuannya.

2. Sulitnya menyelesaikan tugas, karena materi dan tugas yang diberikan sangat banyak dengan waktu yang sedikit ditambah adanya perkuliahan.

3. Mahasiswa belum mendapatkan uang saku yang dijanjikan/keterlambatan pembayaran uang saku, bahkan beberapa bulan.

Sehingga dengan adanya permasalahan itu, ada beberapa solusi yang didapatkan, diantaranya adalah :

1. Perlu adanya regulasi, dan lembaga pengawas antara pihak studi independen, dengan Kampus.

2. Perlu adanya koordinasi yang pasti agar dapat terjadinya persamaan persepsi antara pihak studi independen, dengan Kampus.

3. Jadwal kegiatan yang lebih diperhatikan dengan jadwal Mahasiswa, hal ini terjadi karena tidak adanya konversi 20 SKS secara merata pada setiap Kampus.

4. Perlu adanya transparansi, dan kejelasan pembiayaan Mahasiswa, karena terjadinya keterlambatan sehingga ada banyak mahasiswa yang menggunakan uang pribadi terutama untuk kuota internet.


Walaupun masih ada hal yang harus dibenahi dari studi independen gelombang pertama ini, respon yang didapatkan dari 8 Mahasiswa studi independen ini mendapatkan respon yang positif, terutama ada beberapa mitra yang menghadirkan beragam expert, dan ilmu yang dirasa perlu oleh setiap Mahasiswa, terdapatnya uang saku, dan adanya konversi SKS, dapat menambah pengalaman Mahasiswa agar siap menghadapi dunia kerja dan bisnis nantinya. Sehingga, untuk kedepannya diharapkan program ini dapat menjadi wadah Mahasiswa yang haus akan ilmu dapat lebih berkembang lagi dan lagi untuk menjadikan Mahasiswa yang dapat bermanfaat untuk Negara ini.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar