Data Survei untuk Penguatan Kebijakan KIBBL di Pangkep (Bagian Kedua)

5 1 253
Gambar untuk Data Survei untuk Penguatan Kebijakan KIBBL di Pangkep (Bagian Kedua)
Sepekan sebelum lebaran, tepatnya pada Rabu, 5 Mei 2021 lalu, YASMIB Sulawesi dan SB Mabaca yang merupakan anak kandung program USAID Madani di Pangkep melakukan persiapan akhir survei tentang KIBBL sebelum turun ke lapangan. Di hari yang sama, Dinas Kesehatan Pangkep meluncurkan program Pangkep Sijagai yang dihelat secara simbolik di Alun-Alun Citra Mas.

Dua pristiwa di atas tidaklah dibuat secara pararel melainkan berdiri masing-masing. Pangkep Sijagai merupakan penjabaran dari misi Pangkep Sehat yang sedang dibangun Bupati. Sedangkan survei yang akan dilakukan YASMIB Sulawesi bersama SB Mabaca adalah program tersendiri sebagai OMS yang mendapat dukungan dari USAID-Madani.

Survei menggunakan quesioner dan mendatangi langsung responden sesungguhnya merupakan pertaruhan sebab dilakukan kala Pandemi Covid-19 masih menjadi momok. Namun, dalam menjalankan tugas di lapangan surveyor tentulah memahami situasi dengan menerapkan standar protokol kesehatan.

Dialog dan Pembacaan Survei

Dialog merupakan satu metode dalam melakukan advokasi kebijakan publik. Dan, sebaik-baiknya advokasi perlu data pendukung yang bisa dipertanggungjawabkan. Hasil survei yang didiskusikan perlahan membuka tabir pelayanan kesahatan di Pangkep. Terungkap sejumlah pengakuan yang selama ini hanya menjadi buah bibir di masyarakat tentang situasi pelayanan.

Herlina, Plt Kadis DPPKB mengatakan jika Pemda sudah membangun sejumlah unit pelayanan di wilayah terpencil. “Saya melihat kalau petugas di pegunungan sudah cukup, yang menjadi tantangan memang wilayah kepulauan. Fasilitas sudah ada tetapi kadang petugas tidak di tempat khususnya di Kalmas dan Tangaya,” ungkapnya.

Jika merujuk hasil survei dengan pertanyaan kunci layanan kesahatan KIBBL yang perlu ditingkatkan, 61 (24 persen) dari 150 responden menjawab perlu ketersediaan layanan kemudian 48 (19 persen) menjawab perlunya peningkatan akses layanan, hal ini seturut dengan jawaban 39 responden (16 persen) pentingnya kecepatan layanan. Jadi, apa yang diungkapkan Herlina menemukan relasinya di lapangan.

Jika mengomparasikan dengan pertanyaan kunci persepsi warga terkait kualitas layanan KIBBL sedikit ditemukan anomali karena 96 responden (64 persen) menjawab puas, disusul 14 (9 persen) menjawab sangat puas dan 15 (10 persen) menjawab tidak puas. Sisanya menolak menjawab dan tidak tahu. Jawaban ini memiliki keselarasan dengan layanan yang disediakan lebih baik di mana kemudahan akses mendapat tanggapan 66 (18 persen) dan berbanding lurus dengan ketersediaan layanan (55 responden/15 persen), sesuai dengan kebutuhan (57 responden/16 persen).

Pada umumnya memang warga sudah mengetahui layanan KIBBL yang telah disediakan. 123 responden menjawab Ya dan 27 tidak mengetahui. Dalam setahun terakhir ini 92 menjawab melakukan akses dan 57 tidak. Ini melahirkan kekhawatiran tersendiri karena 57 responden tersebut menjawab tidak perlu. Asumsi dari survei disandarkan pada jarak (7 persen), 9 persen menangani sendiri, 9 persen menjawab petugas tidak berada di tempat.

Mengacu pada tingginya akses ibu hamil ke Puskesmas (78 responden/52 persen) 19 persen ke Pustu, dan 17 persen Posyandu menyiratkan kalau fasilitas di faskes di wilayah terpencil perlu ditingkatkan supaya tidak terjadi penumpukan di Puskesmas. Muh Asrul dari Puskesmas Bontoperak mengakui kalau tenaga bidan sudah banyak sisa distribusi sumber daya agar merata di setiap faskes dan perlu perbaikan manajemen supaya tidak ada tugas rangkap. Sambil terus melakukan perbaikan ia menilai kalau program Pangkep Sijagai bisa menjadi solusi menjawab kendala yang saat ini dihadapi dalam pelayanan kesehatan di Pangkep.

  1 Komentar

Tulis komentarmu...

Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. ECO.J, Juara 1 Anugerah Inovasi & Penelitian 2021


Komentar Terbanyak

  1. 7
    Komentar
  2. 6
    Komentar

    ECO.J, Juara 1 Anugerah Inovasi & Penelitian 2021

  3. 4
    Komentar
  4. 2
    Komentar