Bravo SAR DIY, "Avignam Jagad Samagram"

Gambar untuk Bravo SAR DIY, "Avignam Jagad Samagram"
Relawan SAR DIY 'Wong Edan'!

Oleh: Edo Segara

Please, jangan marah dulu ya kawan kawan SAR DIY. Ijinkan saya bercerita dulu, kenapa saya bilang mereka 'edan'. Sejak awal Maret diumumkan Covid-19 masuk Indonesia, Jogja termasuk kota yang dimasuki virus ini. Sampai saat ini (19/4/2020) tercatat saat ini ada 67 pasien positif Corona, dengan rincian 27 sembuh, dan tujuh orang meninggal dunia. Itu belum termasuk yang PDP dan ODP.

Nah, ternyata pekerjaan pemulasaran jenazah Covid-19 ini menjadi salah tugas BPBD DIY. Saya tahu betul jika beberapa orang di antara Tim Reaksi Cepat (TRC) di BPBD ini adalah relawan-relawan SAR DIY.

Oh ya, SAR DIY ini adalah lembaga pencarian dan penyelamatan orang dari swasta. Karena untuk yang plat merah atau resmi Pemerintah ada BASARNAS. Dengan begitu, pendanaan mereka juga didanai secara mandiri. Cak Nun sebagai Dewan Syuro SAR DIY pernah bilang, jika anak anak SAR DIY ini ahli surga semua. "Bayangin, tidak dibayar tapi arek arek iki gelem nulungin orang," ungkap Cak Nun saat memberi nasehat di saat syawalan dengan SAR DIY setahun yang lalu.

Tidak Ada Yang Berani

Saya ingat pada tanggal 30 Maret 2020 ada masyarakat Jogja yang tiba-tiba tergeletak di jalan saat kendaraan motornya berhenti di lampu merah titik nol kilometer Jogja. Tidak ada satu pun yang berani mendekat. Polisi? Petugas dari RS? Masyarakat, semua tidak ada yang berani. Akhirnya personel dari BPBD DIY yang datang mengangkutnya.

Tugas pemulasaran jenazah Covid-19 ini bukan tugas mudah. Dengan berpakaian tertutup harus menggali tanah dan memakamkan jenazah butuh energi yang besar. Mereka juga punya resiko tinggi tertular. Belum lagi cerita-cerita penolakan warga yang menolak mayat positif atau PDP karena Covid-19. Bahkan di daerah lain petugas pemulasaran jenazah dilempari batu.

Coba teman-teman, saya tantang untuk memakai hazmat, helm, masker dan kacamata tertutup bahkan dilakban untuk satu jam saja. Saya jamin anda akan basah kuyup penuh keringat. Sudah sebulan lebih mereka melakukan pekerjaan ini secara bergantian. Sungguh bukan pekerjaan mudah.

Aksi Heroik Anggota SAR DIY

Andry Susanto atau akrab disapa Tato termasuk salah satu relawan yang turun ke kawah Merapi untuk mengevakuasi jenazah Erri Yunanto (21), mahasiswa Univesitas Atma Jaya Yogyakarta yang mengalami kecelakaan terpleset masuk ke kawah Gunung Merapi.

Tato dan tim evakuasi dari berbagai organisasi melakukan penyelamatan kecelakaan tersebut. Masing-masing berbagi peran. 6 Orang di antaranya masuk ke kawah. Karena medannya vertikal, tim kecil ini menggunakan tali layaknya panjat tebing. Mereka turun perlahan hingga di titik 'blank 50'. Alhamdulillah evakuasinya berhasil.

Bagi banyak orang, aksi Tato dan relawan lainnya ini termasuk heroik. Tapi Tato tak mau disebut seperti itu. Ia mengaku hanya menjalankan tugas. Menurut dia, tidak ada yang lebih membahagiakan selain suksesnya evakuasi. Usai evakuasi pun, tidak ada perayaan khusus di kantornya.

Cerita-cerita heroik soal kiprah SAR DIY ini tentu banyak sekali, tapi tidak mungkin saya ceritakan semuanya. Saya cuma ingin bilang mereka ini 'Wong Edan'. Gak ada rasa takut dan tidak kenal lelah. Dan saya bangga ikut bergabung dengan komunitas ini.

Sampai detik ini mereka terus bekerja tiap harinya bahkan sampai larut malam. Meski kadang aksi mereka tidak berbuah penghargaan, tapi saya yakin Allah SWT mencatat pekerjaan mereka sebagai amal baik. Semoga pandemi ini segera berakhir dan mereka bisa berkumpul seperti biasanya dengan keluarga. Aamiin.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 4
    Komentar
  2. 3
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar